Some Personal Thoughts

Some Personal Thoughts

Todo Sibuea  //  I am a systemic anomaly that is inherent to this universe. This is my personal blog where I express my thoughts on matters that cross my mind.

All of my articles here are protected under Copyright Law. If you want to use my article for your particular purpose, please inform me to get my confirmation. If you do get it, don't forget to give credit to me for the article you use.

Sep 18 / 4:39pm

An Imperfectly Perfect Beauty

The imperfect beauty is the perfect beauty. The quest for perfect beauty is in reality the journey of satisfying one's thirst of perfection driven by an awareness of his own imperfection. 


You're beautiful because you're imperfect.

It is the thickness of your lips,

the freckles on your arms,

the scar on your upper lip,

the shrill in your laughter,

the high pitch laughter,

the husky voice of yours,

the wide smile of yours,

the lopsided grin of yours,

the wide sensual jaw,

the chubby face,

the toothless look of your grin

that makes your beauty perfect!


For a perfectionist like me, the imperfections in your beauty are what make you perfectly beautiful.

They are the dumbo ears beneath your thick hair,

the dimples you show whenever you smile,

the crooked upper teeth,

the metal brace on your teeth,

the thickness of your lips,

the broad shoulders you have,

the wide hips,

those slanted lazy eyes,

the straight lines on you cheeks whenever you press your lips,

the freckles on your complexion

that make your imperfect beauty complete my imperfect desire of perfectionism.


Perfectionism is all about details. Thus, the unforgettable details of your imperfection are what make my life and yours completely perfect.

Filed under  //  imperfection   inebriate   perfect beauty   philosophy  

Comments (0)

Sep 7 / 10:38pm

J-KO Buat Siapa?

Hari J-Ko Buat Siapa?

Minggu lalu saya mendapatkan pemandangan mengejutkan saat melintas di depan komplek kampus Ekonomi, Universitas Indonesia (UI) Depok. Pemandangan tersebut adalah sebuah spanduk besar yang mengkampanyekan pemakaian baju koko dan jilbab selama bulan Ramadhan (Foto spanduk tersebut dapat dilihat di bawah). Kaum wanita diminta untuk menggunakan jilbab, setiap hari, “Everyday is Jilbab Day”, sedangkan kaum pria diajak untuk memakai baju koko setiap hari Selasa dan Jumat, “Every Tuesday and Friday is Koko Day”. Saya pikir pihak yang memasang spanduk ini ingin mengajak kaum muslim menggunakan busana khas Islam agar dapat memaknai bulan Ramadhan dengan baik. Sayangnya, pihak itu tidak memperhitungkan tentang dua dampak yang timbul dari spanduk-nya.

Pertama, spanduk ini SAMA SEKALI tidak menunjukan sensitifitas pada kaum non-muslim di dalam kampus. Pemeluk agama Islam yang bekerja dan kuliah di departemen Ekonomi UI paham dengan baik pesan yang ada di dalam spanduk. Akan tetapi, kaum Kristiani, Budhis, dan Hindu pasti merasa terganggu dengan pesan yang ada di spanduk tersebut. Hal ini terjadi karena spanduk itu sama sekali tidak mencantumkan dengan jelas tentang siapa yang diajak untuk memakai jilbab setiap hari dan memakai baju koko setiap Selasa dan Jumat. Apakah ajakan ini untuk mereka yang muslim atau juga ditujukan pada non-muslim? Ingat, dalam duni akademik, segala sesuatu harus jelas(!) agar tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam.

Yang kedua, karena spanduk ini tidak sensitif terhadap perasaan akademisi dan mahasiswa non-muslim di dalamnya, sikap netral kampus kini mengalami “gangguan”. Saya tidak tahu gangguannya seperti apa namun kondisi di dalam kampus kini pastinya tidak akan sama seperti dahulu. Bicara soal netral, sah saja apabila pihak kampus memasang spanduk ucapan selamat Idul Fitri untuk menyambut hari raya Lebaran atau spanduk ucapan selamat Natal untuk menyambut hari Natal. Adalah suatu hal yang bagus pula bila spanduk ucapan selamat Waisak dan ucapan selamat Hari Nyepi dipasang bagi kaum Budhis dan Hindu. Sayangnya, imbauan mengenakan jilbab dan baju koko terkesan seperti ditujukan kepada “semua orang”. Saya tidak pernah melihat adanya spanduk yang meghimbau orang-orang untuk menggunduli rambutnya dalam menyambut hari raya Waisak. Juga tidak ada spanduk yang mengundang orang untuk mengenakan kalung salib dalam rangka menyambut hari raya Natal. Kini, saya punya asumsi kuat bahwa ada orang-orang di dalam kampus yang tidak menyetujui keberadaan spanduk itu namun memilih untuk tidak bersuara karena mereka adalah kelompok minoritas.

Meski spanduk ini memiliki tujuan yang baik dari pihak pembuat, dia telah mengabaikan dampak yang akan timbul dari pesan yang ada di dalamnya. Jika ingin memasang spanduk kegiatan bernuansa agama, harusnya pihak pembuat sensitif terhadap perasaan dari pihak pemeluk agama lainnya dan memperhitungkan azas netralitas yang berlaku di dalam kampus. Dari pengalaman saya sebagai mantan anak kuliahan, mahasiswa memiliki kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan bernuansa agama tertentu di dalam kampus sepanjang tidak melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak universitas. Universitas sendiri memberikan jaminan bagi mahasiswanya dan pegawainya yang berasal dari beragam latar belakang agama untuk menjalankan ibadahnya sesuai peraturan yang berlaku dalam agama masing-masing. Jadi, penempelan poster-poster kegiatan agama di dinding kampus menjadi suatu hal yang lazim, tentunya harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari pihak PuRek III. Untuk pemasangan spanduk kegiatan agama, mahasiswa biasanya juga harus meminta ijin dari pihak universitas sebelum memasangnya. Yang megecewakan, kedua hal diatas nampaknya kurang diperhatikan saat spanduk J-Ko dibuat dan dipasang. Semoga di masa depan hal seperti di bawah ini bisa dihindarkan demi kepentingan banyak orang.

Catatan Tambahan
Memasang spanduk kampanye untuk memilih partai politik tertentu saja dilarang masak spanduk kampanye penggunaan simbol agama tertentu dibiarkan.

         

Comments (0)

Aug 30 / 4:08pm

Last Race for Indianapolis Moto GP

Pedrosa fell. Rossi fell. Even Marco fell too. On such a safe circuit, several top GP riders fell while they were cornering. The strange thing, besides falling while cornering, they also fell when they were not in dangerous position, no close tailgating nor even side by side cornering. The weather even looked fine, not rainy like last year. This is a surprise to me. Though I haven't learned the official reason of their accident, losing concentration due to Indianapolis circuit surface is my rough guess for their fall.


When Dorna decided to bring Moto GP to Indy last year, I thought it was going to be great. Why? Because before GP, it has been used for F1 race for several years. The circuit itself is famous for spoiling racers with high speed experience. When Schumi was still racing, he said that he could peak 300 km/h while cornering with his Ferrari. Wow! You know that he was not bluffing have you seen the the circuit lay-out. There aren't many corners in the course but plenty straight sections decorating it. So, Indy should be an ideal place for GP racers who like speeding on a straight.


But after I watched Indy GP twice in a row, last year and this year, I came to a conclusion that it is no longer a fun circuit for a race. Look at its course and compare it with other courses in Europe, Asia and Australia. It's waaaaaay toooo flat!!! Come on. A motorbike circuit should be hilly and curvy like Assen, Jerez, Philip Island, Mugello, and Brno. Yes, racers' job is to race their bike as fast as they can and think nothing but winning. But racing on a flat course can be very boring, even for a top and experienced GP rider like Valentino Rossi. I think the three rider previously mentioned above fell because they got bored with this flat circuit. Yes, the straight section can break the boredom but I too would fall I were racing on flat course like Indy. There's no excitement in this circuit--less twisty corner, no hills, no parabolic turn.


A motorbike circuit must be different from a car circuit. It must have several cury sections and less straight sections. I mean, you should look at the fact that the power of a motorbike, in comparison to a car, is its ease of maneuverability. For those who have experience motorbike riding, I know you'll say Amen to that. I understand that even a motorbike need to have a high speed ability but the joy of riding doesn't come from speeding but from cruising with it. You should feel the excitement of leaning your bike to the left and right at medium or high speed. Assen and Philip Island is the best examples of great motorbike circuit.


In my understanding, Indianapolis is flat because it was built solely for car racing. With its straight sections, it really caters the need of NASCAR race, top speed. American themselves are known to be crazy about speed and speed. They are what matter the most. You can see the proof by looking at the fact that most racing circuits in USA adopt speedway style, where cars go round and round, in oval like course. 


How about Laguna Seca? In my opinion, it's already a good circuit to host a Moto GP race. It has resemblance to Assen and Jerez in terms of tight corners and twisty setions. It is also dynamic with its uphill downhill course, especially the Corkscrew. Indy has none of it. Sepang has similar characteristics to Indy but it has quite rich of corners and parabolic turns. 


In short, this year must be the last year for Moto GP in Indianapolis Speedway. Pleas Dorna, find another circuit in USA that looks and feels like Assen or Philip Island. Indy is no longer suitable for motoracing. It's not exciting due to its flat surface and poor of tight twisty corners. Moto racer are dynamic people but Indy isn't too dynamic for Rossi, Melandri, Pedrosa, etc. If Nicky thinks the other way around, let him do it. Let this year be the last year for GP riders to suffer in Indy. 

Filed under  //  Assen   Dorna   Indianapolis   Moto GP   motoracing  

Comments (1)

Aug 9 / 7:14am

Kebodohan Supermarket

Orang-orang supermaket ini malah menjadi bodoh. Saya paham bila mereka melakukan hal di atas untuk mencegah pengunjung brengsek yang  bermain-main dengan isi parfum guna mendapatkan wangi badan yang gratis.Tentu saja menejer supermarket manapun akan kesal dengan pengunjung macam ini.


Tetapi, mengunci semua parfum dengan cara yang terdapat di dalam foto adalah sebuah KEBODOHAN karena mencegah calon pembeli serius untuk mencoba wangi-wangian deodoran yang tepat bagi dirinya. Memangnya dengan membaca tulisan sang calon pembeli tahu deodoran mana yang tepat baginya?


Silahkan saja mengunci deodoran AXE yang dipajang tapi JANGAN LUPA memberikan satu unit deodoran AXE, untuk tiap tipe wangi-wangian, yang dapat dicoba siapa saja!!! BELAJARLAH dari toko atau kios parfum memberikan beberapa contoh unit deodoran atau parfum yang dapat dicoba oleh calon pembeli.

Filed under  //  AXE   deodoran   kebodohan   supermarket  

Comments (0)

Aug 8 / 6:09am

foto rumah teroris dr TEMANGGUNG - Kaskus - The Largest Indonesian Community

Photos showing the aftermath of Anti-Terrorists Squad attack in Temanggung.
One person died in this attack and it was suspected that he was Noordin M. Top. Still, we have to wait for official confirmation from Indonesian Police.

Filed under  //  anti teroris   Densus 88   KasKus   serangan   Temanggung   Teroris  

Comments (0)

Aug 7 / 7:06am

My Favorite Font: A Historic Recount

My recount of in search of favorite font. :)

Filed under  //  Bookman Old Type   favorit   font   Garamond   Helvetica   Palatino   Times New Roman  

Comments (0)

Jul 29 / 9:09am

Surat Terbuka Bagi Para Joki SNMPTN

Salam hangat,

Dalam Kompas edisi Jumat (24/7) terdapat pemberitaan tentang persidangan yang dilakukan dewan akademik ITB terhadap beberapa mahasiswanya yang tertangkap tangan dalam kasus perjokian SNMPTN di Makassar. Pencarian fakta telah dilakukan dan keputusan telah dibuat. Kalian telah mendapatkan sanksi dari Dewan Akademi ITB dalam sidang yang baru-baru ini dilakukan. Mayoritas dari kalian mendapatkan hukuman pemecatan dari kampus dan segelintir mendapatkan skors. Bahkan ada pula usulan agar kalian dimasukan ke dalam daftar hitam agar tidak diterima untuk kuliah di universitas manapun. Meski hukuman baru dijatuhkan, terungkapnya kasus perjokian itu sendiri sudah “menghukum” kalian sejak awal. Saya hanya bisa membayangkan perasaan kalian waktu tertangkap tangan; resah, kalut, serta galau. Segala sesuatu langsung menjadi berbeda. Dan ketika kalian harus menjalani persidangan di depan orang-orang yang menjadi dosen kalian, perasaan yang dialami akan seperti: sesak di dada, malu di hadapan teman-teman sekampus, putus asa, dan merasa kerdil di depan orang tua. Masa depan cerah yang di bayangkan selama ini tiba-tiba langsung menjadi suram.

Dari sudut pandang hukum dan akademis, perbuatan yang kalian lakukan adalah salah dan harus dipertanggung jawabkan. Dalam artikel di Kompas tentang sidang yang kalian hadapi, tergambar bahwa kalian hanya bisa pasrah dalam menerima hukuman yang diberikan. Entah dipecat atau diskors, perbuatan kalian ini sudah tercatat hitam di atas putih dalam sejarah akademis ITB dan sejarah kehidupan pribadi kalian. Mereka yang mengenal kalian--di sekolah, di kampus, di rumah--tidak akan mudah melupakan hal tersebut. Dari mereka semua, ada yang merasa prihatin, ada yang mencela, dan ada yang meledek. Dan apabila kalian memiliki musuh, orang-orang tersebut akan sangat menyukai kesempatan ini sebagai cara untuk menyerang diri kalian di saat yang paling lemah.

Salut
Meskipun begitu, melewati hujan kritikan, cacian, celaan, sinisme, sindiran, saya meyatakan kebanggaan atas sikap dewasa yang kalian perlihatkan. Lewat berita tentang kalian yang saya ikuti di Kompas, saya kagum melihat sikap dewasa yang tinggi dalam menerima konsekuensi dari perbuatan kalian. Saya sepertinya tidak melihat adanya upaya dari kalian untuk menyalahkan pihak lain ketika aksi tersebut ketahuan. Dan meskipun kalian memiliki hak untuk membela diri, kalian tidak terjerumus dalam sikap mengemis atau cengeng demi mendapatkan pengampunan. Saya betul-betul kagum dengan hal tersebut, padahal kalian baru mahasiswa tahun pertama.

Tak dapat disangkal lagi bahwa catatan kehidupan kalian yang selama ini baik telah ternoda oleh sebuah tindakan tercela. Namun, janganlah kalian pernah melupakan noda tersebut. Ingatlah itu selalu! Dan janganlah marah apabila orang-orang di kemudian hari selalu mengungkit-ungkit peristiwa memalukan tersebut. Biarlah mereka mengingatnya agar kalian tidak lupa. Jangan pula menutupinya karena pada kenyataanya tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini. Di salah satu tembok Universitas Atma Jaya Jakarta, terngantung sebuah papan dengan kalimat mutiara tertulis di atasnya. Kalimat itu berbunyi, “Mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya adalah orang yang tidak pernah belajar hal baru.” Ya, betul. Kesalahan atau kegagalan selalu memberikan kita hal baru untuk dipelajari. Dari kesalahan kita belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan benar. Dari kegagalan, kita tahu apa yang harus dihindari agar bisa meraih kesuksesan. Dan apa yang dapat dipelajari dari kesuksesan? Tidak ada yang didapat selain pujian dan rasa bangga di hati.

Bangkit Kembali
Hukuman yang kalian terima kemarin bukanlah bab terakhir dalam kehidupan kalian. HIDUP MASIH PANJANG! BERJUANGLAH! Yang kalian alami barulah satu dari sekian episode kehidupan yang telah kalian jalani. Dan itu belum lagi menjadi episode yang terjelek. Hei, bagaimana dengan mereka yang tertangkap dalam kasus korupsi, kasus video cabul, perselingkuhan? Terimalah dengan lapang dada hukuman kalian dan jadikan itu sebagai lecutan cambuk untuk memperbaiki diri di masa depan. Potensi yang kalian miliki di dalam diri kalian masih besar. Universitas BUKANLAH satu-satunya tempat untuk mengolah dan mengembangkan diri. Masih banyak tempat yang bisa dipakai untuk menyalurkan bakat besar kalian. JANGAN BIARKAN diri kalian TENGGELAM dalam kesedihan dan malu yang berlarut-larut. BERDIRI TEGAP! ANGKAT DAGUMU! TATAP kehidupan di depanmu. Kegagalan yang lebih parah dari kalian masih banyak, jadi JANGAN jadikan kegagalan kali ini sebagai alasan untuk berhenti melangkah. Kejadian kemarin telah menjadikan diri kalian LEBIH BAIK daripada teman-teman kalian. Saat teman-teman kalian masih sibuk mencari cara untuk mendewasakan diri atau mencari identitas sejati, kalian malah sudah menemukan pijakan untuk membangun jati diri dan kedewasaan kalian. Karena itu, BANGKITLAH! BANGKITLAH untuk diri kalian sendiri, bukan untuk orang lain. Ini kehidupan kalian!

Seorang jendral besar Amerika, Patton, pernah ditanya tentang cara ia menilai prajuritnya. Jawaban dia, “I don’t measure a man by how high he climbs, but how many times he gets up everytime he hits bottom.” Terjemahan bebasnya seperti ini, “Saya tidak menilai seseorang dari seberapa tinggi pencapaiannya, tetapi dari berapa kali dia bangkit setiap kali dia terjatuh.” Dan itulah inti dari kesuksesan, perjuangan. Saat orang jatuh, dia akan secara alamiah bangkit kembali. Jika ia terjatuh kembali, dia akan kembali bangkit lagi. Bagaimana jika ia terjatuh berkali-kali? Dia tetap harus bangkit, yang mana ini bukanlah proses alamiah. Pada situasi itu, motivasi seseoranglah yang akan membuat ia bangkit kembali. Selama tujuan yang ingin diraih belum tercapai, orang tersebut tidak boleh berhenti. Mereka yang jatuh dan menolak untuk bangkit adalah orang yang tidak akan pernah meraih impiannya, tidak pernah menyelesaika pekerjaan yang dimulai (a quitter). Mereka hanya akan terduduk diam menerima keadaan yang menimpa mereka, pasrah. Dan itulah hal yang harus kalian hindari.

Adalah proses jatuh bangun yang membuat kalian dewasa dan mampu meraih impian pribadi kalian. Oleh sebab itu, jangan biarkan api membara di hati kalian padam. Sebaliknya, lindungilah api tersebut. Jaga ia dari terpaan angin, sekencang apapun. Jika hujan turun, buatlah peneduh untuk menjaganya tetap menyala. Segelap apapun keadaan di sekeliling kalian, api itu akan menjadi suluh yang menerangi perjalanan kalian. Dan sekecil apapun nyala api itu, lidahnya akan menghangatkan dalam kesepian yang mengigit sekalipun.

Kesempatan Kedua
Meskipun sudah bukan mahasiswa, masih ada banyak peluang terbuka di luar kampus buat kalian. Kalian bisa mengembangkan potensi diri lewat jalur kursus seperti kursus montir, desain grafis dan animasi komputer, memasak, menjahit, fotografi, filem, menulis dan lainnya. Pengalaman kalian sebagai joki SNMPTN bisa dikembangkan menjadi sebuah novel yang menarik, siapa tahu dapat diangkat menjadi filem. Jika sejarah mencatat kegagalan kalian di SNMPTN, maka novel dapat menjadi wadah untuk mengubah sejarah menurut versi kalian sendiri. Jika novel dirasa sulit, kembangkan cerita itu menjadi komik novel grafis seperti 300, V for Vendetta, atau Watchmen. Sebagai referensi filem, saya sarankan agar The Perfect Score ditonton, sangat luar biasa.

Cara lain adalah dengan menggunakan potensi kepandaian kalian untuk menjadi guru pembimbing, tutor, bagi para pelajar yang ingin mengikuti SNMPTN di masa depan. Hal ini bisa dilakukan secara mandiri atau dengan bergabung pada salah satu lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) yang semakin menjamur belakangan ini. Selain menjadi pembimbing belajar, kesempatan lainnya adalah dengan mencoba menjadi relawan bagi Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) yang banyak terdapat di masa kini, contohnya, Greenpeace atau WWF. Lewat jalur LSM, bekal pengetahuan yang masih kalian miliki bisa diterapkan secara langsung dalam kehidupan nyata. Bahkan kalian bisa mendapatkan ilmu baru lagi. Dan jika kalian berprestasi, mungkin akan datang pula tawaran beasiswa untuk belajar di luar negeri: Amerika Serikat, Inggris, Australia, dll.

Jika kamu lebih berminat untuk meraih kesuksesan lewat jalur bisnis, kalian bisa mulai merintisnya dengan berwira usaha. Pilih satu bidang yang menarik minatmu--berjualan makanan, alat tulis, buku, tas, aksesoris, pulsa, dsb--untuk kemudian dikembangkan secara serius. Jika belum berani berusaha sendiri, ajak teman-temanmu yang bernasib sama untuk mengumpulkan modal bersama dalam merintis usaha baru ini.

Sebagai saran tambahan, pertahankan selalu ikatan kalian sebagai teman senasib dan sepenanggungan. Bangunlah semacam persaudaraan khusus. Sering-seringlah melakukan kontak lewat surat, surel, telepon. Dan sekali setahun, lakukanlah semacam reuni kecil-kecilan untuk saling berbagi cerita tentang kehidupan sesudah di luar kampus. Yang sudah berhasil bangkit, mohon bantu temannya yang masih berjuang untuk menata kehidupannya. Niscaya, persaudaraan kalian ini akan meretas jalan bagi kalian semua untuk menyonsong fajar baru yang akan merekah di ufuk timur sana.

Filed under  //  bangkit   ITB   joki   kesempatan kedua   mahasiswa baru   noda   perjuangan   persaudaraan   salut   SNMPTN   sukses   The Perfect Score  

Comments (0)

Jul 24 / 1:21am

Ulasan Buku: By The River of Piedra, I Sat Down and Wept

Ini adalah judul terpanjang dari buku buah kreasi Paulo Coelho. Judul buku ini sendiri adalah penggalan kalimat dari salah satu ayat populer dalam injil Mazmur 137: By The Rivers of Babylon, there we sat down, yea, we wept and remember Zion. Judul ini mungkin diambil karena cocok untuk menggambarkan perasaan dari tokoh utama dalam cerita ini, Pilar, yang menyesali dirinya karena berharap terlalu banyak pada diri seoarang pria yang dicintainya sejak kecil.

Berbeda dengan novel Coelho yang telah saya baca, novel ini tidak lagi mengusung tema spiritualisme atau Kristiani. Kali ini ceritanya justru tentang cinta. Lebih jauh lagi, tema sentralnya adalah penyesalan yang terjadi karena kurangnya komunikasi. Dua tokoh utama dalam cerita ini adalah pasangan kekasih semenjak kecil. Namun, ketidak beranian mereka berdua dalam menunjukan perasaan masing-masing membuat mereka membuat keputusan yang diperkirakan akan memuaskan pasangannya. Sayangnya, mereka berdua baru menyadari apa yang sesungguhnya terjadi setelah segala-galanya terlambat. Selain tentang cinta, novel ini juga mengusung tema sensitif mengenai sifat feminin dari Tuhan. Sepertinya ini adalah cara Coelho untuk menyodorkan sudut pandang lain dari Tuhan yang selama ini kesannya terlalu maskulin.

Dengan mengambil latar belakang negeri Spanyol, cerita ini berfokus pada diri seorang Pilar, seorang mahasiswa yang tengah mengalami kejenuhan dalam kegiatan perkuliahan. Sepanjang hidupnya, dia hanyalah seorang wanita sederhana yang menghabiskan kehidupan masa kecilnya di suatu daerah bernama Soria. Setelah ia menamatkan pendidikannya hingga tingkat SMU, di menerukan pendidikan dengan kuliah di Zaragoza. Meskipun kegiatan kuliahnya membuat ia meninggalkan kampung halamannya, dia selalu terkenang akan masa lalu indah yang sudah ia lewatkan di Soria. Dalam hal tersebut, ia juga selalu mengenang akan teman masa kecilnya yang mana juga cinta pertamanya. Biarpun Pilar mencintai temannya, namanya tidak pernah disebutkan sepanjang novel, ia tidak pernah sekalipun mengungkapkan isi hatinya dengan jujur seperti halnya teman masa kecilnya juga. Akan tetapi, mereka justru berpisah saat mereka tumbuh menjadi remaja. Sesudah SMA, kekasih masa kecilnya memilih untuk pergi mengembara guna melihat dunia di luar kota Soria sementara Pilar lebih memilih untuk tidak pergi lebih jauh dari Zaragoza.

Dan setelah lama tidak bertemu, tiba-tiba Pilar mendapat undangan dari temannya ini untuk datang ke Madrid guna menemuinya. Hal ini mengejutkan Pilar karena semenjak terakhir kali mereka bertemu mereka hanya berhubungan lewat kegiatan surat menyurat. Yang paling sering mengirim surat adalah temannya prianya ini, bercerita mengenai perjalanan yang telah ia lakukan dan terakhir mengabarkan bahwa ia telah masuk seminari. Dengan perasaan campur aduk, Pilar pun pergi meninggalkan Zaragoza untuk menemui temannya di Madrid.

Meskipun telah lama tidak bersua, pertemua pertama mereka tidak berjalan seperti yang dibayangkan oleh Pilar. Dia merasa temannya bersikap agak kaku dan canggung, seperti menjaga jarak. Di lain sisi, Pilar sendiri mengalami kejutan tersendiri karena dia menghadapi teman lamanya yang kini telah berubah menjadi pribadi yang berbeda dibandingkan ketika mereka masih di Soria. Teman masa kecilnya ini telah menjadi sosok yang dikagumi oleh banyak orang kerena gagasan baru yang dimilikinya tentang sisi feminin dari Tuhan. Ketika dia menghadiri seminar yang menghadirkan temannya sebagai pembicara utama, Pilar terkesima oleh pujian yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya dan oleh isi ceramah yang dipaparkan temannya. Selain kemampuan berkhotabah, Pilar kembali dikejutkan oleh kemampuan menyembuhkan yang dimiliki oleh temannya, meskipun ia tidak pernah secara langsung menyaksikannya.

Setelah seminar itu, dimulailah perjalanan panjang oleh Pilar dan cinta masa kecilnya menuju beberapa tempat di Spanyol dan Prancis. Di perjalanan itulah, ia kemudian mengetahui tujuan dari undangan yang ia terima dari temannya. Ternyata, bukan hanya Pilar yang memendam cinta terhadapnya tetapi teman prianya ini juga sudah lama menyimpan perasaan cinta yang sama terhadapnya. Jadi, mereka berdua saling mencintai. Akan tetapi, walaupun sang pria sudah mengatakan bahwa ia mencintai Pilar dan berusaha untuk memenangkan hatinya, Pilar tidak jua mau membuka isi hati yang sebenarnya.

Setelah itu, cerita dalam novel ini mengisahkan pergulatan batin yang melanda diri Pilar dalam hal menyatakan cinta atau menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya. Sang pria pujaan pun juga mengalami hal yang serupa. Meskipun sudah menyatakan langsung isi hatinya, ia pun masih bimbang dalam memilih antara mencintai Pilar dan meninggalkan biara atau meneruskan pendidikan di biara dan ditahbiskan untuk menjadi pastor, yang mana itu berarti ia harus meninggalkan Pilar. Dan begitulah cerita berlanjut dimana kedua tokoh ini mengalami kegundahan karena tidak berani untuk mendiskusikan kegamangan mereka antara satu sama lain, mereka ragu-ragu dan takut. Cerita pun berhujung pada situasi di mana kedua tokoh ini kemudian membuat keputusan yang mereka kira terbaik bagi pasangan mereka namun berbuah menjadi penyesalan.

Secara pribadi, novel Coelho yang satu ini kurang begitu menyenangkan karena tema cinta yang diangkatnya terkesan betele-tele. Selain itu, kedua tokoh utama digambarkan berbagi kepribadian yang sama, peragu. Kemudian penggarapan plot cerita juga kurang menyakinkan. Keputusan penting yang dibuat oleh Pilar dan teman prianya, yang harusnya menjadi klimaks, justru terasa sebagai anti klimaks. Ceritanya sendiri terasa kurang greget. Meskipun begitu, By The River of Piedra dimaksudkan sebagai pembuka untuk trilogi On The Seventh Day. Bagian ke dua adalah Veronica Decides to Die dan ditutup oleh The Devil and Miss Prym. Berarti, harus membeli buku lagi.
Filed under  //  By The River of Piedra   feminine   Mazmur   Paulo Coelho   Spanyol   spiritual  

Comments (0)

Jul 22 / 9:59pm

Cintailah Konsumen Dalam Negeri = Cinta Produk Dalam Negeri

Belakangan ini gerakan mencintai produk Indonesia kembali lagi digalakan, terutama pada masa kampanye Presiden kemarin. Turut serta dalam kampanye ini adalah Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, Kementrian Usaha Kecil dan Menengah, DPR, serta instansi terkait lainnya. Iklan untuk kampanye ini sudah beredar di televisi, yang menurut saya agak kampungan penggarapannya, dan radio. Kampanye cinta produk dalam negeri sebetulnya sudah lama sekali dilakukan. Ketika masih kecil, saya sering sekali mendengar iklan radio dari RRI untuk mencintai produk dalam negeri. Bahkan lagu pop “Singkong dan Keju” menjadi tenar sekali karena pesan cinta barang buatan dalam negeri yang diusungnya. Untuk jangka waktu yang cukup lama pun gerakan ini sudah dimulai dari tingkat yang sederhana di kalangan pegawai negeri dengan kebiasaan mengenakan baju motif Batik di hari Jumat.

Sayangnya, gerakan mencintai produk dalam negeri ini kurang mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat Indonesia. Biarpun, JK sudah menunjukan dia memakai sepatu kulit buatan dalam negeri toh masih banyak pula menteri dan anggota DPR yang lebih suka memakai sepatu kulit luar negeri. Contoh dari hal ini bisa dilihat ketika diadakan acara buka puasa atau halal bilhalal (tidak ingat yang mana) di istana negara pada tahun 2008. Waktu itu di Kompas muncul sebuah artikel kecil yang membahas sepatu-sepatu milik pejabat pemerintahan menjadi tamu pada acara di istana kala itu. Sebuah foto memperlihatkan kalau sepatu-sepatu yang dikenakan pejabat tinggi negara yang hadir di acara tersebut terlihat jelas sebagai buatan luar negeri. Dalam kehidupan masyarakat umum pun, kegemaran orang-orang membeli barang buatan dalam negeri juga terlihat jelas. Sekalipun rokok Sampoerna sudah beken, masih saja ada orang yang lebih suka mengisap Marlboro, seperti yang dilakukan oleh dua teman sekantor saya. Meskipun sudah ada laptop buatan dalam negeri seperti Axioo, BYON, ataupun Zyrex, masih banyak anggota masyarakat yang membeli SONY VIAO, Lenovo, Toshiba dan Acer. Perusahaan elektronik dalam negeri sekaliber Polytron saja masih mengalami kesulitan dalam mencuri hati masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur tertambat hatinya pada merek Jepang seperti SONY, Toshiba, Panasonic, atau Canon. Permasalahan tentang kurangnya minat masyarakat Indonesia dalam membeli produk anak bangsa bukan semata-mata disebabkan oleh kecintaan kami pada merek luar negeri melainkan karena kurangnya perhatian produsen terhadap keinginan konsumen: tidak memberikan barang yang bermutu, tidak menyediakan layanan purna jual, serta kurang mampu mengemas, menjual, produk yang baik.

Produk buatan Indonesia yang dijual di dalam negeri sering bermutu rendah dibandingkan dengan yang dijual di luar negeri. Saya akan kemukakan beberapa contoh kasus yang dimulai dari pengalaman teman saya sewaktu tingga di Kanada. Sewaktu dia mengikuti program pertukaran pelajar di sana, dia bercerita mengenai sebuah buku tulis bagus yang ia lihat di sebuah toko buku. Buku tulis itu sebetulnya sederhana saja dan tidak berbeda dengan buku tulis pada umumnya, tetapi mutu kertasnya sangat bagus sekali. Sewaktu ia melihat ke sampul belakang buku tersebut, dia terkejut sewaktu melihat tulisan Made in Indonesia. “Keren banget, buku tulis bagus ini ternyata buatan Indonesai!” kata teman saya. Sekejap kemudia dia langsung merasa heran karena buku bagus buatan dalam negeri ini ternyata tidak pernah ia temukan di toko buku manapun di Jakarta. Justru buku tulis produk lokal yang ada di tokok buku seperti Gramedia atau Gunung Agung malah tidak menyamai buku tulis Made in Indonesia yang ia temukan di Kanada. Mendengar cerita itu, saya langsung teringat pengalaman lucu Pak Bondan Winarno yang membeli gaun indah nan mahal di sebuah butik terkenal di Amerika dan, sewaktu pulang kembali ke Indonesia, mendapati kenyataan kalau busana tersebut adalah hasil produk Indonesia, seperti yang tertera di label baju (Seratus Kiat 1988). Anehnya, busana yang mutu sama baiknya, karya desainer Indonesia, justru sulit dicari. Contoh lainnya, di koran Kompas, saya pernah membaca artikel mengenai pengrajin kulit di Sidoarjo yang sudah biasa menerima pesanan dari label terkenal dunia--Gucci, Braun Buffel, Louis Voitton, Bally--untuk membuat produk kulit seperti sepatu, dompet, dan tas tangan. Saya sendiri sudah melihatnya secara langsung ketika berkunjung ke sana. Produk yang sudah dibuat nantinya akan ditempeli label merek di atas dan selanjutnya dikirimkan ke luar negeri dan dijual kembali. Hal ini bisa terjadi karena pengrajin kulit di Indonesia sudah dipandang mampu untuk memenuhi pesanan dari merek elit tersebut, tentunya kendali mutu juga dijaga ketat oleh para penyelia dari label di atas. Pertanyaannya, kenapa produk kulit bagus buatan Indonesia justru sulit ditemukan di pasar dalam negeri? Saya tidak heran dengan kenyataan ini karena memang sudah menjadi praktik jamak kalau konsumen di Indonesia di anak tirikan. Barang-barang bagus produksi anak bangsa lebih sering dijual ke luar negeri dengan alasan dapat dijual dengan harga mahal sekaligus menangguk keuntungan dalam Dolar atau Euro. Sementara kita yang tinggal di dalam negeri harus puas dengan barang produksi dalam negeri, dengan mutu kelas dua atau kelas tiga. Sepatu olahraga buatan dalam negeri yang saya pakai saat ini sudah mengalami penipisan cepat pada solnya, padahal baru dibeli empat bulan yang lalu.

Layanan purna jual terhadap barang produksi dalam negeri adalah hal lain yang membuat konsumen di Indonesia lebih memilih membeli merek asing. Di luar negeri, mayoritas perusahaan yang menjual barang atau jasa memiliki jalur telepon khusus pengaduan (Costumer Care) untuk melayani konsumen yang kurang puas dengan mutu barang yang dibelinya. Di Indonesia, berapa banyak perusahaan dalam negeri yang menyediakan jalur telepon pengadua atau layanan konsumen? Berapa banyak pula dari perusahaan ini yang mau menindak lanjuti setiap keluhan yang diadukan oleh konsumen? Teman saya yang pernah bermukim di Amerika satu kali berbagi cerita menarik dimana seseorang yang sudah membeli suatu barang memiliki hak untuk mengembalikannya serta mendapatkan uangnya kembali hanya karena ia tidak suka dengan barang tersebut. Katakanlah Anda membeli sebuah radio dan pemutar CD. Karena satu dan lain alasan, Anda tidak menyukai barang tersebut dan mengembalikannya serta mendapatkan uang kembali atas alasan tidak suka, bukan karena rusak. Adakah layanan seperti ini di Indonesia? Surat pembaca Kompas adalah tempat yang baik bagi Anda yang ingin membuktikan pernyataan di atas. Saya sendiri, dan juga banyak orang Indonesia, juga sudah kenyang dengan pengalaman membeli barang dalam negeri dan kemudian hari mendapat kenyataan kalau barang yang dibeli ternyata mudah rusak. Saat ingin mengadukan hal tersebut, kami bingung kemana harus mengadukannya karena, tidak seperti barang buatan luar negeri, produk dalam negeri banyak yang tidak mencantumkan nomor telepon di kotak dus yang dapat dihubungi untuk layanan konsumen. Dalam situasi ini, yang paling mudah dilakukan adalah pergi ke toko yang menjual barang tersebut. Hasilnya, 50-50, Anda mungkin akan mendapat produk pengganti atau si pemilik toko menyarankan untuk menghubungi penyalur (distributor) barang tersebut. Jika distributor itu baik, Anda akan mendapat pengganti tapi Anda juga bisa disuruh ke distributor lain, atau malah dilempar lagi ke toko tempat membeli. Sudah bolak balik seperti ini, habis waktu dan uang, barang rusak tidak kunjung jua diganti. Yah, sudah mutu barang kelas dua, layanan konsumennya pun juga kelas dua.

Cara mempromosikan, menjual, barang dalam negeri masih kalah menarik dari produk dalam negeri. Jika pengrajin kulit dalam negeri bisa memenuhi pesanan dari luar negeri, untuk label seperti Louis Voitton, maka mereka tentunya bisa membuat produk dengan mutu tinggi yang diberi label sendiri. Permasalahannya, jarang yang mau serius membuat merek sendiri dan tekun untuk mengembangkannya. Alasan mereka karena merasa ongkos pembuatan merek sendiri, pengembangan dan pemasarannya terlalu tinggi. Karena itu mereka lebih suka bekerjasama dengan merek yang sudah jadi dalam memproduksi kerajinan mereka. Sepatu olahraga buatan dalam negeri dapat menjadi contoh lain dari kurangnya perhatian terhadap keinginan konsumen. Untuk waktu yang lama, merek sepatu olahraga dalam negeri hanya menyodorkan sepatu dengan model yang itu-itu saja tanpa ada perubahan rancangan atau bahan sepatu dari tahun ke tahun. Meskipun sekarang produsen sepatu olahraga dalam negeri mulai mengikuti selera konsumen dengan mulai meniru merek-merek terkenal luar negeri--Adidas, Reebok, Nike--konsumen masih belum lagi melihat desain orisinal karya anak bangsa. Kalaupun ada upaya untuk menonjolkan ciri khas dalam negeri, hasilnya malah menjadi aneh, terkadang norak. Masyarakat Indonesia membeli barang luar negeri bukan karena faktor gengsi saja, tapi juga karena tertarik pada rancangan yang ditampilkan. Sepatu Adidas yang solnya tipis saja dibeli orang hanya karena suka pada rancangan sepatu dan bahan yang dipakainya, padahal harganya bisa mencapai 400 ribu rupiah.

Dari ketiga alasan di atas, bisa dipahami bilamana banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih barang buatan luar negeri daripada dalam negeri. Jikalau kita menginginkan kondisi berubah, maka produsen haruslah mulai dengan memberikan perhatian utama pada pasar dalam negeri. Orang Indonesia bukannya orang yang suka beli barang mahal atau bergengsi. Justru orang Indonesia lebih suka membeli barang yang bermutu. Laptop VAIO yang mahal saja dibeli orang karena mereka tahu harga dan mutu sebanding. Karena itu, mulailah memberikan kami barang-barang yang bermutu; handal, dapat dipertanggung jawabkan, digaransi, memenuhi kebutuhan pembeli. Jadi, jangan berika kami barang nomor dua. Kalau kami dikasih produk nomor dua, kamipun akan menduakan kalian. Selain itu, berikan juga nomor telepon layanan konsumen dengan mencetaknya pada buklet produk atau di kardus kemasan produk yang dibeli. Tentunya, nomor telepon itu janganlah hanya sekedar pemuas mata saja, tapi juga betul-betul berfungsi. Untuk setiap keluhan yang kalian terima, kami minta agar ada tindakan lanjutan. Jika penanak nasi (rice cooker) yang saya beli rusak, saya minta agar ada tindakan perbaikan atau penggantian dengan produk baru. Selanjutnya, produsen barang dalam negeri harus mau menginvestasika uang dalam bidang riset dan pengembangan produk. Janganlah terlalu pelit dengan uang yang didapat dari hasil penjualan kalian. Dirikanlah departeman khusus yang mengurusi bidang pengembangan produk. Kalian sewa itu ahli-ahli perancangan produk yang sudah lulus dari kursus merancang atau universitas. Sepatu Adidas atau Nike tetap dibeli karena konsumen selalu melihat hal baru dari barang-barang yang mereka jual setiap tahunnya. SONY dan Toyota juga tidak malu merekrut perancang busana untuk dipekerjakan di departemen penelitian dan pengembangan mereka, siapa bilang cuma insinyur yang bisa merancang dan membuat mobil. Contoh paling bagus dari produsen dalam negeri yang bisa melakukan ketiga hal di atas adalah Polytron. Polytron harus mempelajari cara merancang produk dengan bagus sebelum akhirnya bisa menarik minat masyarakat Indonesai dan juga menembus pasar luar negeri. Sebagai bukti, Polytron pernah mendapat penghargaan dari luar negeri untuk produk eletronik terbaik pada tahun 1996 atau 1997. Polytron juga berhasil meningkatkan layanan purna jual terhadap produk mereka. Bila ada barang yang rusak, barang tersebut pasti diperbaiki. Kalau dulu ada banyak surat keluhan konsumen terhadap Polytron di Surat Pembaca Kompas, kini jumlahnya sudah sedikit sekali. Quid pro quo, Anda ingin kami cinta produk dalam negeri, cintailah dulu diri kami.

Filed under  //  cinta produk dalam negeri   Indonesia   Kompas   Polytron   seratus kiat  

Comments (1)

Jul 21 / 7:45pm

Deon Scrap Book

uuuu.. Homer Simpsons

Jia kak akak kak. Perkembangan Homer dari masa ke masa. Semakin tua, semakin menyedihkan. :D

PS: Siapa yang tidak kepigin bisa duduk di sofa sambil minum bir dan mengenakan kolor doang, hi hi hi hi

Filed under  //  evolution   funny   Homer   The Simpsons  

Comments (0)