Ulasan Band Indie Indonesia (Bagian Satu)
Di Facebook, saya tergabung dengan kelompok penggemar band SORE. Setiap kali band tersebut melakukan kegiatan terkini, saya selalu mendapat berita lewat Inbox. Sekitar sepekan lalu, saya mendapat sebuah kiriman berita dari kelompok SORE dengan tautan yang berujung pada sebuah blog untuk kelompok musik indie dari Indonesia.
Setelah mengikuti tautan yang diberikan, saya mendapati itu adalah alamat blog yang mempromosikan kelompok musik indie Indonesia yang berbakat, Annemarie, Hazel Gazel, The Saymour, Bello and His Belly, Sindetosca, dan kompilasi album soundtrack Janji Joni. Selain mempromosikan band lewat tulisan pendek, blog ini juga memberikan akses bagi pembacanya untuk mengunduh beberapa rekaman gratis dari band-band yang disebutkan sebelumnya. Setelah mengunduh dan mendengarkan rekaman lagu digital format mp3 dari band-band indie Indonesia ini, saya berpendapat bahwa blog ini terlalu sayang untuk dilewatkan karena semua band yang dipromosikan adalah band-band hebat dan memiliki potensi berkembang yang sangat cerah. Bicara soal mutu lagu, secara umum, rekaman dari band-band ini digarap dengan sangat baik, seperti Hazel Gazel, Bello and His Belly, Cascade. Tidak semua nomor yang ditampilkan berbentuk lagu, ada juga yang dalam komposisi instrumental. Dari hasil penelusuran di internet, saya mendapati bila band-band yang dimuat dalam blog ini adalah kelompok musik yang sudah lama terbentuk sehingga kemampuan mereka dalam membuat lagu dan menghasilkan rekaman memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Hazel GazelIni adalah sebuah proyek musik terbaru dari tiga orang anggota band SORE dengan musisi lain dari berbagai aliran musik. Ada tiga lagu yang dibagikan secara gratis dan semuanya sangat bermutu tinggi. Di iTunes saya, saya memberikan empat bintang bagi Midday Lantern dan I Wearyour Light. Mutu rekamannya bagus lantaran Hazel Gazel diawaki oleh musisi yang jempolan dan mahir dalam bidang mereka. SORE gitu lokh, :) Vocak khas dari Ade Paloh yang lembut dan lincah dalam memainkan teknik falsetto sangat memikat hati. Kehebatan Mondo Gascaro dalam membuat komposisi rumit namun indah semakin tajam terasah, salut. Ketiga bakat dari Sore beserta David Tarigan serta Bonky Leboy berhasil membuat tiga komposisi yang mampu membuat orang awam mengiranya sebagai hasil karya band luar negeri. Annemarie
Band yang satu ini mengusung musik yang sederhana dan ceria. Kalau Anda tahu Mocca, maka Annemarie memiliki warna musik yang hampir sama, sekali lagi, hampir sama. Jika Hazel Gazel terasa berat, makan Annemarie memiliki melodi musik yang bisa diterima oleh siapa saja. Di iTunes saya, Bubble Gum dan The Living Model mendapatkan empat bintang. Satu lagi yang saya jagokan adalah Won’t Be Nice. Ketiganya adalah lagu favorit saya dari album band ini, ABC on TV. Lagu-lagu lainnya termasuk bagus dan masuk kategor sedang buat saya, tiga bintang. Sayangnya, meski band ini sudah terbentuk lama, beberapa kekurangan dari band ini masih terasa. Pertama, mutu vokalnya terasa rendah. Dengan pengalaman selama ini, harusnya vokalis dari band ini bisa berlatih untuk mengasah kemampuan vokalnya sehingga tidak selalu bernyanyi dengan suara rendah. Kedua, mutu rekamannya masih terasa sedang-sedang. Memang sih, merekam lagu dengan mutu tinggi tidak gampang. Biarpun begitu, band ini mestinya bisa mencari produser atau musisi berpengalaman yang bisa diajak bekerja sama dalam pembuatan album berikutnya. Bello And His Belly
Dari band yang satu ini hanya dua lagu gratis saja yang dibagikan. Warna musiknya seperti Adtiya Sofyan, cederung istrumentalis. Bedanya, komposisi musiknya sudah lebih kompleks. Mutu rekamannya juga baik, sepertinya band ini mendapatkan produser musik yang tidak kalah bagusnya pula. Hanya saja, saya merasa mutu rekaman vokal di kedua lagu ini terasa lebih rendah daripada rekaman instrumen musiknya. Padahal, lirik lagunya termasuk bagus. Kemampuan musikalitas band ini termasuk sangat baik. Para anggotanya saya rasa adalah musisi kawakan dan kaya akan pengalaman. Biarpun band indie biasanya berada dalam pengaruh band tertentu dari luar negeri, saya berpendapat Bello and His Belly sudah memiliki identitas musik sendiri. Biarpun cuma dua lagu, keduan-duanya termasuk bagus. Love in Blue Screen adalah yang paling saya sukai karena kehandalan vokalisnya dalam memain melodi suaranya. Sedang She Keeps Herself Invisible lebih menonjolkan komposisi musik. Ini benar-benar band yang bagus dan bermasa depan cerah. Cascade
Ini bukan band kacangan. Google menunjukan bahwa band ini sudah masuk dalam kompetisi LA Indiefest. Menang atau tidak, saya tidak tahu. Satu hal yang pasti, band ini memiliki banyak bakat hebat dari gitaris hingga vokalis.Nomor Midnight Sun bisa menunjukan hal tersebut dengan baik. Nomor lainnya yang saya rekomendasikan adalah Pieces of The World. Sisnya saya anggap lumayan. Kekurangan dari band ini berdasar lagu yang sudah saya dengar ada pada mutu rekaman yang sepertinya lebih menomor satukan suara instrumen daripada suara vokal. Saya terkadang mendengar vokal penyanyi seperti timbul tenggelam dalam alunan instrumen musik band. Bisa jadi, rekaman dari band ini dibuat oleh mereka sendiri tanpa menggunakan produser profesional. Terlepas dari itu semua, saya melihat kemampuan band ini untuk menjulang di ajang musik indie termasuk besar. Lanjutkan, :) The Saymour
Nah, yang satu ini adalah band Rock dengan pengaruh musik Punk. Setelah mendengar beberapa lagu, saya dapat merasakan warna The Clash, Back Home, serta Sex Pistol, I Can’t Decide It. Vokalis dari band ini ada dua dimana salah seorang mengikuti warna vokal dari Johnny Rotten. Sedangkan suara gitarnya seperti mengikuti nuansa dari The Rolling Stones. Mutu rekamannya terbilang baik meski saya merasa distorsi suara gitar terlalu dilebihkan sehingga lirik lagu yang dinyanyikan malah kurang terdengar. Padahal, orang tidak cuma mendengar melodi musi saja pada saat mendengar lagu. Warna musik dari band ini juga belum terlihat karena saya masih merasakan adanya pengaruh dari band-band luar negeri pada The Saymour. Saya harap, lewat perjalanan waktu band ini akan mampu menemukan jati dirinya sendir yang akan membuatnya berbeda dari tidak dianggap band amatiran.
Sindetosca
Wah, yang satu ini bisa disebut sebagai aliran eksperimentatif. Nomor-nomor yang dibagikan secara gratis ini termasuk berat buat penggemar pemula dari band indie. Buat yang sudah terbiasa dengan aliran musik progresif, makan album dari Sindetosca tidak akan memberikan kesulitanyang berarti. Secara umum, komposisi dalam album ini lebih memperlihatkan kemampuan dari sang awak band dalam menjelajahi kemampuan musikalitasnya. Saya tidak merasakan adanya sensasi istimewa dari setiap trek yang ada di album Sindetosca kali ini. Tapi, jika sudah matang, band ini akan mampu menbuat sebuah album yang akan menjulang hebat. Sekianlah ulasan saya dari band-band yang termuat dalam blog Halfgift ini. Saya bukan pemerhati musik profesional. Jadi, tulisan yang saya buat ini sepenuhnya didasarkan atas pendapat pribadi dari pengetahun dan pengalaman yang saya miliki. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut, silahkan mengunjunginya.

