Some Personal Thoughts

Some Personal Thoughts

Todo Sibuea  //  I am a systemic anomaly that is inherent to this universe. This is my personal blog where I express my thoughts on matters that cross my mind.

All of my articles here are protected under Copyright Law. If you want to use my article for your particular purpose, please inform me to get my confirmation. If you do get it, don't forget to give credit to me for the article you use.

May 1 / 7:24am

JK Keceplosan Bicara


Pukul 7 malam tadi, Jusuf Kalla mengumumkan bahwa ia dan Wiranto akan berpasangan sebagai capres dan cawapres dalam PilPres bulan November nanti. Dalam pidatonya, ia mengemukakan berbagai alasan mengapa ia memutuskan untuk bermitra dengan Wiranto dan Partai Hanura. 


Selain memberikan alasan, ia masih sempat memberikan sindiran terhadap SBY mengenai kelambanannya dalam membuat keputusan. Seperti yang sudah-sudah, JK senang sekali mengatakan bahwa seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan secara cepat. Menunggu terlalu lama dalam keraguan hanya akan membuat seorang pemimpin kehilangan momentum. Tidak lupa juga ia menunjukan pengalamannya sebagai pengusaha telah mendidik dia untuk gesit dalam membuat keputusan berdasarkan situasi yang dihadapi.


Namun, JK membuat kesalahan penting dalam pidatonya tersebut. Begitu senangnya ia dengan latar belakan pengusaha, ia menjadi pongah. Dia berani menyamakan kemampuan membuat keputusan seorang pengusaha dengan panglima. JK mengatakan seorang Panglima, ditujukan pada SBY, harus bisa membuat keputusan cepat dalam situasi darurat. 


Wah, JK sepertinya terlalu sering baca buku ekonomi dan, mungkin, tidak pernah baca buku sejarah. Pak, justru Panglima harus super hati-hati dalam membuat keputusan. Kalau pengusaha salah membuat keputusan, dia cuma kehilangan duit. Kalau Panglima salah membuat keputusan, dia bisa kehilangan nyawa prajuritnya, peralatan militernya, dan kepercayaan bawahannya. Resiko yang dihadapi seorang pengusaha dan Panglima dalam membuat keputusan berbeda jauh. Baca tuh biografi jago perang macam MacArthur, Eisenhower, Montgomerry, Churcil, dst. Bahkan Patton yang agresif pun harus menimbang-nimbang sebelum mebuat keputusan.


JK ini memang sangat agresif. Begitu agresifnya sehingga dia terkadang bicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Tidak heran Wiranto cuma diam dan memandang ke arah lain ketika JK menyamakan sikap seorang pengusaha dan Panglima dalam membuat keputusan. Saran saya Pak JK, tolong jangan baca buku ekonomi saja ya. Baca tuh sejarah tokoh-tokoh militer penting.

Filed under  //  agresif   Hanura   JK   keceplosan   keputusan   Komunitas Sejarah Kota   militer   panglima   resiko   Wiranto  

Comments (0)

Apr 27 / 8:39am

Poor Michael Jackson... | Inside My Head

You shouldn't have changed that much.

Filed under  //  lewis hamilton   michael jackson   mj   obama   tiger wood   will smith  

Comments (0)

Apr 25 / 8:12pm

Tipe Penis Berdasarkan SIM Card

1. SIMPATI = sedikit imut tapi memuaskan pasangan tidur.
2. XL = Extra Large.
3. MENTARI = menengah tapi rajin ereksi
4. IM3 = imut mini mengelitik.

Comments (0)

Apr 23 / 5:41am

Koalisi Alternatif Partai Demokrat: Guyonan Politik anak Mac

SBY-JK pecang kongsi. Dengan demikian, Golkar pun berpisah dengan Demokrat. Oleh sebab itu perkembangan politik Indonesia untuk dua bulan ke depan sangat menarik untuk diperhatikan. Melihat kondisi terbaru ini banyak bermunculan pendapat tentang partai apa dan siapa yang pantas berkoalisi dengan SBY dan Demokrat. Beberapa orang menyatakan agar SBY dan Demokrat berpasangan dengan partai Islam macam PKS atau PAN. Di lain pihat, banyak juga pendapat yang mengatakan agar SBY dan partainya mencarai mitra kerja yang berlatar belakang nasionalis. 


Secara pribadi, daripada pusing sebaiknya SBY dan Demokrat bermitra dengan id-Mac saja. Alasannya, karena id-Mac memiliki banyak kader yang bersedia membaktikan dirinya bagi kemajuan bangsa Indoensia. Capres dan cawapres yang diusulkan adalah SBY dan SA, Sabil Ardie. Alasannya, karena sosok Pak Sabil yang muda, ganteng, gawul, langsing, berotot, funky, trendy, technology savvy, cerdas, dinamis, enerjik, dan profesional akan menjadi pelengkap buat Pak SBY yang tua, gemuk, berwibawa, konservatif, kurang technology savvy, pebimbang, dan militeristik.


Susunan kabinet dan pemerintahan ke depan akan diisi oleh kader-kader id-Mac seperti berikut:


  • Juru Bicara Kepresidenan: Pak Ryo Saeba. Orang yang memiliki latar belakang kehumasan baik, paham tentang teknologi, dan kaya akan referensi, koleksi linkya luar biasa. Kalau ada wartawan yang salah tangkap ucapannya, pasti langsung diajak berdebat. Hi hi hi, bakalan seru tuh, :)
  • Sekretaris Kabinet:  Pak Eep S. Maqdir. Kalem dan tenang tapi tegas, plok plok plok.
  • Penasihat Presiden bidang Sosiologi: Pak Burhanudin Gala. Peneliti yang sudah malang melintang dalam dunia Sosiologi dan Antropologi.
  • Penanggung jawab Website Kepresidenan: Pak Deon Sukma Pratama dan Pak Gimson Ahmed. Yang satu naik mobil, yang satu lagi naik motor. Namun dua duanya sudah gapa dengan urusan Web Web-an, ;)
  • Pilot Kepresidenan: Kapten Firman Asfari.
  • Juru Foto Istana: Pak Fatra Nugraha dan Pak Rangga Purbaya. Yang suka moto gituh. Asyik kan teknologi dan peralatan foto terbaru selalu didapat, ‘mayan dapat CS 4 gratis, ki ki ki :D
  • Ketua KPI: Pak Tomi Satryatomo. Sosok yang tegas dan mampu membawa perubahan pada mutu tayangan yang ada di televisi selama ini. Ayo Pak, galak-in tuh produser India.
  • Ketua Badan Sensor Filem: Pak Antonius Widjaja. Paling jago dah buat urusan  penyuntingan, pemotongan, transcoding, encoding, convert, bla bla bla. Tolong potogan filem disimpan buat saya ya, he he he, :D
  • Menteri Pariwisata: Pak Ivan Lesmana. Pas buat yang sering hunting foto ke luar kota. Sambil motret juga ikut mempromosikan pariwisata Indonesia. Di waktu senggang bisa jadi produser untuk album baru Pak SBY.
  • Menteri Peranan Wanita: Nona Astrid Amalia. Sambil mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan dunia wanita bisa pula mengkampanyekan Yoga. Orangnya twitterific, twitteractive dan funky.
  • Menteri Olahraga dan Kepemudaan: Bung Dirgayuza Setiawan. Cuma olahraga favoritnya kelewat elit, Polo. Yang merakyat dunk, enggrang misalnya.
  • Menteri Komunikasi: Bang Gopas Carlos Manurung. Wong dia moderatornya iPhone. Kalau lagi lowong, bisa main piano mengiringi Pak SBY yang rekaman lagu.
  • Menko Ekuin: Pak Boni Soehakso. S2 Ekonomi gitu loks. Bentar lagi S3.
  • Menteri Perdagangan dan Perindustrian: Pak Iwan Kusnandar. Apa perlu dijelasin? Nanti dapat bantuan dari Dirjen, Pak Dion Pratama.
  • Menteri Riset dan Teknologi: Pak Yonatan Indrajaya. Semoga ilmu yang didapat di luar negeri bisa diterapkan di Indonesia dan mengembangkan rakyat melek teknologi sekaligus memasyarakatkan Macintosh.
  • Duta Besar Keliling untuk urusan Macintosh: H.E. Aulia Masna. Cocok untuk figur yang sudah lama menjadi Mac Ambassador untuk Indonesia. Sering-sering jalan ke luar negeri dan tetap aktif dengan Twitter up date-nya ya. :)
  • Menteri Dalam Negeri: Kayaknya Pak Prayudi cocok nih. Yang sering mondar-mandir Jakarta-Surabaya.
  • Menteri Luar Negeri: Pak Meykel Waworuntu. Pas buat yang sering mondar-mandir ke luar negeri. Tapi jangan jualan barang melulu ya. Jual juga citra Indonesia yang baik aktif melakukan diplomasi multilateral.
  • Panglima TNI: Ada tentara yang pakai Mac?
  • Kapolri: Idem. Ada polisi pakai Mac?
  • Menteri Pertahanan: ...
  • Menteri Kesehatan: ...
  • Menteri Pertanian: ...
  • Menteri Koperasi: ...
  • Menteri Tenaga Kerja: Pak Garincha. Mulailah membuka lebih banyak Apple Reseller sambil membuka lahan kerja baru. Tolong juga dilobi Apple supaya mau kasih order perakitan Mac di Indonesia. Supaya harganya murah gitu, ;D
  • Jaksa Agung:
  • Menko Polkam: Kalau nggak salah ada tuh anggota id-Mac yang pake tato. Gahar nih buat ngisi posisi ini.
  • Menteri Perikanan:
  • Menteri Pendidikan:


Maaf, Adik Gary Evano Daniel belum bisa masuk kabinet karena khawatir nanti akan melanggar UU ketenaga kerjaan, :D. Ada yang punya usulan lain?

Filed under  //  Apple   id-Mac   Macintosh   SBY  

Comments (2)

Apr 22 / 6:38am

Ulasan novel “To Kill A MockingBird”

Perkenalan

Inilah sebuah novel yang terbit tahun 60’an di AS dan dalam waktu singkat menjadi sebuah karya klasik dalam kategori sastra kontemporer Amerika Serikat (AS). Novel ini ditulis oleh seorang pengarang wanita bernama Harper Lee yang juga berteman akrab dengan Truman Capote, salah satu novelis terkenal AS. Novel ini bercerita tentang sebuah sisi kehidupan dari kaum kulit putih yang tinggal di sebuah kota kecil fiktif di daerah selatan Amerika Serikat.  


Karakter Utama

Tokoh-tokoh utama dalam cerita ini adalah Jean Louis “Scout” Finch, adik perempuan dari Jem Finch. Mereka berdua dibesarkan seorang diri oleh Atticus Finch yang melakukan praktek hukum sebagai pengacara yang bertugas di kota kecil tua yang bernama Maycomb County. Tokoh penting lainnya di dalam keluarga Finch adalah Calpurnia, seorang pembantu berkulit hitam yang bekerja seharian untuk mengurusi rumah dan mengasuh anak Atticus. Meskipun begitu, seluruh kisah dalam novel ini dimulai dari sudut pandang Scout seorang.


Ringkasan Cerita

Cerita dalam novel ini secara umum berkisah mengenai nilai kehidupan yang dianut oleh kaum kulit putih yang tinggal di bagian selatan Amerika Serikat sebagaimana yang disaksikan dari mata seorang Scout Finch. Pelajaran tentang nilai hidup ini dimulai dengan asal-usul keluarga Finch mulai dari kakek hingga generasi Atticus. Kemudian diikuti oleh pelajaran yang didapat kedua bersaudara Finch, Scout dan Jem, tentang tetangga mereka yang misterius, keluarga Radley, dimana para anggota keluarga ini jarang keluar dari rumah kecuali kepala keluarganya, Mr. Radley. Hal ini disusul lagi dengan pelajaran tentang keluarga Cunninghams yang tidak pernah mau menerima pemberian uang dari orang lain, keluarga Ewells yang berantakan dan tidak teratur, dan kaum negro yang mencari penghidupan dengan menjadi buruh tani di perkebunan kapas milik petani kulit putih. Dalam usahanya mempelajari nilai-nilai hidup, Scout banyak meminta pendapat dari ayahnya yang dianggapnya lebih memahami masyarakat di Maycomb County serta menggunakan nalarnya sendiri dalam memahami hal-hal yang dilihatnya. Dalam hal ini Scout mendapat nasihat dari ayahnya tentang bagaimana cara memahami sikap atau motif perbuatan seseorang dengan menempatkan diri pada posisi orang yang ingin kita pahami, "you never really understand a person until you consider things from his point of view — until you climb around in his skin and walk around in it."


Harper Lee nampaknya sengajar membangun cerita dengan tempo yang lambat di bagian awal dan baru memperkenalkan masalah yang sesungguhnya di bagian tengah novel. Bab-bab awal cerita lebih banyak dihabiskan untuk memperkenalkan pembaca pada karakter-karakter pendukung cerita agar dapat muncul sebuah pemahaman yang baik tentang kepribadian orang-orang yang tinggal di Maycomb County. Isu rasial yang menjadi pusat masalah dalam cerita ini dikenalkan sedikit demi sedikti dan agak samar sebelum akhirnya menjadi jelas di pertengahan cerita.


Tema utama yang muncul di bagian tengah novel ini adalah perjuangan antara prinsip keadilan yang tidak berat sebelah, kehormatan (honor), dan perilaku terpuji (conduct)  melawan prasangka negatif tentang rasisme yang didasarkan pada streotipe negatif. Sebagai pengacara, Atticus lebih banyak melakukan praktek hukum perdata daripada pidana. Namun, pada satu hari ia ditugaskan oleh hakim setempat untuk membela seorang negro bernama Tom Robinson yang dituduh melakukan usaha pemerkosaan pada Mayela Ewell. Atticus keberatan namun ia sadar ia ditunjuk karena sebagai pengacara ia telah dikenal sebagai orang yang selalu bersandar pada fakta dan tidak mau tunduk pada prasangka pribadi. Perjuangan pembelaan Tom menjadi berat karena Atticus sebagai seorang kulit putih dianggap mengkhianati kaum kulit putih dengan membela seorang buruh kulit hitam. Meskipun ada beberapa penduduk Maycomb yang membela sikap Atticus, mayoritas tetap menganggap Tom tidak perlu dibela dan harus dihukum mati. Untunglah Atticus tidak berjuang sendirian karena hakim kota, sherif lokal, dan penerbit surat kabar setempat tetap berdiri di samping untuk mendukungnya. Dalam pengadilan, Atticus menunjukkan fakta bahwa Tom tidak dapat melakukan tindak pemerkosaan seperti yang dituduhkan atas alasan cacat fisik yang dimilikinya dan tangannya yang kidal. Sebaliknya, Atticus mengungkapkan kecurigaan bahwa Tom justru dirayu oleh Mayella untuk melakukan hubungan intim. Namun hal ini gagal karena suaminya, Bob Ewell, memergoki perbuatan tersebut. Mayella kemudian mengarang cerita untuk melindungi kehormatannya dan memilih mengorbankan Tom Robinson. Pada akhirnya Atticus kalah karena juri memutuskan Tom tetap bersalah meskipun fakta-fakta menunjukan sebaliknya. Biarpun begitu, Tom tidak dihukum gantung (lynch) namun dipenjara dan melakukan kerja paksa.


Biarpun Tom telah dihukum walaupun bukti-bukti yang ada tidak mendukungnya, Atticus masih harus menghadapi perjuangan lain. Bob yang malu dan marah atas keberanian Atticus dalam mengungkapkan asumsi mengenai kejadian sesungguhnya memutuskan untuk membalas dendam. Ini dimulai dengan meludahi Atticus di depan umum, melakukan pendobrakan paksa di rumah hakim yang memimpin persidangan, dan berpuncak pada usaha pembunuhan terhadap Scout dan Jem Finch pada malam hari. 


Pendapat Pribadi

Meskipun pendapat umum mengatakan novel ini bercerita mengenai perjuangan melawan rasisme di daerah selatan AS, Harper Lee mengatakan bahwa novel ini sebetulnya bertema cinta, seperti yang tercetak di sampul belakang novel. Membingungkan memang. Biarpun begitu, selain cinta, kehormatan, perilaku, serta sikap menghargai orang lain juga menjadi warna lain dari cerita ini. Ini ditunjukan lewat sikap tegas Atticus pada Scout, Jem dan Dill untuk tidak mengolok-olok keluarga Radley dan menghargai mereka terlepas dengan keanehan yang ditunjukan. Atticus juga mengajarkan sikap manusia terhormat untuk tidak mudah terpancing emosi hanya karena ejekan atau perkataan seseorang yang negatif. Ini terlihat dalam adegan dimana Scout diejek temannya di sekolah dan anak bibinya karena memiliki ayah yang menggemari orang Negro, Nigger lover. Atticus meminta Scout untuk tetap tenang dan menahan tangannya agar tetap di bawah, “...to keep your head up dan your hand down.” Conduct juga dianjurkan pada Scout dengan cara menghormati orang tua yang berbicara kepadanya dan tidak langsung mendebat pendapat seseorang sebelum benar-benar memahaminya. Yang paling penting lagi, Scout belajar untuk memahami sikap dan pendapat orang dengan cara meletakan diri pada posisi orang tersebut sebelum mempertanyakannya. 


Sejak pemunculannya telah terjual sebanyak jutaan salinan dan menjadi bahan diskusi bacaan sastra di sekolah dan universitas. Menurut penulisnya novel ini adalah sebuah novel cinta. Setelah membacanya, saya masih bingung apakah novel ini seperti yang dikatakan oleh pengarangnya. Akan tetapi, setelah memikirkannya berkali-kali saya setuju dengan pendapat Lee. Novel ini bertema cinta karena nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerita--menghargai perbedaan gaya hidup, kehormatan, sikap dan perilaku, kemanusiaan. Novel ini sudah diangkat ke layar lebar pada tahun 60’an dan memberikan Oscar bagi filem terbaik, aktor dan aktris terbaik. Meskipun begitu, di beberapa daerah kecil di selatan Amerika Serikat, novel ini masih dilarang beredar. Tokoh Atticus dalam cerita ini menjadi figur panutan bagi para pengacara di AS. Bahkan sebuah asosiasi pengacara mendirikan monumen khusus untuk menghormatinya.


Bagi Anda yang menyukai bacaan yang mengandung nilai moral, keadilan, dan kehormata, novel ini termasuk peringkat atas dalam rekomendasi saya. Untuk yang menggemari bidang hukum, novel ini bisa menjadi pembanding bagi novel-novel karangan John Grisham. Selamat membaca.

Comments (0)

Apr 9 / 7:12am

Analisa Politik Orang Awam, 2009

Berikut adalah hasil analisa politik berdasarkan hasil perolehan sementara Pemilu 2009. 


  • Selamat buat Pak Sutrisno Bahir. Anda berhasil membungkam mulut orang-orang yang mencibir Anda selama ini. Kerja yang bagus. Saya ingin lihat bila Anda bisa memperbaikinya tahun 2014.
  • Pak Wiranto dan Pak Prabowo. Sudahlah, tak usah lagi berusaha menjadi Presiden. You had your time. Now step aside and give young people a chance to run for Presidency.
  • Bu Megawati, mundur aja deh. Orang sudah bosan dengna figur Anda. Mau nyalon jadi Presiden? Siapa yang mau jadi wakil? Pak Jusuf Kalla? Tak useh ye... Selama ini fokus partai ke bu Mega, dengan hasil sekarang apa masih bisa Ibu mencalonkan diri lagi. Calon wakil siapa? Mungkin Sutiyoso. Tapi siapa yang mau milih bu Mega kalau pasangannya Sutiyoso? Ini adalah buah simalakama buat ibu dan PDI-P. Rakyat, dengarkan ibumu. Salah bu. Justru Ibu yang harus dengarkan rakyat! Untuk 2014, calonkan Budiman Sudjatmiko. Dialah masa depan PDI-P. Masih muda dan sangat sosialis. Apalagi rekan-rekanya di PRD sudah tersebar di banyak partai. Kesempatan PDI-P dengan Budiman justru lebih cerah.
  • Senangna Pak SBY. Ongkang-ongkang kaki deh. Ayo, siapa yang mau jadi wakil saya. Golkar mau lagi? Atau PKS?
  • 6 partai teratas layak ikut Pemilu 2014. Sisanya membubarkan diri atau melebur dengan the top six.
  • PKS stagnan. Mau meningkatkan diri? Saya sarankan agar PKS membuat keputusan tegas, mau Nasionalis atau Agamawi. Lihat tuh yang empat besar, nasionalis banget. PAN juga sudah mulai lepas dari nuansa agama. Pisahkalah politik dari agama. Jangan disatukan. Kalian justru kebingungan sendiri.
  • Para Psikolog, Psikiater serta Konselor akan kebanjiran pasien sesudah Pemilu Legislatif. Rumah Sakit Jiwa juga akan didatangi pasien rawat inap dan rawat jalan. Sakit . . . sakit :D
  • ada yang mau tambahkan? Monggo ...


Cheers :)

Filed under  //  Budiman Sudjatmiko   Gerindra   Hanura   Megawati   PAN   PDI-P   PKS   Prabowo Subianto   Psikiater   Psikolog   Rumah Sakit Jiwa   SBY   Sutrisno Bahir   Wiranto  

Comments (1)

Apr 1 / 10:24pm

Pemilu 2009: Alasan Untuk Tidak Golput


Pemilu tinggal seminggu lagi. Untuk gelombang pertama, rakyat Indonesia akan memilih calon legislatif guna mengisi kursi DPR pusat, DPRD 1, dan DPRD 2. Dalam Pemilu tahun 2009, kita akan menghadapi model pemilihan yang berbeda. Jika dulu rakyat memilh gambar partai untuk kursi DPR dan memilih langsung untuk Presiden dan Wakil Presiden, kali ini rakyat akan memilih langsung calon legislatif (caleg) pilihannya sendiri sementara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tidak berbeda dengan tahun 2004. Permasalahannya sekarang, banyak orang yang merasa kebingungan dengan model pemilu legislatif langsung yang mana ini dikarenakan minimnya informasi yang tersedia bagi rakyat untuk membuat penilaian mengenai caleg yang akan dipilihnya di Pemilu nanti. Lebih parah lagi, banyak pula anggota masyarakat yang mulai apatis terhadap Pemilu 2009 karena kecewa dan kesal dengan tingkah laku menjengkelkan dari anggota DPR yang terungkap keterlibatannya dalam kasus korupsi, aksi penyuapan, perbuatan asusila, dan lainnya. Hal ini yang kemudian menimbulkan wacana dimana sekelompok warga negara Indonesia memutuskan untuk mengambil langkah golput, Golongan Putih. Golput adalah sikap dimana seseorang memutuskan secara sadar untuk tidak ikut serta dalam Pemilu. Alasan mereka sudah diungkapkan di atas dan beberapa lainnya memiliki alasan pribadi, misalnya kalah dalam kepengurusan partai. Diantara mereka yang memilih GolPut, beberapanya adalah teman saya. Seorang teman saya yang memilih GolPut bahkan sampai membuat pernyataan di dalam akun Facebook-nya, “GolPut is my fucking right.” Yep, it’s your fucking right and I respect that. Even so eh bagaimanapun juga, saya menganggap sikap GolPut sebagai sikap yang tercela oleh karena enam alasan.


Pertama, sikap golput adalah pengabaian terhadap hak dasar warga negara Indonesia (WNI). Sebagai warga negara, hak kita untuk berpendapat dijamin oleh UUD. Dalam hal Pemilu, setiap warga negara memiliki hak untuk bebas menentukan partai atau caleg pilihan pribadinya. Jika seorang WNI memutuskan untuk tidak memilih maka ia telah abai terhadap hak yang telah diberikan oleh pemerintah dengan begitu murah hati. Sungguh disayangkan manakala seseorang memilih untuk golput di jaman reformasi ini sementara pada jaman orde baru tata cara memilih diatur sedemikian rupa sehingga langkah golput adalah sama dengan madesu, masa depan suram. Dulu Anda mengeluh ketika hak untuk berbeda pendapat dibatasi oleh pemerintah. Sekarang Anda memilih absen saat pemerintah sudah memberikan kebebasan yang luas untuk berpendapat.


Sikap golput adalah sikap seorang pesimis. Anda boleh saja membantah sesuka hati namun saya tetap menganggap siapa saja yang memilih untuk golput adalah manusia yang tidak optimis. Orang yang optimis harusnya selalu penuh harapan dan semangat. Mereka yang tidak punya keyakinan dalam hidup masuk golongan pesimis. Jika belum Pemilu saja sudah mengambil sikap golput, maka Anda sebetulnya telah menyerah sebelum kompetisi berakhir. Boleh saja kecewa dengan kondisi bangsa saat ini dan tingkah laku para anggota DPR tapi ini janganlah hal tersebut dijadikan alasan untuk tidak mengikuti Pemilu tanggal 9 April nanti.


Sikap golput justru menunjukan dengan jelas ketidak pedulian seseorang terhadap kondisi bangsa saat ini. Jangan sebut diri Anda sebagai warga negara yang peduli pada bangsa jika dalam Pemilu justru memilih untuk abstain. Kepedulian terhadap Ibu Pertiwi tidaklah cukup sekedar ditunjukan dengan menyanyikan Indonesia Raya, mengikuti upacara bendera, membayar pajak, dan lainnya. Ikut serta dalam Pemilu juga mencerminkan tingkat kepedulian Anda terhadap masa depan negara ini. Saat ini adalah saat krusial dimana kepedulian Anda pada teman-teman warga negara Indonesia dan Ibu Pertiwi diuji. Terlihat munafik apabila seseorang bicara panjang lebar mengenai langkah-langkah yang harus diambil untuk memperbaiki kondisi bangsa tapi pada saat Pemilu tiba orang itu tidak menggunakan haknya. Jadi orang tersebut cuma omdo.


Golput adalah langkah tercela karena berpotensi untuk memunculkan anggota legislatif dan presiden serta wakil presiden (wapres) yang salah. Contoh paling baik mengenai hal ini adalah Presiden Iran saat ini. Ahmadinejad terpilih sebagai presiden Iran saat ini gara-gara 40% warga negara Iran mengambil langkah golput pada pemilu presiden 2005. Ini terjadi lantaran rakyat Iran kecewa karena partainya Khatami belum dapat menemukan calon penggantinya sewaktu masa jabatan Khatami sebagi presiden berakhir. Tidak ada calon pengganti Khatami yang cukup kredibel di mata rakyat Iran. Karena itu daripada memilih kucing dalam karung, sebagian rakyat Iran, 40%, memilih untuk golput. Tentu saja ini menguntungkan Ahmadinejad. Di mata kelas menengah, kaum wanita dan kaum pelajar, Ahmad sama sekali tidak berterima karena dia anti-reformis. Kombinasi dari sikap GolPut dan tiadanya lawan kompetisi yang sebanding membuat dia terpilih sebagai presiden Iran saat kini. Hal ini kemudian disesali oleh banyak orang Iran lantaran masa kepresidenan Ahmad justru lebih buruk dari Khatami. Jika sebelumnya mahasiswa menikmati iklim kebebasan intelektual, dapat berdemonstrasi, kini mereka justru ditindas oleh Garda Revolusi, barisan pendukung Ahmad. Kondisi ekonomi Iran yang cukup baik pada masa lalu sekarang malah memburuk. Jika kaum wanita Iran menikmati banyak kebebasan sebelum tahun 2005, sekarang kaum wanita kembali lagi tertindas hak-haknya, bayangkan seorang pria ditunjuk untuk memimpin badan negara yang mengurus peranan wanita. Daripada mengurus situasi dalam negeri, Ahmad justru sibuk dengan politik mercusuarnya di luar negeri. Itulah bahayanya sikap golput. Hal ini juga terjadi pada rakyat Amerika Serikat. Sikap golput justru membuat Bush memerintah lebih lama lagi.  Orang yang salah terpilih untuk duduk tempat yang salah. Tahun 2008 kemarin, rakyat AS memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Golput adalah langkah kontraproduktif terhadap embusan hawa perubahan yang sedang berlangsung. Anda ingin perubahan? Datanglah ke TPS pada Pemilu nanti. Perubahan akan terjadi bilamana Anda juga terlibat didalamnya. Jika Anda menghindar maka aksi perubahan tidak akan pernah terlaksana secara paripurna. Sungguh aneh melihat seseorang berteriak-teriak mengenai perubahan namun dirinya sendiri tidak mau terlibat dalam upaya menuju perubahan itu sendiri. Saya pernah mendengar sebuah kalimat mutiara yang berbunyi, “Mereka yang tidak ikut serta dalam aksi perubahan tidak memiliki hak untuk mengeluh”. Masuk akal sekali. Dalam kondisi negara yang tidak menyenangkan saat ini banyak orang Indonesia yang mengeluh dan menginginkan perubahan. Kaum pekerja ingin agar gaji mereka dapat naik. Orang tua ingin agar biaya sekolah menjadi lebih murah. Mahasiswa ingin agar harga-harga barang kebutuhan hidup turun. Mengeluh dan mengeluh saja tidak akan mengubah keadaan. Dibutuhkan sebuah aksi, sekecil apapun itu, untuk mewujudkan suatu perubahan. Boleh saja bersikap golput dan berpendapat bahwa bukan Anda yang rugi apabila orang yang salah terpilih sebagai anggota DPR atau Presiden RI. Jika hal demikian yang terjadi, saya melarang Anda untuk mengeluh apabila kondisi negara memburuk. Kenapa? Lah, ada kesempatan untuk berubah Anda malah golput. Kok masih mengeluh? Dengan mengambil sikap golput Anda sudah siap dengan konsekuensi untuk menerima hasil apapun. Toh, meskipun golput, Anda juga yang akan menikmati kalau terjadi perbaikan kondisi kehidupan dari hasil Pemilu nanti. Anda tidak ingin negara ini bernasip serupa dengan Iran atau AS bukan?


Sejarah sudah memberikan dua contoh mengenai apa yang terjadi apabila sebagian besar rakyat suatu negara memilih untuk golput, lihat Iran dan AS. Perlukah Indonesia ikut tercatat dalam sejarah oleh karena hal serupa? Saya tidak tahu apakah suara yang saya berikan tanggal 9 nanti akan memberika perubahan seperti yang saya inginkan atau berbeda jauh dari harapan saya. Apapun hasilnya nanti, saya tetap merasa bangga karena sebagai warga negara saya sudah menunjukan kepedulian dan tanggung jawab terhadap masa depan Ibu Pertiwi. Kalau sejarah mengajarkan kita sesuatu, maka kita tahu bahwa masa kini dibentuk oleh apa yang terjadi di masa lalu. Ini dapat diparalelkan dengan masa depan. Masa depan negara ini tergantung dari keputusan yang kita ambil hari ini.  

Filed under  //  2009   Ahmadinejad   Amerika Serikat   golput   Iran   Pemilu   pesimis   tercela  

Comments (0)

Mar 29 / 8:49am

Tagging Somebody in A Note or A Photo: An Issue among Facebook Users

Recently, a friend of mine wrote in his FB that he’s annoyed by the behavior of some of his FB friends. He is annoyed by his friends who often tag him in their notes of photos. This isn’t new to me for I also do the same thing. I do it because I note that others do the same thing. In the first place, FB users can upload photos and publish note in their FB account. To be able to share their photos and notes with fellow FB friends, users can tag people that appear in their photo collection or mentioned in their notes. Just type your friends’ name and they’ll be notified by FB the minute they log in. Originally, this feature is good for sharing photos or notes. By having yourself tagged in a photo or a note, the photo or the note can appear in your account although you do not create it yourself. Lately, many FB users “maximize” this tag feature. A single photo can be tagged with 40 names without having any of those names exist physically in the photo, a practice common among teenagers, as happens to my teenage friends. The same thing also happens with published notes. I sometime see my friend’s name tagged in a note. But after four times of reading, I still cannot find his name in the note at all. So, what’s the point of tagging a person in a photo or a note if they don’t exist at all in either one? Well my dear friend, your comment arouse a personal curiosity and as a result I provide you with two reasons behind this unique new trend of friend tagging among FB users.


FB users tag their friends’ name in photos or notes to inform them about their new post. When you write what’s on your mind, your friends can give comment and you’ll be notified almost instantly. It also applies to your own photos or notes. FB itself has an instant notification feature that lets you know about your friends’ comment of your photos, videos or notes. That notification feature is right at the lower right screen of your active window. Unfortunately, whenever your friend post a note, photo, or video you will be less aware of it. It happens because FB does not notify you trough that unique feature. You only learn your friends recent activities updates from your FB homepage. It should not be a difficult thing to track your friends’ latest notes or photos if you have only 40 friends in your network circle. On the other hand, it’s a real problem when you have 100 or 300 friends in your circle. How can you follow your 300 friends activities while you are busy with your own work? Can you do that when you have 24 internet access? Unlikely. It’ll be more problematic if you’re don’t even have the luxury of round the clock internet access. The problem is compounded by your 200 friends activities that fill a whole page of your FB status updates. Your friends take quizzes, join groups, become a fan of ..., etc. Can you keep on track of those activities? Will you scroll your window way down just to see the development of your friends’ status? Then, it is predictable that FB users unconsciously ignore updates not relevant nor interesting to them. Yet, they won’t ignore anything in the status updates that has their name. Therefore, it’s not a wonder when your friend tag your name in their notes or photos to inform you of their new post. Because your name is tagged, the notification window in the lower right will flash its red bubble and you’ll be alerted instantly. The appearance of your name in your friend’s note or photo will automatically grab your attention thus attract you to look into further.


Besides getting your attention, your friends tag you to invite your comments. I see this fact among my friends who work as photographers. They sometime post photos in their album and tag it with their friends name just to get comment on it. Sometime they do it on real purpose, other times they just want to have fun with it. Junior photographers often tag my friends in their photos. For example, a junior photographer tag my friends--Aero, Nyo Just, and Ayez--in his/her landscape photo of Borobudur Temple. For what? They’re not in the picture. Well, apparently, she/he did that to invite my friends comment. Maybe this beginner wanted to know if the picture was good enough or not. Indirectly, she/he asked these professional photographers to give suggestions about her/his photo; Is there any flaw in it?, Should I improve it? Did I get the angle right? Do you like the composition? Is it good? FB users also tag your name in their notes for similar reason. They want to know if you agree or not with her/his writing. They may also want to know if you can contribute your own thought about their notes. In case of my notes, I never tag my friends without any purpose at all. When I post a note about education, I usually tag my friends who work in education world or my friends who have become parents themselves. Likewise, whenever I post a note about my review of books I have read, I tag those who share similar interest. If I post a note about culinary delight of Depok, I tag my friends who live outside Depok because I’m promoting a nice restaurant or a great food stall around Depok. 


Yes, it’s true that people mostly tag their friends name in their photos and notes to get their attention. However, it’s not right to think that it’s the sole purpose. The other reason of this unique behavior is to invite comments, whether you are interested or not. On the other side, I don’t agree if one labels this behavior as Tag Spam. No. This tagging thingy is not a spam. FB is not the same as Email Inbox. With your email inbox, you don’t always know the content of a strange email when the subject is left blank. In FB, you know what’s inside your friend’s note even when there’s no title of it. Talking about spams, with 200-300 friends in your soc-net, you have massive stream of info of your friends activities; he just took this quiz, she joined that group, three of your friends are fans of bla bla bla, Judy commented on Juda’s photo. Aren’t those things kind of spams? You aren’t forced to read or see it if your name is tagged in your friend’s note or photo. If you like the preview, click the link. If you don’t, don’t click, as simple as that. Apart from it, you should be glad when your name is tagged in a photo or a note, doesn’t matter if you appear or not. It’s a kind of appreciation, a respect. You are tagged because your friends think that you are important. You’re so special for them that you deserve to be tagged because the info might be of your interest. Surely, you still reserve the right to look further or to neglect the note or photo. It’s your freedom and the freedom is right at you index finger. Cheers :)

Filed under  //  Facebook   Issue   Tag a name   Tag spam  

Comments (1)

Mar 17 / 5:12pm

Prabowo vs Sintong: Sebuah Pendapat Pribadi

Sewaktu Habibie menerbitkan autobiografinya, Prabowo tersinggung. Ketika Wiranto menerbitkan bukunya, Prabowo mendebatnya. Saat Sintong menerbitkan memoarnya, Prabowo minta maaf. Wkw kwk kwk kwk...

 

Mayoritas masyarakat Indonesia setuju pada pendapat bahwa ketiga buku tersebut terbit untuk menjegal langkah Prabowo untuk menjadi Presiden Indonesia. Saya adalah salah satu orang yang berpendapat demikian. Tapi, selain pendapat diatas, saya melihat sebuah benang merah di balik penerbitan buku-buku tersebut. Dalam ketiga buku itu, saya melihat bahwa ketiga tokoh yang mempublikasikan buku tersebut memiliki satu pendapat bahwa Prabowo kurang layak mendapat jabatan Presiden RI.

 

Habibie, Wiranto, dan Sintong, terlepas dari karir pribadi mereka, adalah tokoh besar dengan pengalaman yang luas. Mengenai Prabowo, mereka memiliki pengetahuan yang luas dan langsung yang memungkinkan mereka untuk membuat penilaian pribadi mengenai dirinya. Terlepas dari benar tidaknya isi buku yang mereka tulis, ketiganya memiliki pengetahuan mengenai tingkah laku Prabowo yang emosional, tidak rasional, dan, mungkin, cenderung megalomaniak. Habibie menuduh Prabowo hendak mengkudetanya. Wiranto menyalahkan Prabowo karena telah melakukan penculikan terhadap aktivis PRD dan menyalah gunakan wewenang yang dimilikinya. Sintong menunjukan kenyataan bahwa Prabowo pernah berupaya melakukan penculikan terhadap jendral-jendral TNI-AD dengan membuat alasan akan adanya upaya kudeta terhadap Presiden Soeharto (Alm) pada tahun 1984.

 

Saya baru membaca sedikit karya tulis Pak Sintong. Meskipun begitu, saya terkejut ketika mengetahui bahwa Prabowo pernah berusaha meniru aksi Kolonel Untung dan Pak Harto pada tahun 1965 dengan mengincar sasaran Jendral L.B. Moerdani, Jendral Jasim, Jendral M. Yusuf, dan lainnya. Jikalalu Bung Karno dilarikan ke Halim dan kemudian dibawa ke Bogor. Pak Harto mau dilarikan ke Cijantung, markas Kopasandha, sekarang Kopasus. Gilanya, Prabowo yang cuma berpangkat Kapten mau melangkahi atasannya Luhut Panjaitan, yang waktu itu sudah Mayor. Hebatnya, dia berani pula menuduh Jendral Jasin, sudah bintang tiga, hendak bersekutu dengan Moerdani. Wau, orang ini memang punya kepribadian yang berbahaya. Di jaman Habibie, dia dicopot dari jabatannya sebagai kepala Kostrad atas aksi pribadinya dalam penculikan aktivis PRD. Tidak puas, dia mendatangi Istana dengan pengawalan pasukannya untuk memprotes keputusan tersebut. Tapi dia terhalangi oleh Sintong, waktu itu sudah menjadi penasihat Habibie bidang keamanan. Ada rumor kalau Prabowo waktu itu memaksa masuk dengan membawa senjata. Kehadiran Sintong malah membuyarkan rencananya. Paspampres segan dengan Prabowo tetapi Sintong tidak, Ya elah, lebih senior gitu lokh. Prabowo masih kacangan dibandingin dengan Sintong yang sudah ikut operasi militer di banyak tempat. Isu yang berkembang, jika Prabowo tidak mau meninggalkan pistolnya pada Paspampres, maka Sintong sendiri yang akan menembak kepalanya. Saya cenderung percaya pada isu tersebut.

 

Sejarah memang memiliki banyak sisi. Faktanya, memang tidak ada kebenaran mutlak dalam sejarah. Tapi, tanpa terbitnya buku Habibie, Wiranto dan Sintong pun saya tidak akan pernah memilih Prabowo sebagai Presiden. Alasan saya sederhana saja. Rekam jejak Prabowo buruk dan tidak meyakinkan. Tabiatnya pun buruk, mentang-mentang jadi menantu Alm Pak Harto, dia bisa bersikap sesuka hatinya. Anda boleh berbeda pendapat dengan tulisan saya. Namun, terbitnya buku-buku yang menyentuh diri Prabowo patut diperhatikan dan dibaca dalam menyambut PilPres 2009.

 

Iklan kampanya Gerindra memang bagus. Biarpun begitu, janganlah Anda terlalu terbuai dengan janji-janji surga dari Prabowo dan partainya. Ingat, adalah suatu malapetaka apabila orang yang salah duduk dalam posisi dimana dia memiliki kekuasaan penuh untuk melakukan semua keinginan pribadinya. Saya tidak tahu apakah seorang Prabowo masih memilik pengaruh atau tidak di TNI saat ini. Yang pasti, keberadaannya sebagai calon Presiden harus disambut dengan sikap kritis. Waspada selalu.

Comments (2)

Mar 14 / 1:38pm

Manfaat Serikat atau Asosiasi Pekerja Profesional di Indonesia

Serikat Pekerja telah menjadi organisasi yang umum dalam dunia tenaga kerja di Indonesia. Jika pada jaman penjajahan dan jaman orde baru kaum pekerja banyak mendapat tekanan dan pengawasan ketat dari penguasa dalam hal berorganisasi, kini kaum pekerja menemukan kebebasan mereka dalam era Reformasi kini.Kebebasan ini ditandai dengan mulai berdirinya berbagai macam serikat pekerja di luar organisasi resmi bentukan pemerintah dulu seperti Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Selain serikat pekerja umum, kini juga banyak bermunculan serikat pekerja yang lebih spesifik seperti Serikat Pilot, Asosiasi Wartawan, Pekerja Metal, Pekerja Wanita, Pekerja Profesional, dan lainnya. Hanya saja, keberadaan serikat atau asosiasi pekerja ini lebih banyak berada pada tataran pegawai pabrik, buruh, dan sedikit pada tataran pegawai kantor. Padahal, keberadaan organisasi pekerja ini dapat menghasilkan tiga manfaat baik.

 

Serikat Pekerja atau Asosiasi Pekerja adalah wadah untuk memperjuangkan kepentingan pekerja. Lewat organisasi ini, para pekerja memiliki tempat untuk memperjuangkan keinginan mereka seperti, misalnya, kenaikan gaji, cuti, pemberian bonus tahunan, dana pensiun, asuransi tenaga kerja, atau besaran pesangon. Keberadaan badan pekerja ini memberikan kemampuan pada karyawan untuk melakukan tawar menawar yang lebih baik dalam memperjuangkan kepentingan mereka sebagai pegawai sebuah perusahaan. Dengan makin besarnya sebuah organisasi SP, posisi karyawan dalam melakukan perundingan dengan pihak perusahaan, pimpinan dan pemilik, juga menjadi lebih kuat. Tekanan yang dilancarkan pekerja lewat SP bakal menjadi suatu hal yang sulit untuk diremehkan oleh para manajer dan pimpinan perusahaan. Tentunya, kepentingan pegawai  yang diperjuangkan tidaklah sebatas urusan gaji, insentif atau cuti saja. Lewat SP/AP, pekerja bisa juga mempengaruhi perusahaan untuk memperbaiki mutu pekerjan pegawai lewat peningkatan fasilitas perusahaan, contohnya, instalasi jaringan komputer di kantor, akses internet di kantor bagi semua pegawai, pemberian asuransi kerja, perbaikan ruang kantor, pembuatan kantin di lingkungan pabrik, pengaturan jam kerja normal serta jam kerja lembur dan sebagainya. 

 

Selain memperjuangkan kepentingan karyawan, SP/AP juga dapat menjadi tempat bagi para anggotanya untuk meningkatkan kemampuan profesional mereka. Di luar negeri, SP/AP tidak cuma melakukan demonstrasi untuk menuntut kepentingan atau hak karyawan, seperti yang terjadi di Indonesia, tapi juga menyelanggarakan acara rutin guna meningkatkan keprofesionalan anggotanya. Sebagai contoh, sebuah asosiasi penjual sepatu, shoes salesperson, di AS mengadakan kontes pemilihan penjual sepatu terbaik setiap tahunnya. Kinerja si penjual diukur lewat banyak kriteria, yang mana salah satunya adalah berapa banyak sepatu yang telah dijual selama setahun. Di lain tempat, asosiasi pekerja bangunan menyelenggarakan konvensi rutin setiap tahun dan membicarakan aspek-aspek terkait dalam pekerjaan mereka seperti peningkatan keamanan dan keselamatan pekerja, pegenalan produk baru pendukung pekerjaan mereka dan lainnya. Contoh lain adalah asosiasi guru. Asosiasi guru melakukan pertemuan besar seperti konfrensi untuk membahas perkembangan isu-isu terbaru yang menyangkut dunia pengajaran seperti, kurikulum, penerapan teknologi di kelas, pelatihan guru dan bahkan bisa membuat ujian sertifikasi standar kompetensi para guru. Nantinya, materi yang telah dibahas dalam pertemuan asosiasi guru bisa langsung diusulkan ke kementrian Pendidikan sebagai bahan perbaikan dunia pendidikan. Asosiasi fotografer profesional bisa melakukan seminar tahunan untuk membahas perkembangan dunia fotografi dan tren fotografi di masa depan. Di Indonesia, ada acara Salon Foto yang melakukan kedua hal tersebut dan masih menambahnya dengan kompetisi Salon Foto skala nasional. Pewarta Foto Indonesia (PFI) sering mengadakan pameran foto jurnalistik karya anggotanya serta membuat kompetisi foto jurnalistik nasional, meniru kompetisi World Press Photo (WPP).

 

Manfaat lain dari AP/SP yang dapat dipetik, namun jarang digunakan, adalah kemampuannya untuk menjaring calon penerus sebuah profesi di masa depan (Winarno, 1989). Kita semua pasti sudah pernah mengalami kedatangan taruna TNI atau Polri ke ruang kelas pada saat kita duduk di bangku SMA, kelas tiga. Kedua organisasi itu secara rutin mendatangi setiap sekolah setiap tahun untuk memberikan penerangan mengenai kesempatan karir di bidang militer atau kepolisian. Selain memberikan ceramah, mereka juga menunjukan foto atau memutar filem mengenai kegiatan mereka sehari-hari di tempat pelatihan mereka. Beberapa dari teman kita kemudian bergabung dengan TNI dan Kepolisian sesudah lulus SMA. Sayangnya, organisasi pekerja profesional yang lain jarang yang mau datang ke sekolah untuk memberikan penataran mengenai peluang karir di bidang profesi mereka. Harusnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengirim perwakilan ke sekolah SMA guna memberikan penyuluhan tentang pekerjaan jurnalistik. Asosiasi Perancang busana dapat memberikan presentasi mengenai dunia busana dan jalan yang perlu ditempuh untuk menjadi perancang busana yang baik. Perlu juga Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) medatangi langsung sekolah untuk mempromosikan tantangan dan kesempatan dalam dunia akuntansi. Supaya menarik, AP/SP bisa mendatangkan pesohor di bidang yang disuluhkan. Asosiasi seniman desain grafik, kalau ada, bisa mendatangkan Andi S. Boediman guna memberikan presentasi tentang kesempatan kerja di industri kreatif. Yang lainnya, Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PArSI) dan Masyarakat Filem Indonesia (MFI) membawa aktor terkenal sinetron atau sutradara terkenal guna mengajak murid yang berminat pada dunia filem untuk bekerja di dunia sinetron atau perfileman. Dengan turun langsungnya para pelaku langsung bidang pekerja profesional, para siswa kelas 3 SMA dapat mendapatkan gambaran langsung mengenai peluang karir di masa depan yang tersaji di depan mereka. Pertemuan langsung antara murid dan para profesional ini juga akan berimbas pada pilihan yang akan dibuat oleh siswa selepas SMA. Kedatangan langsung seorang Adnan Buyung Nasution akan memberikan penerangan dalam benak murid mengenai seperti apa rupanya dunia kerja seorang pengacara dan notaris. Interaksi langsung antara murid dengan Andy F. Noya pastinya memberikan pencerahan mengenai jalan yang harus ditempuh untuk bisa terjun di bidang jurnalisme televisi. Jika para murid kelas 3 ini berencana untuk kuliah sesudah lulus, mereka akan mendapatkan kemudahan dalam menentukan pilihan jurusan yang akan diambil di tingkat universitas. 

 

Secara singkat, keberadaan organisasi setingkat SP/AP di Indonesia perlu lebih digiatkan lagi. Di masa kini, paradigma SP/AP bukan cuma sebatas organisasi buruh. Programmer komputer Indonesia juga perlu membuat asosiasinya sendiri. Profesional di bidang kehumasan bisa memulai langkah pembentukan asosiasi kehumasan. Mekanik mobil atau sepeda motor pun juga tidak boleh ketinggalan dalam membuat organisasi serupa. Serendah apapun sebuah pekerjaan, pelakunya layak disebut sebagai seorang profesional. Jadi, jangan keburu rendah diri duluan. Asal tahu saja, di luar negeri bahkan terdapat asosiasi penjual ikat pinggang, ikat pinggang! Bayangkan itu. Tukang daging juga memiliki asosiasinya sendiri. Bintang filem porno saja punya keanggotaan dalam asosiasi industri filem porno. Tukang ledeng, pipa, sudah lama memiliki serikat pekerja. Nah, bagaimana dengan kaum profesional Indonesia?

Filed under  //  Asosiasi Pekerja   Manfaat   Pengkaderan   Serikat Pekerja   TNI dan Polri  

Comments (1)