Mengapa engkau begitu gelisah
menghampiri rumah demi rumah
menggedor-gedor pintu dan jendela
Apa yang engkau cari?
Mengapa engkau begitu resah
menyibak rerumputan dan pepohonan
bergumam dan bergemuruh
Angin, apakah yang engaku cari?
Hari ini saya mendapat kejutan yang tidak pernah saya sangka. Kejutan itu adalah kabar terpilihnya saya, bersama 2 rekan kerja lainnya, sebagai pengajar terbaik tahun 2011. Kami terpilih sebagai hasil penyebaran angket kepuasan konsumen (siswa) yang dilakukan setiap 2 x setiap tahun. Dari hasil penghitungan jawaban angket, saya menjadi satu dari tiga pengajar di peringkat teratas. Sebagai hadiah untuk prestasi ini, kami bertiga mendapat bonus tahunan sebesar 125 persen dari pihak institusi.
Saya merasa bangga untuk keberhasilan ini meski saya juga merasa aneh lantaran saya tidak pernah berencana ataupun berharap akan menjadi pengajar terbaik tahun 2011. Sebaliknya, sepanjang tahun 2011 saya hanya mengajar seperti biasa saja; rajin hadir, mengajar dengan baik, menjalin komunikasi baik dengan murid, mencurahkan perhatian untuk kebutuhan murid, dan memberikan pengalaman belajar menyengkan (ini yang paling penting). Ini semua sebenarnya bukan hal baru karena itulah yang selalu saya lakukan selama ini. Hanya saja, kali ini hal-hal yang saya lakukan mencapai puncaknya. :)
Meskipun begitu, saya ingin menekankan satu hal: Saya tidak pernah berorientasi pada hasil. Dari pertama kali saya mengajar, saya memiliki filosofi hasil adalah buah dari proses. Keberhasilan belajar siswa adalah puncak dari proses belajar yang memakan waktu, memerlukan perhatian dari guru, dan kerjasama baik dari siswa dan pengajar. Sebagai pengajar, saya pun jarang sekali memikirkan imbalan ataupun bonus untuk kegiatan mengajar yang saya lakukan. Bukannya sok idealis, ada bonus atau tidak tidak akan mempengaruhi mutu pengajaran saya karena bukan hasil materi yang saya incar. Toch, saya sudah dapat gaji bulanan dan THR setiap tahunnya.
Kabar menggembirakan yang saya terima saat ini mengingatkan saya pada ajaran motivasi moderen dari Daniel Pink -
serta Simon Sinek. Kedua pakar ini mengatakan bahwa pencapaian seseorang tergantung dari apa yang memotivasi dirinya. Jika seseorang bekerja untuk imbalan materi, ia hanya akan bekerja untuk mencapai target tersebut, materi, dan tidak akan berusaha untuk membuat pencapaian hebat. Boleh dibilang, orang semacam itu bekerja sesuai yang ditugaskan dan mengambil imbalannya. Sebaliknya, orang yang bekerja atas motivasi yang non-materi--mencapai kehebatan, kebahagiaan, kemuliaan--justru akan melakukan lebih dari yang diperlukan untuk mencapai kesempurnaan. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang-orang ini akan mampu berbuat lebih dari yang mereka pikir bisa lakukan. Pendek kata, orang-orang seperti tadi akan bekerja dengan mencucurkan keringat, air mata, dan, kalau perlu, darah.
Sebagai guru, saya tidak akan se-ekstrim pernyataan di atas. Tetapi, jika kita lihat dalam kenyaatannya, memang mereka yang bekerja demi idealisme pribadi dan kebahagiaan bersama yang mampu mencapai hasil terbaik, bahkan menjadi legenda. Lihat contohnya pada Amelia Earhart, Charlie Chaplin, Wright bersaudara, Thomas Alva Edison, Soekarno, Mahatma Gandhi, dan lainnya.
Prolog
2 bulan lalu saya membeli sebuah laptop baru, MacBook Air (MBA), untuk menunjang kegiatan kerja saya. Karena laptop lama saya adalah MacBook (MBW) putih yang dibeli tahun 2007, maka laptop saya yang baru juga sebuah produk Macintosh lagi (penerapan hukum alam). Alasan saya membeli laptop baru karena MBW sudah terasa berat untuk saya bawa dalam kegiatan sehari-hari dan kinerjanya yang melambat. Dan karena saya mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dengan Macintosh, mengapa juga berpaling ke merek atau OS lain?
Saya memilih MBA karena MBW sudah tidak produksi lagi oleh Apple. Tadinya, laptop itu yang akan saya beli karena harganya yang sangat murah, $1000. Eh, pada awal 2011, Apple mengumumkan penghentian produksi MBW. Akhirnya saya harus memilih antara MBA 13" dan MacBook Pro (MBP) 13".
MBA unggul dari segi dimensi yang tipis berkat hilangnya optical drive dan penggunaan HD tipe SSD, sedangkan MBP 13" sempat menjadi incaran saya lantaran spesifikasinya yang menyamai MBW lama saya: kecepatan prosesor > 2 GHz, HD > 200 GB, RAM 4 GB, dan optical drive. Meski MBA kurang lebih sama dengan MBP, laptop ini punya dua kekurangan, ketiadaan optical drive dan kecepatan prosesor yang rendah. Dalam pikiran saya, "Buat apa beli laptop murah apabila tidak bisa membaca CD/DVD?". Saya butuh optical drive di laptop saya karena saya akan sering menggunakannya. Akan tetapi, di pertengahan 2011, saya mengubah pikiran setelah Apple merevisi MBA dengan meningkatkan prosesor ke Intel Core i5 dengan kecepatan 1,7 GB. Selain itu, Apple mendongkrak RAM ke 4 GB sambil menambahkan Intel HD Graphics 3000 untuk kinerja grafisnya. Di titik ini saya melihat MBA revisi tengah tahun 2011 sudah menyerupai MBW saya, tapi tetap minus optical drive. Dimensinya yang tipis juga menjadi nilai tambah bagi saya yang lebih membutuhkan laptop yang bobotnya lebih ringan namun kemampuannya setara MBW. MBP 13", meski bagus, sudah tidak lagi menarik perhatian saya karena 1 hal, kartu grafis yang digunakannya setipe dengan MBA, dimana kedua-duanya menggunakan kartu grafis Intel HD 3000 yang memori-nya berbagi dengan RAM. Jadi, RAM 4 GB memberikan sebagian dirinya untuk digunakan kartu grafis Intel dalam mengolah tampilan layar komputer. Secara pribadi, kartu grafis yang berbagi dengan RAM seharusnya tidak boleh dipakai oleh laptop Apple yang bergelar MBP. Pada akhirnya, MBP 13" tidak memiliki keistimewaan, selain daripada optical drive. Terkait dengan optical drive, kekurangan MBA ini masih bisa diatasi dengan CD/DVD portable yang harganya pun cukup murah, sekitar 300 ribu rupiah.
Beli MacBook Air
Maka saya putuskan untuk membeli MBA di pameran komputer Jakarta, November 2011. Sebuah langkah besar dan pengalaman pertama beli laptop tipis. Uniknya, pengalaman saya beli Mac baru kok rasanya seperti beli laptop pertama di tahun 2007 ya? Saya benar-benar mengalami trance sewaktu membuka kotak untuk pertama kalinya, melihat, menyentuh, dan membuka laptop MBA. Wah, rasanya seperti anak kecil yang membuka kadonya. Apakah hal ini juga dirasakan pengguna Mac veteran lainnya kah? :)
Saya membeli MBA di booth iBox pada pemeran tersebut. Niatnya sih saya mau beli di eStore karena menyukai layanan mereka. Sayangnya, eStore tidak memiliki persediaan MBA 13" sehingga pencarian saya berhujung di iBox. Layanan staf penjualan iBox terbilang rapi dan bagus; ada panduan baik dalam aktivasi MBA dan lain-lainnya. Setelah urusan di pameran beres, saya langsung balik ke rumah (waktu itu jam 6 sore).
Saya memiliki kekhawatiran sewaktu pulang lantaran saya menggunakan kendaraan pribadi; sepeda motor. Kekhawatiran ini timbul lantaran kotak MBA termasuk besar dan saya tidak mungkin menaruhnya di jok belakang. Kalau dilihat orang, kotaknya bisa hilang diambil (apalagi kotaknya ditaruh di dalam kantong iBox lengkap dengan logo Apple yang besaaar plus tulisan yang setengah berteriak: I bought a Mac). Solusinya, saya menaruh kotak di bagian leher sepeda motor (untung sepeda motor bebek). Repotnya, ukuran kotak yang lebar membuat kaki saya mengangkang sepanjang perjalanan dari Balai Sidang ke Depok, sekaligus merepotkan kaki kiri saya dalam menggunakan pedal perseneling kecepatan. Sudah begitu, kesulitan yang saya alami bertambah lagi dengan faktor kemacetan Jakarta (jam 6 sore lho). Oleh karena itu, hal terakhir yang saya harapkan adalah hujan (yang untungnya tidak terjadi sepanjang perjalanan). Toh, sepanjang perjalanan mulut saya komat kamit berdoa agar getaran dari sepeda motor akibat melintasi permukaan jalan tidak rata yang saya lewati tidak sampai mengganggu kondisi bagian dalam dari MBA saya. Saya berharap juga agar kemasan MBA di dalam cukup tebal untuk menahan semua getaran sepanjang perjalanan.
Sampai di rumah, hal pertama yang saya lakukan adalah mengeluarkan MBA dan memastikan dirinya berjalan dengan baik. Setelah beres, saya segera mengisi HD dengan memindahkan isi Time Machine dari MBW ke MBA agar semua data dan setelan aplikasi tampil tanpa saya perlu repot menyetel ulang dari awal. Semua ini terlaksana dengan baik dengan Migration Assistant. Sembari menunggu proses transfer selesai, saya mengamati kemasan MBA yang sudah terbuka. Dari pengamatan sekilas, saya baru tersadar keunikan dari kemasan kotak MBA yang saya bawa.
Melihat kotak MBA-nya sendiri, boleh dibilang perlindungan untuk produk Apple hanyalah dari kertas karton tebal yang dilipat (tidak ada lagi styrofoam seperti yang dipakai pada MBW saya dulu. Bisa jadi ini bagian dari kampanye produk ramah lingkungan Apple). Bagusnya lagi, kotak kemasan MBA masih dimasukkan lagi ke dalam kotak karton coklat yang keempat sudutnya diganjal dengan semacam siku peredam guncangan yang terbuat dari karton yang sangat tebal dan kaku. Pantas saja, MBA saya tidak mengalami gangguan ketika dioperasikan di rumah meski sepanjang perjalanan kotak ini mengalami getaran dari mesin dan permukaan jalan yang tidak rata. Luar biasa, ini benar-benar inovasi yang hebat (Apakah orang-orang Apple melakukan inovasi ini karena mereka berpikir tentang pembeli Apple di Indonesia yang banyak memakai kendaraan roda dua?). Yang pasti, semenjak saya pulang hingga hari ini MBA beroperasi selayaknya komputer MBW saya.
Kesan-kesan
Nah, ini dia bagian yang paling ditunggu-tunggu. Seperti yang sudah pernah didengar, kinerja MBA lebih cepat dibandingkan MBW. Berkat HD tipe SSD (sama dengan punya flashdisk), proses membaca dan menulis data di MBA berlangsung seperti hembusan angin, wuss wusss. Membuka 5 aplikasi sekaligus berjalan hampir tanpa jeda panjang, berbeda jauh dengan MBW saya yang masih memakai HD tipe biasa. Proses pencarian berkas (file) dengan spotlight berjalan lebih baik daripada Snow Leopard. Kelebihan lainnya adalah pelantang suara yang lebih keras daripada MBW (Hmmm, Apple pakai pelantang suara merek apa sehingga bisa menghasilkan suara yang begitu nyaring) serta OS Lion yang W O W, menakjubkan! (Anda harus memakainya untuk memahaminya). Fasilitas Wi-Fi MBA melebihi MBW dimana proses merambah internet dan mengunduh data terlihat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Pun begitu, ada juga kekurangannya. Seperti pengalaman membeli MBW dahulu, saya masih harus belanja lagi untuk kabel aksesoris--kabel Dispaly to VGA (buat proyektor DLP/LCD) dan kabel adaptor ethernet (buat internet kabel). Juga saya masih harus beli CD/DVD portabel (belum dapat waktu yang pas buat ke Mangga Dua). Saya berhasil mendapatkan Samsung Super Write, juga mampu menulis DVD DL.
Kekurangan lainnya adalah ketidakmampuan MBA untuk menutup rapat sesudah saya memasang alas keyboard dan stiker pelapis palmrest dan trackpad. Saya pikir ini karena layar MBA yang sangat tipis tidak memiliki beban yang cukup untuk merapatkan dirinya dengan bodi bawah komputer. Walaupun begitu, hal yang saya sebutkan sebelumnya tidak mengganggu kinerja MBA secara signifikan. Sekali Anda menutup layar, laptop dengan sendirinya masuk kondisi tidur (sleep).
Jadi, itulah pengalaman saya membeli MBA. Sebuah pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan dan semoga laptop ini bisa menunjang berbagai usaha kreatif saya lainnya sebagaimana yang saya lakukan bersama MBW.
Video Time Lapse yang bagus. Sepertinya lalu lintas di Vietnam belum separah di Indonesia. Yang unik adalah cara pengendara sepeda motor di Vietnam antri mengisi bensin di SPBU, perhatikan saja. :)
Setelah hampir sebulan menunggu, akhirnya saya bisa memakai kembali sepatu Bucherri legendaris saya. Hal ini terjadi lantaran sepatu ini mengalami kerusakan tali sepatu, tali berubah menjadi rumbai-rumbai. Kelihatannya kondisi tali menjadi rusak akibat pemakaian selama tiga tahun lebih; talinya ditarik, bergesekan dengan kulit sepatu, dll. Walhasil, saya memakai sepatu kets untuk kegiatan sehari-haris, seperti, pergi ke kantor, jalan-jalan, dan beribadah.
Ketika talinya rusak, saya mengalami kesulitan untuk menggantinya lantaran tali sepatu jenis ini tidak dijual di tempat yang biasa menjual sepatu. Pada saat saya datang ke toko Bucherri DeToS, tempat saya membeli sepatu ini, pegawai toko mengatakan bilamana toko Bucherri tidak pernah menjual tali sepatu untuk sepatu yang mereka jual. Toko sepatu lainnya tidak juga tidak menjual tali sepatu untuk tipe yang saya miliki. Beli tali sepatu dari toko olahraga jelas tidak mungkin mengingat sepatu yang saya miliki hanya memiliki enam lobang, yang berarti ukuran tali sepatunya lebih pendek dari sepatu olahraga, yang punya 12 lobang.
Pemecahan masalah saya justru datang dari tempat yang tidak saya duga, Stop 'n Go, toko yang khusus menangani perbaikan tas dan sepatu Ketika saya mendatangi toko ini untuk memperbaiki resleting tas punggung yang robek, saya mendapati Stop 'n Go juga menjual tali sepatu untuk sepatu enam lobang. Saya kemudian membeli tali sepatu di sana dengan membayar Rp17.000 saja. Begitu saya memasangkan tali sepatu di sepatu saya, ternyat tali tersebut cocok dengan tali sepatu lama yang sudah rusak. Kini, saya kembali memakai sepatu Bucherri untuk kegiatan kerja sehari-hari.
I bought a new pair shoes today, another Nike Cortez. Why Cortez? Why not? :D Not really, I bought it to replace my old worn out Cortez which has accompanied me in a countless miles of journey. Previously, I used Cortez for fashion purpose, but I later on often used it for my routine morning jogging. After running and walking on them for more than 2 years, the soles have deteriorated mildly.
So, if I want to keep on jogging in the morning, I had to find a new pair of shoes. I've been thinking about buying another Nike, with Air sole, or Adidas running shoes. I thought those shoes are cool because of their design, color, and technology. Yet, the price tag of those shoes set me back ($130 for running shoes, I'm not even an athlete). Well, after searching around the mall today, I finally bought another Cortez :) . However, this time I only paid $52 since this Cortez is Basic Nylon version, which I don't find it pleasant. The other thing I don't like is its vibrant color, a kind of orange. For hanging out at mals, it's perfect. For running, I think it's too shiny. Performance? Well, I'm sure it will deliver the same thing as my black Cortez did. Let's see how many kms I can take with this new pair. :)
Akhirnya, kaos yang gue idam-idamkan bisa gue dapatkan juga. Ni kaos sudah gue incar dari pertama kali muncul di website Ganti Baju. Meski sempat kehabisan, akhirnya bisa juga gue dapatkan setelah beberapa kali nulis permintaan di Wall FB Ganti Baju.
Yang bikin gue ngebet sama ni kaos adalah tulisan dan desain gambarnya. Gambar burung Garuda Pancasila-nya benar-benar berbeda dari yang biasa desainer lain buat. Dan yang paling gue suka, adalah tulisan latin-nya: Respublica Indonesia (Republik Indonesia) dan Una Diversitate (Bhinneka Tunggal Ika). Manteeep banget. :) Ini baru desain orisinal. Hanya saja, satu kekurangan dari kaos ini adalah bahannya yang tipis. Kainnya memang katun 100%, akan tetapi jenis bahan yang sedikit lebih tebal akan memberikan kenyamanan untuk pemakaian di dalam dan di luar ruangan.
Sedang gila nasionalisme? Emang sih, belakangan ini gue lagi demen sama kaos-kaos bertema nasionalisme, gara-gara eforia kebangkitan tim nasional Indonesia akhir tahun lalu. Setelah mengumpulkan 3 kaos nasionalisme dari distro KDRI, gue juga mencari yang serupa dari Ganti Baju,yang kebetulan sangat konsisten dengan tema serupa. Kalau tertarik dengan kaos ini, silahkan hubungi Ganti Baju di FB mereka atau di laman resminya. Mereka menerima pemesanan lewat email dengan layanan antar TiKi JNE. Selamat belanja.