Some Personal Thoughts

Some Personal Thoughts

Todo Sibuea  //  I am a systemic anomaly that is inherent to this universe. This is my personal blog where I express my thoughts on matters that cross my mind.

All of my articles here are protected under Copyright Law. If you want to use my article for your particular purpose, please inform me to get my confirmation. If you do get it, don't forget to give credit to me for the article you use.

Dec 8 / 8:14am

Jalur Khusus Sepeda: Akan Segera Diwujudkan

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Pemda DKI mulai berancang-ancang untuk mewujudkan keinginan atau impian dari para penggiat bersepeda ke kantor/sekolah. Pada 2010, Pemda DKI, tepatnya Jakarta Selatan, berniat mewujudkan jalur khusus sepeda dengan mengambil rute Lebak Bulus-Jalan Sisingamangaraja. Selain di tempat tersebut, beberapa area di Jakarta Pusat sudah mulai direncanakan untuk mendapat jalur tambahan khusus untuk sepeda.

Saya bukanlah penentang kegiatan bersepeda ke kantor (Bike to Work). Saat ini saya adalah pengedara sepeda motor yang aktif. Namun dulu, saya biasa mengendarai sepeda balap untuk jarak jauh. Berkendara dengan sepeda adalah suatu kegiatan yang baik--meningkatkan kebugaran raga, kesehatan jiwa, dan ikut mengurangi polusi udara. Hanya saja, usulan jalur khusus sepeda yang didengung-dengungkan penggiat Bike to Work selama ini terlihat kurang realistis saat dibandingkan fakta di lapangan.

Keberatan
Alasan yang sering dikemukakan oleh penggiat sepeda tentang perlunya jalur khusus sepeda adalah untuk melindungi pengendara sepeda dari pengguna jalan lain seperti pengemudi mobil dan pengendara sepeda motor. Mereka mengharapkan jalur khusus ini akan membuat pengendara sepeda bisa berkendara dengan nyaman dan hati tentram. Faktanya, kondisi jalan raya di kota Jakarta tidak layak untuk dikembangkan lebih lanjut, sudah mentok. Memperlebar ruas jalan sudah nyaris tidak mungkin, kecuali Pemda DKI punya banyak uang untuk membeli lahan milik gedung-gedung besar di pinggir jalan raya. Sudah jalan tidak bisa dikembangkan, pemilik kendaraan pribadi pun bertambah. Anehnya, orang sering mengeluhkan naiknya pemilik kendaraan sepeda motor sebagai penyebab kemacetan tanpa menyadari bahwa pada saat bersamaan pemilik mobil pun juga ikut bertambah. Sekarang, dengan banyaknya pertambahan pemilik kendaraan pribadi, jalanan juga menjadi lebih sesak dengan naiknya pengguna sepeda. Siapa bilang pengendara sepeda adalah pengguna kendaraan pribadi yang beralih moda transportasi? Nyatanya, memang ada pengendara sepeda yang sebelumnya adalah pengguna angkutan umum. Permasalahan menjadi semakin pelik lantaran sebagian ruas jalan utama Jakarta; Blok M-Kota, Ps. Rebo-Ancol, Sudirman-Pulo Gadung, Ragunan-Sudirman;dipakai pula untuk jalur Busway. Jadilah jalan yang sudah “sempit” menjadi “semakin sempit”. Contoh paling jelas dari penyempitan jalan ini terlihat pada ruas jalan daerah Ps. Rebo dan Sultan Iskandarsyah. Kondisi ini semakin diperparah dengan berkembangnya wacana untuk membuat jalur sepeda di atas trotoar pejalan kaki. Hei, berapa banyak ruas trotoar yang masih lebar untuk menampung pejalan kaki dan sepeda. Bahkan trotoar di jalan Sudirman saja kini sudah banyak termakan oleh tangga penyebrangan Busway.

Selain jalan yang sempit, jalur khusus sepeda belum bisa menjamin keamanan para pengendara sepeda sepenuhnya. Seperti yang disebutkan diatas, keberadaan jalur sepeda akan membuat beberapa ruas jalan menjadi sempit. Saya ragu bila pengguna jalan seperti pengemudi mobil, pengendara motor, dan supir bus/trus akan menyukai gagasan itu. Mereka pasti akan merasa kesal karena jalan yang sudah padat dan “sempit” menjadi lebih sesak lagi. Kalau sudah begini, siap-siap saja bila sepeda motor, bus kota, dan mobil pribadi mengambil jalur khusus sepeda untuk kendaraan pribadi mereka. Ini sudah terbukti di beberapa jalur Busway yang melewati daerah padat seperti Pondok Indah, Kampung Melayu, dan Kramat Jati, kendaraan pribadi berebut masuk ke jalur Busway. Huh, jalur Busway di Ragunan dan Warung Buncit saja masih dilewati oleh sepeda motor dan mobil pribadi. Jadi, apa mungkin jalur khusus sepeda ini akan membuat penggunanya aman? Masih ingat ketika pemerintah DKI mengharuskan motor menggunakan jalur kiri? Berapa lama kegiatan ini bertahan lama? Saya menjadi semakin khawatir apabila nanti dibuat pula jalur khusus untuk sepeda, tidak boleh dileawati oleh kendaraan lain. Ini cuma akan membuat jalan yang bisa dilewati menjadi semakin terbatas, karena sebagian kecil ruas jalan umum telah ditutup oleh portal, dengan alasan keamanan.

Berikutnya, tingkah laku pengguna jalan di Jakarta masih belum mengalami peningkatan yang berarti. Siapa bilang pengendara motor memiliki tingkah laku brengsek? Nyatanya, pengemudi mobil yang brengsek juga banyak--mulai dari mobil butut sampai mobil mewah ratusan juta rupiah. Pengendara sepeda sendiri banyak juga pengendara sepeda motor atau pengemudi mobil aktif. Kalau mereka saja brengsek di balik kemudi mobil atau setang motor, di atas jok sepeda bisa jadi sifat jelek itu tidak akan hilang. Saya pernah melihat pengendara sepeda yang pindah dari jalan raya ke trotoar pejalan kaki sambil melaju kencang, lebih parah lagi ada yang melompat dengan sepedanya dari jalan raya ke atas trotoar hingga mengagetkan pejalan kaki yang sedang melintas. Memang, manusia tengil ada dimana-mana, tidak peduli status sosial ataupun moda transportasi yang dipakainya. Betul saya pernah melihat pengendara sepeda yang mengalami intimidasi dari pengguna sepeda motor atau mobil di jalan raya. Karena mereka dianggap lambat dan menghalangi kendaraan saat kondisi jalan macet atau padat merayap, pengendara sepeda diintimidasi dengan cara diklakson keras-keras, dibentak, atau disalip sambil memutar grip gas kuat-kuat. Di lain kesempatan, ada juga pengendara sepeda yang kelewat agresif lantas berkelat-kelit di tengah kepadatan kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan apabila anda kendaraan lain dari belakang atau dari samping.

Penutup
Jalur khusus sepeda adalah hal yang baik. Di luar negeri, sudah banyak negara-negara yang menerapkan hal baik ini. Indonesia pun sudah perlu untuk membuat jalur-jalur serupa. Walaupun begitu, pembuatan jalur sepeda ini perlu diiringi dengan sikap realistis. Kalau mau membuat jalur khusus sepeda, buatlah jalur di jalan yang jarang, atau sangat jarang, dilalui oleh bus, sepeda motor, dan mobil pribadi. Selain itu, sikap berwacana haruslah diimbangi dengan kosep berpikir logis. Jangan pagi-pagi bicara soal trotoar yang dibagi dua untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda jika pada kenyataan kondisi trotoar justru sempit. Para pengendara sepeda juga diminta untuk bisa menertibkan perilaku mereka dan sesama rekan pengendara sepeda. Kalian mengeluh jika mendapat perlakuan tidak pantas dari pengguna mobil dan sepeda motor pribadi? Janganlah membalas dengna cara yang sama. Itu cuma akan membuat diri kalian sejajar dengan mereka yang brengsek. Kalau kalian berani menegur pengguna mobil atau sepeda motor, maka kalian juga harus sama beraninya dalam menegur pengendara sepeda yang ugal-ugalan. Tentang keamanan, selain meminta pemerintah menyediakan sarana berkendara sepeda yang aman, saya minta agar kalian juga mengamankan diri kalian sendiri. Pada masa kini, masih banyak terlihat pengendara sepeda yang menggunakan perlatan keamanan sebatas helm sepeda biasa. Ini masih kurang. Biar lebih aman, kalian harus pakai pelindung lutut, pelindung lengan dan sikut. Kalau perlu, pakai juga helm macam pengendara sepeda motor off-road.

Filed under  //  Bike to Work   Indonesia   Jakarta   jalur khusus   sepeda  

Comments (0)

Nov 7 / 3:11pm

Peta jalan kuliner Pesona Kuliner Depok

Halo lagi,

Setelah belajar dan mencoba beberapa kali, saya sudah berhasil membuat peta jalan dari tempat-tempat makan enak di daerah Depok. Peta jalannya belum lengkap tetapi sudah cukup baiklah. Secara berkala saya akan menambahkan beberapa tempat baru lainnya ke peta buatan saya. Silahkan diklik tautan di bawah ini dan mulailah penjelajahan kalian. :)

http://is.gd/4PQO2

Dan jangan lupa untuk mengunjungi alamat di bawah ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang tempat makan yang sudah saya buat di Google Map.

http://pesonakulinerdepok.posterous.com/

Terima kasih untuk perhatiannya, salam kuliner. ;)

Filed under  //  Depok   Indonesia   Pesona Kuliner Depok   peta jalan kuliner  

Comments (0)

Oct 14 / 9:31am

Membeli Macintosh Dengan Diskon Pendidikan

Hei teman-teman,

 

Sekarang kalian bisa membeli komputer Macintosh dari Apple dengan harga yang lebih murah dari harga normal. Jika harga MacBook putih di toko-toko berkisar 10-11 juta, kalian bisa mendapatkannya dengan harga lebih murah lagi dengan menggunakan fasilitas diskon pendidikan.

 

Fasilitas ini disediakan secara khusus oleh salah satu Apple Reseller di Jakarta, iBox Puri Imperium . Nah, tunggu apalagi? Ayo, pergi ke iBox Puri Imperium untuk menjajaki kemungkina pembelian komputer Macintosh. Modal kalian cuma Kartu Identitas Pelajar yang masih berlaku dari sekolah atau universitas tempat kalian belajar. :)

Filed under  //  diskon pendidikan   iBox   Indonesia   Macintosh   Puri Imperium  

Comments (0)

Jul 22 / 9:59pm

Cintailah Konsumen Dalam Negeri = Cinta Produk Dalam Negeri

Belakangan ini gerakan mencintai produk Indonesia kembali lagi digalakan, terutama pada masa kampanye Presiden kemarin. Turut serta dalam kampanye ini adalah Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, Kementrian Usaha Kecil dan Menengah, DPR, serta instansi terkait lainnya. Iklan untuk kampanye ini sudah beredar di televisi, yang menurut saya agak kampungan penggarapannya, dan radio. Kampanye cinta produk dalam negeri sebetulnya sudah lama sekali dilakukan. Ketika masih kecil, saya sering sekali mendengar iklan radio dari RRI untuk mencintai produk dalam negeri. Bahkan lagu pop “Singkong dan Keju” menjadi tenar sekali karena pesan cinta barang buatan dalam negeri yang diusungnya. Untuk jangka waktu yang cukup lama pun gerakan ini sudah dimulai dari tingkat yang sederhana di kalangan pegawai negeri dengan kebiasaan mengenakan baju motif Batik di hari Jumat.

Sayangnya, gerakan mencintai produk dalam negeri ini kurang mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat Indonesia. Biarpun, JK sudah menunjukan dia memakai sepatu kulit buatan dalam negeri toh masih banyak pula menteri dan anggota DPR yang lebih suka memakai sepatu kulit luar negeri. Contoh dari hal ini bisa dilihat ketika diadakan acara buka puasa atau halal bilhalal (tidak ingat yang mana) di istana negara pada tahun 2008. Waktu itu di Kompas muncul sebuah artikel kecil yang membahas sepatu-sepatu milik pejabat pemerintahan menjadi tamu pada acara di istana kala itu. Sebuah foto memperlihatkan kalau sepatu-sepatu yang dikenakan pejabat tinggi negara yang hadir di acara tersebut terlihat jelas sebagai buatan luar negeri. Dalam kehidupan masyarakat umum pun, kegemaran orang-orang membeli barang buatan dalam negeri juga terlihat jelas. Sekalipun rokok Sampoerna sudah beken, masih saja ada orang yang lebih suka mengisap Marlboro, seperti yang dilakukan oleh dua teman sekantor saya. Meskipun sudah ada laptop buatan dalam negeri seperti Axioo, BYON, ataupun Zyrex, masih banyak anggota masyarakat yang membeli SONY VIAO, Lenovo, Toshiba dan Acer. Perusahaan elektronik dalam negeri sekaliber Polytron saja masih mengalami kesulitan dalam mencuri hati masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur tertambat hatinya pada merek Jepang seperti SONY, Toshiba, Panasonic, atau Canon. Permasalahan tentang kurangnya minat masyarakat Indonesia dalam membeli produk anak bangsa bukan semata-mata disebabkan oleh kecintaan kami pada merek luar negeri melainkan karena kurangnya perhatian produsen terhadap keinginan konsumen: tidak memberikan barang yang bermutu, tidak menyediakan layanan purna jual, serta kurang mampu mengemas, menjual, produk yang baik.

Produk buatan Indonesia yang dijual di dalam negeri sering bermutu rendah dibandingkan dengan yang dijual di luar negeri. Saya akan kemukakan beberapa contoh kasus yang dimulai dari pengalaman teman saya sewaktu tingga di Kanada. Sewaktu dia mengikuti program pertukaran pelajar di sana, dia bercerita mengenai sebuah buku tulis bagus yang ia lihat di sebuah toko buku. Buku tulis itu sebetulnya sederhana saja dan tidak berbeda dengan buku tulis pada umumnya, tetapi mutu kertasnya sangat bagus sekali. Sewaktu ia melihat ke sampul belakang buku tersebut, dia terkejut sewaktu melihat tulisan Made in Indonesia. “Keren banget, buku tulis bagus ini ternyata buatan Indonesai!” kata teman saya. Sekejap kemudia dia langsung merasa heran karena buku bagus buatan dalam negeri ini ternyata tidak pernah ia temukan di toko buku manapun di Jakarta. Justru buku tulis produk lokal yang ada di tokok buku seperti Gramedia atau Gunung Agung malah tidak menyamai buku tulis Made in Indonesia yang ia temukan di Kanada. Mendengar cerita itu, saya langsung teringat pengalaman lucu Pak Bondan Winarno yang membeli gaun indah nan mahal di sebuah butik terkenal di Amerika dan, sewaktu pulang kembali ke Indonesia, mendapati kenyataan kalau busana tersebut adalah hasil produk Indonesia, seperti yang tertera di label baju (Seratus Kiat 1988). Anehnya, busana yang mutu sama baiknya, karya desainer Indonesia, justru sulit dicari. Contoh lainnya, di koran Kompas, saya pernah membaca artikel mengenai pengrajin kulit di Sidoarjo yang sudah biasa menerima pesanan dari label terkenal dunia--Gucci, Braun Buffel, Louis Voitton, Bally--untuk membuat produk kulit seperti sepatu, dompet, dan tas tangan. Saya sendiri sudah melihatnya secara langsung ketika berkunjung ke sana. Produk yang sudah dibuat nantinya akan ditempeli label merek di atas dan selanjutnya dikirimkan ke luar negeri dan dijual kembali. Hal ini bisa terjadi karena pengrajin kulit di Indonesia sudah dipandang mampu untuk memenuhi pesanan dari merek elit tersebut, tentunya kendali mutu juga dijaga ketat oleh para penyelia dari label di atas. Pertanyaannya, kenapa produk kulit bagus buatan Indonesia justru sulit ditemukan di pasar dalam negeri? Saya tidak heran dengan kenyataan ini karena memang sudah menjadi praktik jamak kalau konsumen di Indonesia di anak tirikan. Barang-barang bagus produksi anak bangsa lebih sering dijual ke luar negeri dengan alasan dapat dijual dengan harga mahal sekaligus menangguk keuntungan dalam Dolar atau Euro. Sementara kita yang tinggal di dalam negeri harus puas dengan barang produksi dalam negeri, dengan mutu kelas dua atau kelas tiga. Sepatu olahraga buatan dalam negeri yang saya pakai saat ini sudah mengalami penipisan cepat pada solnya, padahal baru dibeli empat bulan yang lalu.

Layanan purna jual terhadap barang produksi dalam negeri adalah hal lain yang membuat konsumen di Indonesia lebih memilih membeli merek asing. Di luar negeri, mayoritas perusahaan yang menjual barang atau jasa memiliki jalur telepon khusus pengaduan (Costumer Care) untuk melayani konsumen yang kurang puas dengan mutu barang yang dibelinya. Di Indonesia, berapa banyak perusahaan dalam negeri yang menyediakan jalur telepon pengadua atau layanan konsumen? Berapa banyak pula dari perusahaan ini yang mau menindak lanjuti setiap keluhan yang diadukan oleh konsumen? Teman saya yang pernah bermukim di Amerika satu kali berbagi cerita menarik dimana seseorang yang sudah membeli suatu barang memiliki hak untuk mengembalikannya serta mendapatkan uangnya kembali hanya karena ia tidak suka dengan barang tersebut. Katakanlah Anda membeli sebuah radio dan pemutar CD. Karena satu dan lain alasan, Anda tidak menyukai barang tersebut dan mengembalikannya serta mendapatkan uang kembali atas alasan tidak suka, bukan karena rusak. Adakah layanan seperti ini di Indonesia? Surat pembaca Kompas adalah tempat yang baik bagi Anda yang ingin membuktikan pernyataan di atas. Saya sendiri, dan juga banyak orang Indonesia, juga sudah kenyang dengan pengalaman membeli barang dalam negeri dan kemudian hari mendapat kenyataan kalau barang yang dibeli ternyata mudah rusak. Saat ingin mengadukan hal tersebut, kami bingung kemana harus mengadukannya karena, tidak seperti barang buatan luar negeri, produk dalam negeri banyak yang tidak mencantumkan nomor telepon di kotak dus yang dapat dihubungi untuk layanan konsumen. Dalam situasi ini, yang paling mudah dilakukan adalah pergi ke toko yang menjual barang tersebut. Hasilnya, 50-50, Anda mungkin akan mendapat produk pengganti atau si pemilik toko menyarankan untuk menghubungi penyalur (distributor) barang tersebut. Jika distributor itu baik, Anda akan mendapat pengganti tapi Anda juga bisa disuruh ke distributor lain, atau malah dilempar lagi ke toko tempat membeli. Sudah bolak balik seperti ini, habis waktu dan uang, barang rusak tidak kunjung jua diganti. Yah, sudah mutu barang kelas dua, layanan konsumennya pun juga kelas dua.

Cara mempromosikan, menjual, barang dalam negeri masih kalah menarik dari produk dalam negeri. Jika pengrajin kulit dalam negeri bisa memenuhi pesanan dari luar negeri, untuk label seperti Louis Voitton, maka mereka tentunya bisa membuat produk dengan mutu tinggi yang diberi label sendiri. Permasalahannya, jarang yang mau serius membuat merek sendiri dan tekun untuk mengembangkannya. Alasan mereka karena merasa ongkos pembuatan merek sendiri, pengembangan dan pemasarannya terlalu tinggi. Karena itu mereka lebih suka bekerjasama dengan merek yang sudah jadi dalam memproduksi kerajinan mereka. Sepatu olahraga buatan dalam negeri dapat menjadi contoh lain dari kurangnya perhatian terhadap keinginan konsumen. Untuk waktu yang lama, merek sepatu olahraga dalam negeri hanya menyodorkan sepatu dengan model yang itu-itu saja tanpa ada perubahan rancangan atau bahan sepatu dari tahun ke tahun. Meskipun sekarang produsen sepatu olahraga dalam negeri mulai mengikuti selera konsumen dengan mulai meniru merek-merek terkenal luar negeri--Adidas, Reebok, Nike--konsumen masih belum lagi melihat desain orisinal karya anak bangsa. Kalaupun ada upaya untuk menonjolkan ciri khas dalam negeri, hasilnya malah menjadi aneh, terkadang norak. Masyarakat Indonesia membeli barang luar negeri bukan karena faktor gengsi saja, tapi juga karena tertarik pada rancangan yang ditampilkan. Sepatu Adidas yang solnya tipis saja dibeli orang hanya karena suka pada rancangan sepatu dan bahan yang dipakainya, padahal harganya bisa mencapai 400 ribu rupiah.

Dari ketiga alasan di atas, bisa dipahami bilamana banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih barang buatan luar negeri daripada dalam negeri. Jikalau kita menginginkan kondisi berubah, maka produsen haruslah mulai dengan memberikan perhatian utama pada pasar dalam negeri. Orang Indonesia bukannya orang yang suka beli barang mahal atau bergengsi. Justru orang Indonesia lebih suka membeli barang yang bermutu. Laptop VAIO yang mahal saja dibeli orang karena mereka tahu harga dan mutu sebanding. Karena itu, mulailah memberikan kami barang-barang yang bermutu; handal, dapat dipertanggung jawabkan, digaransi, memenuhi kebutuhan pembeli. Jadi, jangan berika kami barang nomor dua. Kalau kami dikasih produk nomor dua, kamipun akan menduakan kalian. Selain itu, berikan juga nomor telepon layanan konsumen dengan mencetaknya pada buklet produk atau di kardus kemasan produk yang dibeli. Tentunya, nomor telepon itu janganlah hanya sekedar pemuas mata saja, tapi juga betul-betul berfungsi. Untuk setiap keluhan yang kalian terima, kami minta agar ada tindakan lanjutan. Jika penanak nasi (rice cooker) yang saya beli rusak, saya minta agar ada tindakan perbaikan atau penggantian dengan produk baru. Selanjutnya, produsen barang dalam negeri harus mau menginvestasika uang dalam bidang riset dan pengembangan produk. Janganlah terlalu pelit dengan uang yang didapat dari hasil penjualan kalian. Dirikanlah departeman khusus yang mengurusi bidang pengembangan produk. Kalian sewa itu ahli-ahli perancangan produk yang sudah lulus dari kursus merancang atau universitas. Sepatu Adidas atau Nike tetap dibeli karena konsumen selalu melihat hal baru dari barang-barang yang mereka jual setiap tahunnya. SONY dan Toyota juga tidak malu merekrut perancang busana untuk dipekerjakan di departemen penelitian dan pengembangan mereka, siapa bilang cuma insinyur yang bisa merancang dan membuat mobil. Contoh paling bagus dari produsen dalam negeri yang bisa melakukan ketiga hal di atas adalah Polytron. Polytron harus mempelajari cara merancang produk dengan bagus sebelum akhirnya bisa menarik minat masyarakat Indonesai dan juga menembus pasar luar negeri. Sebagai bukti, Polytron pernah mendapat penghargaan dari luar negeri untuk produk eletronik terbaik pada tahun 1996 atau 1997. Polytron juga berhasil meningkatkan layanan purna jual terhadap produk mereka. Bila ada barang yang rusak, barang tersebut pasti diperbaiki. Kalau dulu ada banyak surat keluhan konsumen terhadap Polytron di Surat Pembaca Kompas, kini jumlahnya sudah sedikit sekali. Quid pro quo, Anda ingin kami cinta produk dalam negeri, cintailah dulu diri kami.

Filed under  //  cinta produk dalam negeri   Indonesia   Kompas   Polytron   seratus kiat  

Comments (1)

Jun 25 / 4:36am

Debat Bukan Budaya Orang Indonesia

“Debat Yang Bukan Perdebatan”, kalimat itu adalah headline dari koran Kompas hari Jumat, 19 Juni 2009. Artikel tersebut mengulas acara debat presiden yang dilakukan pada malam sebelumnya yang mana juga disiarkan secara langsung lewat televisi dan radio. Sayangnya, acara debat yang dinanti-nantikan dengan penuh semangat oleh sebagian besar rakyat Indonesia menjadi anti-klimaks dari persaingan sengit dari para capres Indonesia yang selama ini terjadi dalam masa kampanye. Dalam masa kampanye para capres melakukan aksi saling menyerang terhadap hasil kerja masing. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan aksi klaim atas keberhasilan dalam bidang-bidang tertentu--kestabilan ekonomi, program bantuan rakyat kecil, pemberantasan korupsi, penyelesaian konflik antar etnis--serta mengumbar janji-janji mengenai apa yang akan dilakukan saat salah satu dari capres kini terpilih dalam pemilu. Sayangnya, semua hal tersebut seolah sirna begitu saja dalam acara debat capres. Acara saling menyerang antar kandidat presiden dalam hal agenda pemerintahan, prestasi kerja, dan janji politik justru menghilang. Saat satu kandidat membabarkan rencananya apabila nanti terpilih, kandidat yang lain justru mengiyakan pendapat saingannya. Lucunya, setiap kandidat terlihat saling mendukung kebijakan masing-masing. Satu-satunya hal yang dalam kampanye masih bertahan dalam acara debat tempo hari hanyalah aksi sindir menyindir. Kejadian ini menunjukan jelas bahwa berdebat belum lagi menjadi budaya masyarakat Indonesia karena ini adalah hasil didikan sejak kecil, adanya pemahaman yang keliru tentang kegiatan berdebat, dan akibat indoktrinasi falsafah musyawarah untuk mufakat. 


Berdebat bukanlah kebiasaan yang mudah ditemui dalam keluarga Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak di Indonesia dibiasakan secara sadar untuk selalu mendengarkan orang tua. Walaupun seorang anak boleh berpendapat, dia mendapatkan keharusan tidak langsung untuk mengiyakan dan melakukan apa yang dikatakan orang tuanya. Jika anak itu berbeda pendapat, orang tuanya akan memaksakan pendapat mereka pada sang anak, meskipun perkataan anaknya benar. Apabila si anak bersikeras, orang tua menganggap si anak membangkang dan menghukumnya, jika perlu dengan kekerasan. Berbeda pendapat acap kali dianggap sebagai sikap yang tidak sopan dan tercela, terlepas dari tujuan yang ingin dicapai sang anak. Dalam kondisi ini, anak pun tumbuh dewasa dengan kesadaran mereka tidak boleh berbeda pendapat dengan orang tua. Sebagai hasilnya, sering kali terdengar keluh kesah dari anak muda mengenai suara mereka yang kurang didengar oleh orang tua mereka. Selalu kemauan orang tua tetapi bukan keinginan anak menjadi keluhan lazim yang terdengar dari anak remaja. Berdebat dengan orang tua menjadi hal tabu yang tidak hanya ada di dalam ruang lingkup keluarga tapi juga berlanjut hingga ke sekolah, universitas dan juga kantor. Banyak guru di Indonesia yang mudah tersinggung apabila didebat muridnya. Padahal sang murid tidak sengaja melakukannya. Di kampus juga masih terdapat dosen, bahkan yang berpangkat Profesor sekalipun, yang dapat marah bila beradu argumentasi dengan mahasiswanya. Dalam perjalanan saya di komplek FIB UI, saya pernah membaca sebuah imbauan dalam bentuk poster tentang perlunya mahasiswa untuk menjaga tingkat berpikir kritis mereka terhadap perkataan dosen. Mahasiswa diminta lebih mendengar perkataan dosen dan menghargai pendapat mereka. Saya hanya geleng-geleng kepala saat membacanya, tidak menyangka hal seperti ini masih ditemukan di universitas sekaliber UI. Dalam lingkup kerja profesional, jarang sekali ada cerita tentang atasan yang mampu beradu argumentasi dengan bawahannya, staff, atau pegawai rendahan dengan sikap berkepala dingin tanpa kehilangan kendali emosi. Yang lazim terdengar, saat ada perdebatan, atasan jarang mau mendengar dan tetap memaksakan pendapatnya pada bawahan. Sering kali mereka kehilangan emosi dan memaki-maki atau menyindir bawahannya apabila mereka merasa terpojok dalam beradu argumentasi dengan bawahannya. Atasan-atasan seperti ini bukan cuma yang berposisi sebagai mandor atau kepala bagian tapi juga manajer dan bahkan direktur. Anehnya lagi, tidak sedikit pula dari atasan ini yang lulusan dari universitas luar negeri (?).


Debat masih sulit dibudayakan karena masih adanya tiga persepsi keliru tentang kegiatan berdebat. Persepsi keliru pertama adalah debat disalah pahami seperti kegiatan bertengkar. Padahal, debat adalah sebuah dialog yang tidak berbeda jauh dengan perbincangan santai antar teman. Dalam dialog ada tata krama tak tertulis dimana ada yang berbicara dan ada yang mendengar. Saat satu orang berbicara, yang lain haruslah mendengar. Setelah satu orang selesai berbicara, yang lain bisa berganti bicara. Menimpali atau memotong pembicaraan lawan diperbolehkan sesekali. Prakteknya, jika seseorang sedang berdebat, dia cenderung beranggapan lawan bicaranya memancing pertengkaran. Jadilah acara debat di Indonesia diisi oleh aksi saling memotong pembicaraan lawan, tanpa memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan pendapat, dan memonopoli pembicaraan, bicara terus-menerus tanpa berhenti saat lawan bicaranya masih bicara. Kenyataanya debat, bagaikan dialog santai, dapat menjadi tempat untuk mencurahkan pikiran dan isi hati serta juga dapat menjadi sebuah cara untuk mencari peyelesaian sebuah masalah. Persepsi keliru kedua adalah debat masih dianggap sebagai kegiatan mengalahkan seseorang dalam sebuah acara dialog. Justru debat adalah sebuah dialog tersendiri dimana orang-orang berdiskusi mengenai topik tertentu. Dalam diskusi tersebut, mereka yang terlibat akan saling mengemukakan pendapat mereka mengenai suatu topik sambil menyertakan argumentasi masing-masing. Contohnya, A mengatakan bahwa pendidikan gratis di Indonesia adalah mustahil karena, walau iuran sekolah gratis, seragam dan buku pelajaran tidak gratis. Sebagai lawan bicara, B dan C musti mengemukakan pendapat mereka, entah setuju atau tidak setuju, terhadap pendapat A. Jika B tidak setuju, maka ia harus memberikan argumentasinya. Katakanlah, pendidikan gratis adalah mungkin karena pemerintah bisa membuat anggaran tersediri untuk pengadaan seragam gratis dan buku pelajaran gratis bagi murid sekolah. Persepsi keliru ketiga adalah ketidakmampuan orang Indonesia dalam membedakan pendapat orang dan orang yang berpendapat. Dalam debat akan selalu kita jumpai aksi saling menyerang antar peserta debat, sesuatu yang sebenarnya normal dan alamiah. Karena itu, mereka yang terlibat dalam perdebatan harus mengingat bahwa debat adalah sebuah aksi adu argumentasi. Jadi, yang menjadi target serangan mustinya pendapat orang bukan orangya. Sayangnya, orang Indonesia hanya ingat falsafah debat pada awal perdebatan saja. Begitu acara debat berlangsung lama dan alot, kita mulai menyerang orang yang berpendapat, bukan pendapatnya. Apalagi saat seorang peserta debat mulai terpojok dan tidak bisa mempertahankan pendapatnya sendiri karena argumentasi lawan lebih baik. Akibatnya, terjadilah aksi saling menyerang pribadi peserta debat yang dimulai dengan sindir menyindir, meledek lawan bicara, menghina dan akhirnya berujung pada sumpah serapah dan saling memaki, terkadang juga berakhir dalam adu fisik. Sama sekali tidak terlihat adanya upaya untuk mementahkan atau mematahkan pendapat lawan bicara dengan memberikan argumentasi yang lebih baik dan lebih masuk akal. Sikap berkepala dingin yang harusnya diperlihatkan dalam acara debat sering kali hilang dan berganti dengan sikap emosional seperti berteriak-teriak, adu keras suara. Contoh paling baik bisa kita lihat saat TV One mengadakan acara debat tentang isu Ahmadiyah. 


Penanaman falsafah musyawarah untuk mufakat adalah faktor ketiga yang membuat kegiatan berdebat menjadi sulit berkembang di Indonesia. Sebetulnya kegiatan berdebat sudah kita kenal dalam kehidupan dengan kata musyawarah. Kita semua yang telah mengenyam pendidikan di sekolah sudah lama dicekoki oleh paham musyawarah untuk mufakat, ingat PMP/PPKN. Seingat saya, kata debat jarang tersua dalam buku pelajaran tersebut. Dalam membicarakan suatu masalah, kita diminta untuk selalu bermusyawarah dulu untuk mencapai kemufakatan. Menurut KBBI edisi ke-3, musyawarah berarti kegiatan pembahasan bersama dan mufakat berarti sepakat atau seia sekata. Falsafah ini diajarkan sejak SD hingga universitas sehingga itu tertanam dalam benak orang Indonesia. Pada intinya, pengajaran musyawarah sebagai bagian dalam jalan hidup orang Indonesia adalah benar. Yang keliru adalah penggunaan kata mufakat sebagai tujuan musyawarah. Dalam penerapannya, musyawarah itu sendiri sesungguhnya jarang menghasilkan kemufakatan murni. Dalam sebuah musyawarah, setiap pesertanya pasti membawa pendapatnya masing-masing yang berbeda atau sama dengan yang lain. Jadi, hampir mustahil bila dalam musyawarah bisa selalu dicapai kemufakatan. Jika sebuah kegiatan musyawarah dipaksakan untuk mencapai kemufakatan, pasti akan ada segelintir orang yang merasa terpinggirkan karena pendapatnya tidak didengar dan mereka terpaksa harus mengiyakan pendapat orang lain. Apa salahnya untuk berbeda pendapat? Kelirukah itu? Apakah sikap berbeda pendapat dianggap sebagai sikap tidak menenggang rasa? Sering kali mereka yang berbeda pendapat disindir sebagai orang yang tidak solider atau tidak menenggang rasa. Apakah kemufakatan mutlak akan menghasilkan solidaritas mutlak juga? Yang ada justru solidaritas semu, karena yang beda pendapat setengah hati dalam pelaksaan. Musyawarah untuk mufakat adalah falsafah yang keliru. Boleh saja tidak mufakat dalam musyawarah tetapi semua peserta musyawarah harus mufakat dalam pelaksanaan hasil musyawarah. Mereka yang berbeda pendapat harus didengar suaranya tapi pelaksanaan keputusan adalah mutlak bagi setiap orang. Contoh jelas dari kelirunya musyawarah untuk mufakat bisa dilihat saat fraksi-fraksi DPR melakukan perdebatan alot akan suatu masalah. Sering kali, kebuntuan dalam persidangan diselesaikan lewat cara lobi. Lantaran paham musyawarah untuk mufakat sudah berada jauh di dalam alam bawah sadar orang Indonesia, maka mereka yang tidak setuju dibujuk atau dipengaruhi untuk mengubah sikapnya. Usulan untuk menyelesaikan kebuntuan dengan cara pengambilan suara, voting, sering kali dihindari semaksimal mungkin oleh anggota DPR dengan alasan, lagi lagi, musyawarah untuk mufakat. Justru kegiatan lobi melobi inilah yang menimbulkan aksi tawar menawar kepentingan untuk imbalan tertentu.


Debat memang masih sulit menjadi budaya dalam kehidupan orang Indonesia. Meski debat sudah diakrabi sebagai musyawarah, kita masih sulit untuk mengembangkannya lantaran tidak pernah dibiasakan sejak kecil, masih adanya kekeliruan dalam memahami kegiatan debat, dan masih kuatnya paham musyawarah untuk mufakat. Bagusnya, masih belum ada kata terlambat untuk melakukan perubahan. Mereka yang sudah atau baru menjadi orang tua bisa mulai memberikan porsi bicara lebih banyak pada anak sebelum membuat keputusan sendiri. Jika dulu orang tua lebih sering membuat keputusan, sekarang anak pun perlu dilibatkan dalam pembuatan keputusan. Setiap ketidak setujuan dari diri anak harus disimak dengan baik. Dan agar pola pikir kritis anak bisa berkembang, tantang sang anak untuk bisa memberikan argumentasi pada pendapat yang mereka buat. Mendengar bukan berarti orang tua merendahkan diri di depan anak. Mengetahui bahwa orang tua mau mendengar saja sudah menyenangkan buat hati sang anak, biarpun keinginan mereka tidak terpenuhi. Berikutnya, orang Indonesia perlu memahami dengan baik tujuan utama dari kegiatan berdebat itu seperti apa. Debat itu sebetulnya serupa dengan diskusi, ada yang berpendapat, setuju dan tidak setuju. Semua itu normal saja. Yang musti diingat, semua peserta debat harus bisa membedakan antara pendapat orang dan orang yang berpendapat. Jadi, peserta debat harusnya menyerang pendapat lawan bicaranya bukan si pembicara. Emosi harus bisa dikendalikan dan setiap orang harus tunduk pada rasionalitas, dengan kata lain semua harus berkepala dingin. Jika seseorang tidak setuju dengan pendapatmu, jangan paksa dia untuk ikut setuju. Bujuklah dia. Tentunya, bujukan itu harus diikuti dengan argumentasi yang baik dan masuk akal, bukan sekedar asal bicara, jadi debat kusir nanti. Lewat kegiatan berdebat inilah, setiap orang bisa mengadu lebih jauh kemampuan masing-masing dalam membuat argumentasi yang bisa meyakinkan orang lain, seperti retorika. Yang terakhir, paham musyawarah untuk mufakat sudah waktunya untuk ditinjau ulang, kalau perlu dihapuskan. Musyawarah ya musyawarah, tapi hasil akhir tidak perlu harus mufakat. Bagaimana mungkin sepuluh orang peserta musyawarah bisa menyelesaikan diskusi dengan pemikiran yang sama 100%. Ada sebuah kalimat mutiara dari Jendral Patton yang berbunyi, “If everybody thinks alike, then somebody isn’t thinking.” Mufakat dalam musyawarah tidak mutlak, yang penting pelaksanaannya musti mufakat. Apapun keputusannya, setiap orang harus melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, lebih baik jika pemungutan suara, voting, juga dibiasakan sejak dini, dalam rapat keluarga, rapat OSIS, rapat RT/RW, rapat di kantor pemerintahan. Dengan voting, akan jelas berapa orang yang setuju dan tidak setuju. Dengan voting pula, mereka yang tidak setuju diakui kehadirannya dan tidak perlu khawatir jadi korban perasaan karena dipaksa setuju.

Filed under  //  budaya   debat   DPR   Indonesia   mufakat   musyawarah   orang tua   persepsi   tabu   UI   voting  

Comments (0)

Jun 18 / 6:29am

Mengapa Kalian Perlu Memakai Macintosh

Halo kawan-kawan. Bagaimana kabar kalian? Sebentar lagi kalian akan menjadi mahasiswa bukan. Saya harap kalian sudah menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Satu dari banyak hal yang dibutuhkan calon mahasiswa seperti kalian sekarang ini adalah komputer portabel, laptop atau notebook. Yak, di masa kini hampir semua mahasiswa memerlukan laptop, terlepas dari jurusan yang ia pilih dan tempat kuliahnya. Dari semua merek komputer yang beredar di pasaran saat ini, saya merekomendasikan kuat Apple MacBook sebagai laptop yang penting dimiliki oleh kalian para mahasiswa baru. Merek yang satu ini saya rekomendasikan dengan alasan


MacBook memiliki rancangan yang elegan, sederhana, dan sekaligus bergaya, trendy. Saya tidak akan berpajang lebar tentang hal ini, silahkan klik tautan ini, http://bit.ly/TUq5o, http://bit.ly/ZnwLE, dan nikmati keindahan laptop Apple. Begitu indahnya komputer buatan Apple, kita juga bisa melihat komputer ini dalam banyak filem ternama seperti The Devil Wears Prada, Le Chevalier du Ciel, John Tucker Must Die, Just My Luck, I Am Legend, Die Hard 4.0,  dll.

MacBook adalah komputer yang memiliki spesifikasi teknis yang tinggi. Banyak komputer beredar luas di pasar dengan iming-iming harga murah namun memiliki spesifikasi rendah. MacBook memang tidak murah, 13 juta rupiah, tetapi dia tidak pelit dalam memberikan produk yang bagus. Dengan harga 13 juta, kalian sudah mendapatkan komputer dengan spesifikasi:

  • layar 13 inci (cukup adem di mata)
  • hard disk 120 Gb, minimal, hingga 500 Gb, maksimal (bayangkan berapa ratus foto, lagu, tulisan yang bisa disimpan).
  • RAM 2 GB (wuih, nggak ada istilah lemot), dan itu minimum
  • prosesor Intel Core 2 Duo 2.2 GHz (cepat bo)
  • Superdrive (DVD R/RW/ROM, CD R/RW/ROM, Dual Layer DVD R/ROM). Apa itu DVD Dual Layer? Itu adalah DVD dengan dua lapisan yang memungkinkan ia menyimpan data dua kali lebih besar, 8.3 Gb.
  • Daya tahan baterai, dalam kondisi baru, mencapai 4 jam non stop. Untuk mengetik, berselancar di internet, dan mendengarkan lagu pada saat bersamaan sudah cukup.
  • Wi-Fi ready
  • Bluetooth
  • SD Card Reader; untuk kalian yang senang berfoto ria.

Luar biasa, dengan 13 juta kalian sudah mendapat satu komputer yang memberikan kalian banyak kemampuan. Banyak komputer murah yang dijual, namun tidak semua memberikan spesifikasi selengkap di atas.

Notebook Apple memiliki sistem operasi terhandal, Macintosh OS X aka. Leopard (versi 10.5.7). Dari pengalaman saya memakai MacBook selama tiga tahun terakhir ini, saya merasakan bahwa OS Macintosh adalah sistem operasi yang luar biasa. OS ini memiliki daya tahan baik. Saya jarang sekali mengalami hang, bisa dihitung dengan jari. Ketika saya melakukan banyak kegiatan sekaligus--mengetik, internetan, dengerin lagu, melakukan sedikit modifikasi foto--jarang sekali Macintosh mengalami kendala seperti lemot atau hang, sampai harus tekan Ctrl+Alt+Del. Ini terjadi lantaran Apple menganut falsafah bahwa perusahaan komputer yang membuat software harusnya juga membuat komputernya sendiri. Karena itu, Mac OS X teruji lantaran Apple membangun komputernya sendiri agar dapat menjalankan OS Macintosh dengan baik. Keuntungan lainnya, Macintosh sedikit mendapat ancaman dari virus komputer. Ini terjadi karena OS Mac dibangun dalam bahasa UNIX, berbeda dengan Windows. Dampaknya, hal ini membuat OS relatif kebal pada virus komputer lantaran mayoritas virus menyerang Windows karena virus itu dibangun dalam bahasa ...

Selain memiliki OS yang handal, setiap komputer Apple dilengkapi aplikasi pendukung yang lebih baik daripada PC. Untuk setiap pembelian komputer Apple, Anda sudah mendapatkan aplikasi standar seperti iLife, Text Edit, Quicktime, dll. iLife adalah nama untuk kumpulan aplikasi seperti Mail (aplikasi pengelola e-mail), iMovie (aplikasi pengolah dan penyunting, edit, video), iDVD (aplikasi pembakar video), iWeb (aplikasi pembuat website pribadi), iPhoto (aplikasi pengelola and pengolah foto), iCal (pengelola kalender untuk kegiatan-kegiatan pribadi), iChat (aplikasi chatting), dan tentu saja iTunes (pengelola lagu dan video digital serta Podcast). iPhoto bisa disamakan seperti ACD See. Namun, iPhoto memiliki kelebihan seperti photo management, photo editing, dan juga kemampuan ekspor ke dalam bentuk slideshow, video quicktime, pengubahan ukuran foto. Oh ya, iPhoto juga bisa mengunggah, upload, foto kalian ke Facebook. Buat kalian yang senang membuat filem sendiri dengan kamera video pribadi, iMovie dan iDVD akan membantu kalian dalam berkreasi. Kalian suka mendengarkan MP3, iTunes akan mempermudah dalam melakukan manajemen koleksi lagu, video, dan Podcast di komputer. Kesaksian saya mengenai iLife adalah “Creativity meets simplicity.” iWeb dapat disamakan dengan Frontpage, iCal dan Mail serupa dengan Microsoft Outlook. Bedanya, iLife kalian dapatkan dengan gratis beserta dengan pembelian komputer. Sedangkan Outlook dan Frontpage harus dibeli karena satu paket dengan Microsoft Office. Windows Movie Maker? Ah, lupakan saja itu. Saya ragu bila Movie Maker bisa berpadu dengan Windows Media Player. Bagaimana dengan aplikasi Office. Apple memberikan produk khusus bernama iWork yang disertakan dengan komputer namun sifatnya berupa percobaan, trial, selama 30 hari. Setelah 30 hari, aplikasi tidak dapat dipakai kecuali kalian membelinya untuk mendapatkan nomor serial produk. Oh ya, selain aplikasi bawaan, pengguna Mac juga bisa menemukan banyak aplikasi tambahan dari pihak ketiga yang tersebar di internet, ada yang berbayar dan ada juga yang gratis.

Komputer Apple dapat menjalankan Windows, Vista ataupun XP 3. Meskipun Macintosh 10.5.7 aka Leopard adalah sistem operasi resmi dari Apple, MacBook juga bisa menjalankan sistem operasi Windows Vista atau XP 3. Dan bilamana diperlukan, MacBook juga siap untuk menjalankan Windows 7 yang pada saat ini sedang dalam pengembangan. Hal ini dapat terjadi semenjak Apple memutuskan untuk menggunakan prosesor Intel. Selain itu, di dalam OS Leopard sudah ada aplikasi bernama Bootcamp. Aplikasi ini memungkinkan kalian untuk berganti sistem operasi kapan saja kalian menginginkannya. Fitur ini berguna sekali buat pengguna awal yang masih dalam proses adaptasi.

Komputer Apple memiliki garansi internasional yang dapat diperpanjang. Untuk semua produk komputernya, Apple memberikan garansi internasional selama satu tahun. Dengan adanya garansi ini, pemilik komputer Apple--laptop ataupun desktop--dapat melakukan klaim garansi di manapun juga manakala komputernya mengalami masalah. Agar lebih jelas, garansi ini memungkinkan kalian yang membeli MacBook di Indonesia melakukan klaim servis di luar negara Indonesia. Misalnya, Anisa membeli MacBook di Indonesia dan satu ketika pergi ke Perancis sambil membawa laptop Apple. Apabila MacBook kesayangan Anisa tiba-tiba bermasalah saat dia sedang di Paris, Ica tinggal membawa Mac-nya ke servis resmi Apple, Authorised Service Provider (ASP), terdekat. ASP Perancis akan memberikan servis resmi secara cuma-cuma. Selain garansi internasional, Apple memberikan kesempatan bagi para pemilik komputer Apple untuk memperpanjang garansinya hingga dua tahun. Sebagai contoh, Haula membeli MacBook pada bulan Juli 2009. Sesuai kebiasaan yang berlaku, garansi resmi yang diberikan hanya  1tahun. Ini berarti laptop Ola dijamin hingga Juli 2010. Tetapi, dengan membeli APP, Apple Protection Plan, Ola dapat memperpanjang garansi Mac-nya hingga Juli 2013. Wow, garansi tiga tahun. Berapa merek komputer yang memberikan kemewahan seperti ini?

Komputer Apple memiliki lebih banyak aksesoris pendukung yang dibuat oleh perusahaan pihak ketiga, seperti, pelapis keyboard, stiker pelindung touchpad, stiker pelindung body, pelindung layar, kaki kecil untuk komputer (Speedball/Snapball) Merek komputer lain tidak ada yang menikmati kemewahan seperti ini. Bagusnya lagi, hampir semua toko yang menujual produk Apple secara resmi menyediakan semua aksesoris yang tadi disebutkan. Kalau tidak percaya, silahkan datangi toko penjual resmi produk Apple (Apple Premium Reseller)--iBox, EMAX, eStore, Zoom, Infinite--yang ada di mal-mal terkenal seperti Plaza Indonesia, PIM, Pacific Place, MTA, SenCi, dan Plaza Senayan.

Indonesia sudah memiliki komunitas Macintosh dengan aggota yang sangat banyak. Di Indonesia sudah ada kelompok seperti id-Mac dan id-Apple. Khusus id-Mac, komunitas ini sudah mendapatkan pengakuan dari Apple pusat di AS. Komunitas id-Mac juga terdapat di internet seperti grup Facebook dan juga mailing-list, milis, di Yahoo. Lewat milis ini, para anggota bisa bertukar pertanyaan, tips dan trik, info, curhat tentang hal-hal yang berkaitan dengan Macintosh. Selain kegiatan di dunia maya, id-Mac juga rutin melakukan pertemuan bulanan, kopi darat, di tempat umum seperti mal atau kafe. Enaknya pertemuan rutin ini, para anggota memiliki kesempatan lebih banyak lagi untuk berdiskusi tentang Mac dan juga bertukar pikiran secara langsung mengenai hal-hal yang berkaitan dengan teknologi. Keuntungan tambahan lainnya adalah berbagi aplikasi unik yang berguna untuk pemakai Mac atau berbagi update untuk program-program Apple.

Mitos tidak benar tentang komputer Apple

Mac terlalu mahal. Banyak komputer PC yang lebih murah.

Betul Mac mahal. Namun, mahalnya Mac hanya untuk jangka pendek. Untuk jangka panjang, Mac justru murah. Lihat, spesifikasinya tinggi sehingga tidak perlu sering upgrade; RAM-nya tinggi, HD-nya besar, prosesor Intel-nya cepat, daya tahan baterai ideal, rancangannya elegan dan trendy (tidak lekang dimakan jaman). Lagipula, spesfikasi tinggi ini membuat kalian tidak perlu takut ketinggalan jaman meskipun merek lain sudah bersalin rupa.

Banyak orang berkata, “Buat apa Bluetooth? Yang penting bisa Wi-Fi.”

Lantas bagaimana kamu mau transfer foto atau lagu dari komputer ke ponsel atau sebaliknya? Hari gini komputer nggak punya Bluetooh?

“Buat apa sih Superdrive?”

Hmm, kamu tidak akan pernah tahu kapan akan membutuhkannya bukan? Superdrive memungkin pemilik Mac untuk membaca dan juga menulis DVD format Dual Layer. Meskipun, kemungkinan untuk menggunakannya kecil bukan berarti hal tersebut tidak berguna sama sekali.

Daya tahan baterai 4 jam. “Masih kurang, Lenovo dong bisa 6 jam”

Memangnya kamu mau ke hutan sampai lebih memikirkan daya tahan baterai daripada kegunaan komputer buatmu.

Komputer Mac untuk desain grafis doang.

Salah besar. Mac juga dapat dipakai untuk bekerja atau belajar. Microsoft Office untuk Macintosh tersedia. Apple bahkan membuat iWork sebagai Office khusus untuk Mac. Tahu filem “The Inconvenient Truth”? Percaya atau tidak, filem itu dibuat dengan Keynote, semacam PowerPoint, yang merupakan bagian dari Mac. Saya sendiri selalu menggunakan MacBook untuk mendukung pekerjaan saya. Ilmah, masih ingat video kompilasi sejarah musik Rok? Tahukah kamu kalau video itu dibuat dengan Mac. ;)

iWork adalah Office versi Apple. Tapi produknya hanya bisa dipakai selama 30 hari dan setelah itu tidak berfungsi. Bagusan PC sudah dapat MS Office gratis.

Bohong besar! iWork itu sama dengan MS Office, keduanya adalah produk berlisensi. Kalau ada PC pakai Office gratis dan dapat dipakai lebih dari 30 hari, itu berarti PC tersebut menggunakan produk bajakan. Office gratis di internet hanyalah yang sifatnya open-source seperti Open Office atau Neo Office.

Mac harganya mahal. Servisnya pasti mahal juga.

Harga mahal tidak berarti servis mahal. Harus dingat, kententuan servis tergantung dari tingkat kerusakan yang dialami oleh komputer. Lagipula, jaminan garansi internasional memberikan pengguna Mac kelegaan karena Mac-nya dapat diservis di negara manapun.

Macintosh itu programnya beda dari Windows. Kamu tidak akan bisa beradaptasi.

Bohong sekali. Saya juga pengguna aktif Windows. Adaptasi saya dengan Macintosh hanya makan waktu 2 minggu. Kalaupun ada perbedaan, paling-paling cuma penggunaan istilah atau nama yang berbeda. Buat kalian yang pelajar, saya perkirakan cuma butuh waktu sebulan untuk adaptasi. Lagipula, keberadaan milis justru memberikan keuntungan tambahan untuk konsultasi. Apalagi, jago-jagonya Mac juga punya akun di Facebook, bisa Wall-to-Wall deh.

Satu lagi hal baik dari produk Apple adalah pelayanan purna jual dari para Apple Reseller di Indonesia yang baik. Berapa sering kalian pernah membaca keluhan mengenai layanan purna jual kurang baik untuk produk Apple di kolom Surat Pembaca pada koran ternama?

Filed under  //  Apple   handal   id-Mac   Indonesia   laptop   Leopard   MacBook   Macintosh   mahasiswa baru   milis  

Comments (16)

Jun 5 / 7:32am

Persyaratan Untuk Serang Malaysia

Satu setengah pasangan capres dan cawapres meledek pemerintahan sekarang yang tidak tegas dalam hal sengketa wilayah dengan Malaysia. Mereka bilang pemerintah tidak tegas dan terlalu lunak terhadap Malaysia. Sepasang capres dan cawapres mengatakan mereka akan bertindak tegas terhadap pelanggaran tapal batas yang sering dilakukan oleh tentara Malaysia. Lucunya, tidak seorangpun mengatakan dengan tegas tentang tindakan tegas yang akan dilakukan. Kalau Indonesia mau berperang dengan Malaysia, kita harus memenuhi persyaratan di bawah ini.

 

Pertama, peluru pertama harus keluar dari laras senjata Malaysia. Dengan demikian, Indonesia memiliki alasan kuat untuk menyerang Malaysia. Kalau tentara Indonesia menembak lebih dahulu hanya karena intimidasi yang dilakukan Malaysia, ini berarti kita telah terjebak dalam pancingan tentara Malaysia.

 

Kedua, Indonesia harus punya sekutu yang kuat dan sebanding dengan sekutu yang dimiliki Malaysia. Ingat, Malaysia ini adalah anggota negara-negara persemakmuran, Commonwealth Countries. Negara persemakmuran ini didirikan oleh Inggris dan memiliki anggota berupa negara-negara bekas kolonialisasi Inggris seperti India, Malaysia, Brunei, Singapura, Australia, dan Selandia Baru. Sekutu yang kuat diperlukan agar ada jaminan apabila Indonesia berperang dengan Malaysia, negara-negara persemakmuran di sekitar Indonesia tidak akan ikut campur.

 

Ketiga, Indonesia musti memiliki kecukupan logistik untuk berperang. Logistik bukan cuma peluru, roket, granat dan senjata. Di dalam logistik juga harus ada obat-obatan, bahan bakar dan suku cadang peralatan militer. Mustahil dalam perang tidak ada prajurit yang tidak terluka. Jadi, kita harus memiliki persediaan obat-obatan yang memadai guna menangani prajurit yang terluka. Seperti halnya tentara, peralatan militer pun tidak luput dari kerusakan, misalnya kapal laut tertembak oleh senjata lawan. Agar kapal dapat kembali berperang, kapal tersebut harus diperbaiki. Jangan seperti Jepang pada perang dunia ke 2 dimana kapal perangnya banyak tidak bertempur lantaran kekurangan suku cadang untuk perbaikan. Lebih lanjut lagi, meski prajurit dapat berperang dengan perut kosong tetapi pesawat tempur butuh kerosin, kapal perang butuh solar, truk dan tank butuh bensin. Tanpa bahan bakar, Indonesia terpaksa berperang dengan kekuatan infanteri saja.

 

Keempat, Indonesia harus memiliki kekuatan militer yang besar untuk meladeni perang di empat front sekaligus. Seharusnya, kekuatan militer Indonesia sedari awal dibagi dalam empat wilayah--utara, selatan, barat dan timur. Oleh karena itu, pemerintah membagi skuadron pesawat tempur dan armada kapal perang ke dalam empat wilayah itu, seperti armada lau utara, barat, timur dan selatan.

 

Kelima, TNI wajib memiliki data intelejen yang akurat mengenai kekuatan militer yang dimiliki Malaysia beserta sekutunya. Data intelejen yang diperlukan adalah peralatan militer yang mereka miliki, jumlah peralatan militer, kecakapan yang dimiliki oleh personil tentara mereka dalam mengoperasikan peralatan tempur, pasokan logistik yang dimiliki, sistem pertahanan--udara, laut, darat--yang mereka miliki, kondisi psikologis dari para tentara mereka, sistem komunikasi yang dipakai, kesiapan tempur mereka, pendapat rakyat mereka terhadap kemungkinan perang, strategi perang yang akan dipakai, data kegiatan operasional para pasukan, dan lain-lainnya.

 

Keenam, TNI perlu memiliki strategi perang yang jelas dan terarah dalam menghadapi Malaysia, dan sekutuanya bila mereka campur tangan. Sasaran yang akan diserang harus jelas, mana yang militer dan mana yang non militer. Selain itu, harus ada perhitungan tentang berapa lama perang akan berlangsung dan seberapa jauh kemampuan negara dalam melakukan perang. Strategi ini juga harus dibagi dalam dua bagian, menyerang dan bertahan. Apa yang harus diserang TNI dan bagaimana Indonesia harus bertahan apabila arah peperangan berbalik arah. Ini berarti, strategi harus menjabarkan sasaran yang harus dihancurkan serta perkiraan akan berapa banyak korban perang yang akan jatuh serta kerugian yang akan diderita TNI. Yang lainnya, strategi bukan hanya untuk perang militer tapi juga perang intelejen. Operasi penyusupan dan sabotase perlu disiapkan untuk menunjang opersi militer terhadap Malaysia dan sekutunya nanti.

 

Namun sialnya, posisi Indonesia secara geomiliter sedari awal sudah dikelilingi sekutu Malaysia. Ingat ASEAN, ada Singapura dan Malaysia Barat di semenajung Malaka. Pulau Kalimantan dibagi antara Malaysia Timur dan Indonesia. Di selatan ada Australia dan Selandia Baru. Oh ya, Australia juga punya pasukan di Timor Leste. Lantas bagian barat pulau Sumatra diancam oleh kehadiran tentara India. Jika masih kurang, Inggris sendiri akan mengirim armada kapal perangnya ke bagian barat Indonesia untuk menopang armada laut India. Apakah mereka menyerang secara simultan atau bersamaan, Indonesia akan menghadapi kesulitan besar, bahkan terancam akan kekalahan telak. 

Filed under  //  ASEAN   commonwealth   Indonesia   intelejen   konfrontasi   logistik   Malaysia   militer   negara persemakmuran   strategi   TNI AD  

Comments (3)

Jan 31 / 6:57am

Lima alasan mengapa oli Top 1 perlu diragukan.

Top 1 adalah oli paling terkenal di Indonesia. Sudah sejak awal tahun 2000, perusahaan ini memasarkan produknya di Indonesia. Untuk mengangkat popularitasnya, perusahaan ini mengeluarkan anggaran besar untuk promosi produk lewat berbagai cara. Paling gencar, mereka berpromosi lewat iklan, media cetak, televisi, radio dan bilboard. Dalam bentuk lain, mereka berpromosi dengan mensponsori acara balap motor di Indonesia, bahkan perusahaan membentuk tim balap sendiri. Semua ini dilakukan agar citra Top 1 sebagai oli nomor satu. Apalagi, sejak awal mereka selalu meneriakan slogan bahwa oli ini adalah oli nomor satu di Amerika. Akan tetapi, sejak awal saya selalu meragukan kebenaran dari mutu oli yang satu ini atas lima alasan.

Pertama, mutu oli Top 1 sudah lama diragukan, Di kalangan mekanik berpengalaman, oli ini terkenal sebagai oli murah meriah. Harga satuannya di bawah harga oli rata-rata. Pengendara motor pun sudah banyak yang mengalami masalah dengan oli yang satu ini. Mesin motor gampang rusak kalau memakai oli Top 1terlalu lama adalah salah satu kesaksian mereka. Teman saya menjelaskan kalau oli ini memiliki sifat lengket saat olinya berada di dalam bak oli. Biarpun bak oli sudah dikosongkan, olinya masih saja menempel di onderdil mesin dalam bak oli. Tapi, biarpun banyak masalah yang ditimbulkannya, di kalangan pemilik kendaraan berkantong pas pasan, oli ini sangat populer. Untuk mengangkat citranya, Top 1 kemudian membuat iklan yang menampilkan orang-orang terkenal seperti Herman Sarens dan Bob Sadino. Pak Herman pakai Top 1 buat motor Harley-Davidson? Saya tidak percaya. Sama tidak percayannya dengan Pak Bob Sadino melumasi mesin jip Cherokee dengan Top 1.

Kedua, kemasan oli Top 1 sama sekali tidak mencerminkan kalau produk ini adalah produk bagus. Masak "kaleng" oli Top 1 terbuat dari kardus. Sekilas, kaleng oli terbuat dari bahan kaleng sungguhan. Padahal, sesudah kaleng dibuka dan isinya dituang akan terlihat bagian dalam kaleng yang terbuat dari kardus. Belum lagi, kaleng ini mudah sekali dipenyokan. Dan di saat produsen lain sudah beralih ke botol plastik, seperti Castrol, Shell, Agip, Evalube, bahkan Mesran, Top 1 masih saja setia dengan kemasan "kaleng" kardus mereka. Irit atau pelit? Kemasan botol plastik dipilih karena ia awet, tahan lama, dapat didaur ulang, dan tidak mudah bocor. Belum lagi, kemasan botol plastik agak mahal apabila dipalsukan. Sedangkan, kemasan kardus gampang bocor, tidak tahan lama, dan murah untuk dipalsukan.

Ketiga, dalam iklannya Top 1 selalu mengatakan kalau produk ini datang dari Amerika. Meskipun bukan penggemar produk oli Pertamina, saya masih lebih suka slogan Mesran, "Anda untung, bangsa juga untung." Kalau memang produk dalam negeri, bilang saja produk lokal. Iklan yang ditampilkan juga tidak menyakinkan. Seperti yang sudah sering terlihat, iklan televisi Top 1 berdurasi sangat cepat, dengan menampilkan bagian-bagian yang berdurasi singkat dengan pemotongan cepat. Apa yang disembunyikan? Meskipun begitu, saya melihat beberapa kejanggalan dari pabrik Top 1 yang ditampilkan dalam iklan televisi. Misalnya, ketika Dewa 19 menjadi endorser bagi oli ini, ada adegan yang memperlihatkan kelompok band ini berjalan di area pabrik. Di dinding pabrik, terdapat logo Top 1 besar, yang seolah menampakan logo itu tercetak di sebuah papan iklan (bilboard) besar. Tapi, dalam adegan itu terlihat angin bertiup kencang sehingga tidak hanya membuat pakaian awak band Dewa berkibar juga membuat papan itu berkibar. Papan berkibar? Papan atau spanduk besar yang cuma ditempelkan di tembok pabrik? Kok, perusahaan sekaliber Top 1 tidak punya uang untuk membuat papan nama perusahaan sendiri. Berapa mahal sih biayanya? Dan model iklan berdurasi cepat ini diulangi lagi, dengan band Padi sebagai endorsernya.

Kejanggalan keempat adalah tentang kegiatan sponsor yang dilakukan Top 1. Dalam media cetak seperti Motor Plus atau Otomotif, Top 1 sering mensponsori berita mengenai keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan otomotif di luar negeri. Disebutkan bahwa mereka sudah terlibat sebagai sponsor tim untuk acara seperti Paris-Dakkar dan pemecahan rekor kecepatan di Bonnevile lewat tim Drag Ack Attack. Oke, mereka bisa mengatakan bahwa mereka betul-betul terlibat dalam event-event tersebut, menunjukan bukti bahwa produk mereka dapat diandalkan. Tapi, kenapa mereka tidak pernah menurunkan berita mengenai partisipasi dalam kompetisi reguler seperti MotoGP, Nascar, AMA Superbika, WSB, WSS, dll. Kenapa mereka hanya mau mensponsori kegiatan-kegiatan yang sifatnya temporer? Saya belum menemukan adanya bukti mengenai tim-tim balap yang mengikuti kompetisi reguler di Amerika dengan dukungan Top 1.

Kelima, sebagian kecil masyarakat Indonesia sudah dua kali heran terhadap iklan yang tampil selama ini. Sesudah penampilah impresif Casey Stoner, tim LCR, di MotoGP musim 2006, Top 1 memasang iklan besar di koran Kompas sesudah musim kompetisi berakhir. Iklan ini muncul bulan Desember. Dengan lihainya, Top 1 menyatakan bahwa oli ini menjadi oli resmi yang dipakai tim LCR selama musim balam 2006. Saya memang memperhatikan penampilan mengesankan Stoner di musim perdananya pada tahun 2006. Namun, saya tidak memperhatikan merek oli apa yang mendukungnya. Biarpun begitu, saya tetap tidak percaya pada klaim yang diajukan Top 1. Kenapa sesudah musim kompetisi selesai baru Top 1 pasang iklan mengenai dukungan mereka pada tim LCR dan Stoner? Kenapa tidak memasang iklan tersebut di tengah-tengah musim kompetisi. Saya mencium aroma tidak beres di sini. Jadi, sesudah musim kompetisi, Top 1 mungkin mengirimkan proposal pada Stoner untuk kontrak jangka pendek dengan bayaran ratusan dolar saja. Menyadari banyaknya keraguan yang muncul terhadap iklan Stoner, Top 1 muncul lagi dengan iklan baru di tahun 2007. Kali ini mereka menyatakan bahwa mereka menjadi sponsor tim balap Kenny Roberts. Hua ha ha ha ha. Saya tertawa geli saat melihat iklannya di tabloid Motor Plus. Ini aneh. Iklannya muncul di tengah-tengah musim kompetisi? Kok, baru muncul di tengah musim? Kenapa tidak di awal musim? Dan sebagai informasi tambahan, tim Kenny Roberts ini adalah tim paling kere dari seluruh tim balap MotoGP. Bukan hanya tim ini tidak mendapat dukungan dari salah satu pabrik yang berkompetisi, tim ini bahkan tidak memiliki sponsor utama. Saya yakin yang sesungguhnya terjadi adalah tim Kenny Roberts menerima segala macam sponsor yang datang asal mereka bisa ikut kompetisi. Sebagai imbalan, sponsor bisa menempelkan stiker mereka di badan motor balap tim Roberts. Yang terjadi kemudian adalah sebuat motor balap yang sekujurnya dipenuhi berbagai macam stiker sponsor. Begitu kerenya tim Roberts, mereka mau menerima sponsor apapun asalkan ada duit untuk menjaga partisipasi mereka di musim kompetisi. Aneh! Dan seperti yang sudah diduga, tim Roberts akhirnya mengundurkan diri di tengah musim kompetisi karena kekurangan dana. Wah, duit yang dikasih Top 1 ke tim Roberts ini berapa ya? Pelit amat sih. Oli Amrik atau oli Indonesia?

Berdasarkan argumentasi di atas, saya sarankan agar konsumen berpikir ulang sebelum membeli dan menggunakan oli Top 1. Masih bagus pakai oli Mesran tapi bisa dipertanggung jawabkan dan tidak mencoba mengibuli konsumennya. Oli rekomendasi pabrik sepeda motor, seperti Yamalube atau Federal, masih lebih baik daripada Top 1. Setidaknya, kalau mesin bermasalah, konsumen bisa langsung klaim ke produsen. Kepada Top 1, saya menuntut agar kalian bisa jujur terhadap konsumen Indonesia, Tiru Petronas. Tanpa banyak omong, mereka sudah berhasil terjun dalam kancah balap sekelas MotoGP, WSB, bahkan Formula 1. Top 1, apa prestasimu?

Filed under  //  Amerika Serikat   Casey Stoner   Indonesia   Kenny Robert   Mesran   Oli Top 1   Polisi  

Comments (16)