Some Personal Thoughts

Some Personal Thoughts

Todo Sibuea  //  I am a systemic anomaly that is inherent to this universe. This is my personal blog where I express my thoughts on matters that cross my mind.

All of my articles here are protected under Copyright Law. If you want to use my article for your particular purpose, please inform me to get my confirmation. If you do get it, don't forget to give credit to me for the article you use.

Nov 14 / 4:01pm

Kelas Dalam Kenangan: Bagian 5

Tahun 2008
Setelah setahun penuh mengalami masa luar biasa di 2007, tahun ini bisa dibilang saya tidak lagi mendapatkan kelas yang tak terlupakan. Ini bukan berarti murid-murid saya di 2008 tidak ada yang bagus. Hanya saja, tidak ada kelas yang meninggalkan kenangan kuat di tahun ini.

Tahun 2009
Di tahun ini saya mendapatkan tiga kelas yang bisa dibilang LUAR BIASA. LUAR BIASA bukan karena murid-muridnya yang sangat cerdas tapi karena terjalin hubungan yang SANGAT HEBAT diantara guru dan murid-muridnya.

Intermediate 1 dan 2, Selasa Kamis, Term 1 dan 2 (2009)
Kelas yang selalu saya ingat karena hampir semua saya merasa dekat dengan hampir setiap individu di dalamnya. Awalnya ada kecanggungan lantaran murid-murid di kelas ini belum terbiasa dengan kepribadian dan gaya mengajar saya yang di luar kelaziman. Dan setelah lewat proses penyesuaian diri--suri mawase, perlahan tapi pasti murid-murid didalam kelas mulai bisa menyesuaikan diri bersama saya.

Pertama kali saya masuk kelas ini, para muridnya masih terbilang formal dan kaku, mungkin karena pengaruh guru mereka di tingkat sebelumnya. Tapi, pembawaan saya yang luwes dan non-ortodoks berhasil mencairkan kecanggungan tersebut. Praktis, semua murid di kelas ini mengalami masa-masa yang berbeda selama diajar oleh saya. Rangga menjadi perkecualian karena dia pernah menjadi murid saya di tingkat CIE 1, dia sudah tidak asing dengan cara saya yang unik.

Murid di kelas ini termasuk rata-rata, tapi mereka adalah pelajar yang tekun. Yang mereka perlukan hanyalah guru yang bisa memahami kebutuhan mereka dan bisa memenuhinya tanpa terkesan memaksa. Pribadi yang saya ingat dari kelas ini adalah Rangga, Mario, Amel yang manja, Andika, Marsya, Dea, April, Shinta, dan Bintang. Yang cantik? Saya kira Bintang. Yang pandai? Hilferia. Sayang, sistem membuat dia pindah ke kelas lain pada tingkat Inter-2, :(

Hari terakhir di level ini tidak menyenangkan lantaran kami harus berpisah.

Intermediate 2, Senin-Rabu, Term 2 (2009)
Kelas ini sama kepribadiannya dengan kelas saya yang di atas. Masa-masa awal adalah masa dimana kami masih saling mengamati dan mempelajari diri masing-masing. Begitu saya dan murid-murid menemukan persamaan masing-masing, segalanya berjalan dengan sangat mulus. Persamaan kami ada pada titik dimana saya dan kelas ini adalah pihak-pihak yang cenderung santai tanpa kehilangan kesadaran penuh akan tugas masing-masing. Saya bisa bercanda dengan murid-murid di kelas ini karena memang mereka sendiri adalah pribadi yang santai. Begitum masuk pada topik utama pelajaran, murid-murid ini bisa pula serius dalam mengikuti pelajaran.

Seperti halnya kelas Inter-2, Selasa-Kamis, di atas, saya masih mengingat baik banyak individu-individu di kelas ini. Saya ingat Sabar dan Arief yang sering saling meledek. Lalu ada Zulfi dan Alya yang sering duduk bersama. Kemudian ada Tunjung dan Poppy yang bawel. Masih ada Ariyo, Laura yang pintar, Pras yang sering datang terlambat, Rony, serta Shella yang cantik, tweet tweet.

Sayang, kami hanya bersama satu term saja. Seandainya keberadaan kami bisa berlanjut kembali ke Inter 4.

Intermediate 3 dan 4, Senin-Rabu, Term 2 dan 3 (2009)
Oke, kelas ini pertama kali tidak terasa menyenangkan. Mengapa? Pertama, murid-muridnya termasuk rata-rata, rada ke bawah. Kedua, saya mengalami kesulitan di awal kelas untuk membangkitkan keberanian mereka untuk bicara. Ketiga, para murid berpikir saya tidak ada bedanya dengan guru-guru mereka yang sebelumnya, serius setiap saat. Keempat, saya sempat kesal dengan tingkah laku-laku murid-murid yang sering, sengaja, datang terlambat, seperti Rhea, Ruth, Dian, dan Eci.

Akan tetapi, setelah melewati hampir satu bulan, saya dan murid-murid akhirnya sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Perlahan, mereka menyadari bila saya bukan guru ortodoks seperti yang biasa mereka temui di sekolah atau kampus. Saya pun juga mulai menyesuaikan diri dengan karakter kelas ini. Terlepas dari prasangka negatif saya di awal kelas, saya melihat bahwa kelas ini memiliki energi yang positif dalam belajar. Mereka mau belajar selama guru kelas bisa memahami kebutuhan mereka. Dan saya tahu mereka mau belajar serius dan mampu belajar banyak selama sang guru kelas bisa menyajikan materi pelajara dengan cara yang mudah mereka pahami, tidak rumit atau berbelit-belit. Ini sangat cocok sekali dengan sifat saya suka berpikir sederhana dan efisien, dalam mengajar tentunya.

Hasilnya, kembali lagi saya mengalami masa yang LUARRRRR BIASAAAAAA bersama kelas yang satu ini. Mereka lebih GILA daripada kelas In-3 dan 4 saya pada tahu 2007. Perpaduan guru eksentrik dan murid yang tidak lazim berhasil membuat reaksi kimiawi berantai, chain reaction. It was an INSANE period of time. I never felt bored going to this class. In fact, I couldn’t keep waiting to meet them as soon as possible whenever Wednesday session was over.

Keadaan kelas ini menjadi lebih luar biasa lagi pada tingkat Inter-4, tatkala Intan, Kanya, dan Thara pindah ke kelas ini sebagai hasil tranfer kelas dan jadwal. They had no idea what kind of class they were getting into, XD. Begitu pula Eva yang pindah karena atas dasar campur tangan saya, ;;) Walaupun jumlah murid bertambah banyak, tak ada kesulitan berarti bagi saya dalam melakukan interaksi belajar mengajar dengan baik. Biarpun tuntutan pelajar di tingkat Inter-3 dan 4 termasuk tinggi, para murid-murid ini bisa memahami konsep yang paling rumit sekalipun dan mampu melakukan tugas-tugas yang saya berikan. Bukti, murid ini tidaklah bodoh selama guru kelas mampu menerjemahkan pelajaran dalam buku ataupun silabus ke dalam bentuk sederhana dan tepat sasaran.

Murid-murid yang saya ingat di kelas ini ada banyak. Ada Bagus dan Samuel yang pandai. Khusus untuk yang terakhir, orang yang satu ini termasuk konyol juga. Lalu ada Reinhard yang kalem, pandai . . . menggambar dan berkepribadian supel. Ada Tomi yang punya kemauan keras untuk berbicara bahasa Inggris biarpun di harus bicara terpatah-patah, great trait. Yang pandai dan rajin adalah Kanya, Tara, dan Maryam. Jujur saja, untuk yang ketiga ini, cuma Tuhan yang tahu kenapa mereka betah berada di dalam kelas yang dipenuhi oleh orang-orang nyentrik dan gila. Saya yakin, ketiga-nya pasti heran bila kelas seperti ini bisa juga eksis dalam tempat kursus seperti LIA. Saya ingat Gandes yang sering datang terlambat tapi pandai dan rajin belajar, tapi tidak selalu rajin mengerkan PR (karena lupa). Yang cantik? Oh, jelas Intan (Smansa), Maryam (SMA 3), Kanya, dan Tara (keduanya SMA 39). They’re all beauty and brain.

Sedang Ruth, Rhea, Dian, dan Eci? Jujur saja, saya sempat tidak peduli lagi dengan mereka di Inter-3. Sikap yang mereka tunjukan sangat tidak saya sukai. Sering datang terlambat, padahal sebetulnya sudah datang sebelum bel. Pada akhirnya, saya dan mereka bisa juga menyesuaikan diri. Saya pun melihat bahwa mereka pun memiliki potensi yang sama dengan murid-murid lain di kelas ini, mereka bisa belajar dengan serius serta mampu mengerjakan tugas yang sulit sekalipun asal guru bisa mempercayai kemampuan mereka dan mampu menyerderhanakan konsep pelajaran yang sulit. Mereka berempat menjadi generator yang bisa menghidupkan suasan kelas lewat tingkah laku konyol dan komentar-komentar aneh mereka.

Guru lain mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengajar kelas ini, tetapi saya tidak mengalami kesulitan yang berarti. Kenapa? Saya pikir karena saya berbicara dalam bahasa mereka. Saya tahu kebutuhan mereka. Sayangnya, kebersamaan kami hanya berlangsung dua periode.

Higher Intermediate 1 dan 2, Sabtu, Term 2 dan 3 (2009)
Saya sudah beberapa kali mengajar Higher Intermediate sebelumnya dan tidak pernah mengalami masa-masa liar atau gila seperti yang pernah saya dapatka pada tingkat Elementary ataupun Intermediate. Mungkin ini disebabkan oleh suasana tingkat HI yang cenderung lebih serius, baik bagi guru dan juga murid. Kelas inipun tidak terkecuali, pada awalnya.

Kembali lagi, suasan kelas ini pada hari pertama cenderung formal. Saya kira ini adalah hasil dari kebiasaan mereka dengan guru sebelumnya. Biarpun begitu, proses suri-mawase di antara kami tidak memakan waktu lama karena begitu persamaan masing-masing ditemukan--santai dalam interaksi tapi serius dalam mengajar belajar, segalanya berlangsung tanpa hambatan berarti, business as usual.

Secara umum, murid-murid di kelas ini termasuk berkepribadian kalem, rajin dan tidak liar, dengan perkecualian Ayu dan Yoseph. Kepandaian mereka termasuk sedikit di atas rata-rata. Namun, di balik tampilan permukaan yang tenang, ada gairah besar dan menggelegak akan suasana belajar yang santai. Gairah besar ini adalah hasil penumpukan yang berlangsung dalam jangka waktu lama akibat penekan yang dilakukan secara sadar lantaran guru mereka sebelumnya cenderung serius dan otorites. Sayangnya, penumpukan gairah yang terlalu lama ini membuat bendungan di alam bawah sadar pikiran mereke mengalami tekanan kuat dan semakin lama gairah ini semakin bertambah, membuncah, dan akhirnya meluap begitu mereka menyadari seperti apa rupanya kepribadian saya, guru kelas mereka yang baru. CHAIN REACTION, there’s no way anybody could stop it. Akhirnya, ada juga guru yang bicara dalam bahasa mereka. Periode HI-1 adalah periode yang hebat, HI-2 adalah LUUUUAARRRRR BIASAAAAAA!!!!

Individu di kelas ini masih banyak yang saya ingat. Murid pria termasuk tenang dan tidak cerewet, seperti, Affan, Ilham, Echo, Bona, Ernest dan Yoga. Murid perempuan lebih mendominasi. Ada Aysha, Lusi yang wajahnya mirip wanita usia dua puluh tahun (padahal statusnya anak kelas 2 SMU), Amel, Caca, Isna, Lusi, Arini, Dibba, Eka, Fitri, dan Finggar. Yang paling pandai di kelas adalah Echo dan Aysha. Yang cantik, ya cuma Finggar saja, dia punya bentuk bibir yang unik. Akan tetapi, kepribadian murid di kelas secara umum merata--santai namun bisa serius--dan menjadikannya istimewa di mata saya. Kedekatan yang terjalin diantara saya dan murid-murid terjalin secara alamiah tanpa adanya suatu usaha ekstra dari saya. Yah, saya rasa ini karena saya menjalankan tugas saya dengan serius tanpa ada suatu kepura-puraan tertentu. Nampaknya, para murid ini melihatnya dan membalas dengan menunjukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam belajar.

Hari terakhir di kelas ini bukanlah hari yang saya suka untuk mengingatnya. Sayang sekali.

Comments (0)

Nov 14 / 3:58pm

Kelas Dalam Kenangan: Bagian 4

Tahun 2007 (Annus Mirabilis)
Ini adalah tahun terbaik karena saya mendapatkan kelas-kelas yang hebat sepanjang tahun tersebut, mulai dari tingkat SMP hingga SMA.

Intermediate 2, Selasa-Kamis, Term 1 (2007)
Sekali lagi kelas terbaik yang pernah saya ajar. Murid-muridnya bukan yang terpandai tapi mereka memiliki semangat yang tinggi. Hanya sedikit yang pandai sedangkan yang lain termasuk rata-rata. Jika mendapat guru yang baik dan mempu menyalurkan energi positif, murid yang rata-rata ini mampu menunjukan peningkatan prestasi belajar. Tapi jika mendapat guru yang memberikan energi negatif, kinerja mereka akan menurun. Ini akan terbukti saat kelas tersebut dipegang oleh guru lain di tingkat berikutnya.

Tokoh utama di kelas ini tidak ada karena semua murid memiliki banyak kesamaan sifat. Sekali lagi, yang diperlukan cuma sedikit percikan api untuk mengobarkan semangat belajar murid-murid ini. Inilah yang terjadi ketika saya menjadi wali kelas tersebut pada periode pembuka tahun ajaran 2007. Reaksi kimiawi di kelas ini sangat LUAR BIASA. Guru dan murid bisa berbaur dengan baik sebelum bulan pertama habis. Melaksanakan kegiatan belajar dalam bentuk apapun di kelas ini juga tidaklah sulit. Bahkan murid-murid yang lamban dalam belajar pun tidak mengalami kesulitan berarti saat mempelajari topik-topik yang sulit sekalipun.

Biarpun begitu ada beberapa individu yang saya ingat seperti Obed dan M. Fadli, murid paling pandai di kelas. Dari murid wanita, saya hanya ingat Aria yang bawel.

CIE 2, Selasa-Kamis, Term 2 (2007).
Kelas CIE yang satu ini termasuk unik karena saya tidak selalu mendapatkan kelas SMP yang muridnya begitu ceria seperti yang satu ini. Mayoritas murid didominasi kelompok wanita dan menyisakan lima kursi saja untuk kaum pria. Lucunya, murid pria di kelas ini termasuk pendiam sedang murid wanitanya adalah kelompok yang cerewet.

Pada periode ini saya berjumpa dengan Conny, Amel dan Nurul. Saya juga bertemu dengan Helena, murid pendiam tapi manis (dan ternyata juga Batak, tapi kok tidak terlihat dari wajah ya?). Conny sejak hari pertama sudah menunjukan sifatnya yang bawel dan ceria. Teman sekelasnya Nurul juga menjadi penyeimbang dari ego Conny. Seandainya salah satu dari mereka absen, kelas tidak menjadi begitu ramai. Biarpun begitu, kan masih ada Helena dengan senyumnya yang manis, :)

Nantinya, di CIE 6 saya bertemu lagi dengan Amel dan Helena. Hari terakhir mengajar di kelas ini tidak menggembirakan bagi saya.

Intermediate 3 dan 4, Selasa-Kamis, Term 2 & 3 (2007).
Kelas yang hebat dan menyenangkan. Saya mendapatkan kelas ini dengan cara yang curang. Seorang guru lain harusnya memegang kelas ini namun saya berhasil mengelabuinya sehingga kami pun bertukar kelas, masih dalam tingkat yang sama. Apa alasan bertukar adalah rahasia. Jika ingin tahu, harap pakai jalur pribadi (japri) (red: email atau chat).

Kembali lagi saya bertemu dengan Ola dan Ica, dulu kami pernah bersama-sama di CIE 1. Murid-murid di kelas ini termasuk rata-rata, dapat dihitung dengan jari siapa yang pandai serta serius belajar. Biarpun begitu, kelebihan kelas ini ada pada sifat muridnya yang suka cara belajar santai, tidak serius setiap saat. Budaya kelas ini cocok dengan sifat saya yang cenderung santai tapi serius dalam proses belajar. Kembali lagi, saya mengalami suasana yang sangat menyenangkan dalam interaksi bersama murid-murid. Setiap kegiatan belajar di kelas dapat berlangsung lancar tanpa menemui hambatan berarti. Dalam kelas ini, saya dapat menjalankan tuga mengajar dengan baik sementara murid dapat melaksanakan kegiatan belajar seperti yang sudah saya rencanakan.

Murid cantik di kelas ini cuma satu, Anisa aka Ica. Oh yeah, the whole universe in this class revolved around her. Bahkan Alwi pun paling sering bekerja satu kelompok dengannya. ;) Setelah mengajar dua kali, saya terpaksa berpisah dengan murid-murid menyenangkan di ruang 307. Indahnya, mereka memberikan saya sebuah hadiah yang memang saya selalu ingin untuk membelinya, sebuah penjepit dasi. Seolah-olah murid ini bisa membaca pikiran saya.

Intermediate 2, Sabtu, Term 4 (2007)
Kelas yang satu ini sebetulnya sudah saya ajar dari term 3 pada tahun yang sama. Namun, masa terbaik dan terindah justru terjadi pada term 4. Secara umum, murid di kelas ini termasuk diatas rata-rata. Hanya beberapa saja yang kurang begitu baik prestasinya. Meskipun kelas ini termasuk kelas cemerlang, karakter kelas ini justru termasuk santai. Lagi-lagi, saya mengalami momen terbaik dimana terjadi persenyawaan kimia yang baik antara diri saya dan murid-murid di kelas ini.

Komposisi murid di kelas ini kembali lagi didominasi wanita, kaum pria hanya sedikit--Budi, Edo, Yohan, ... (satu lagi lupa namanya). Ini masih lebih baik daripada Inter-1 dimana murid prianya cuma satu! Uniknya, kaum wanita di kelas ini tidak termasuk yang paling cerewet. Sedangkan, kaum prianya cenderung kalem.

Murid cantik di kelas ini jelas cuma Ilmah (red: cuma?). Iya dong, nggak ding. Tapi Ilmah adalah perpaduan dari kecantikan dan kepandaian. Ketrampilan bahasa Inggrisnya terbilang menonjol, begitu pula paras ayu wajahnya (brain and beauty). Hanya saja, Ilmah punya kebiasaan tidak lazim dimana ia bisa saja tiba-tiba berbicara sendiri di tengah-tengah porsi saya saat berbicara di depan kelas (seolah-olah ada sebuah impuls yang mendorong dia untuk bicara secara tiba-tiba, it was cute though) Untuk menghormati yang lain, ada Lintang yang imoet loetjoe dan Aulia yang cantik tapi kurus. Murid lain yang saya ingat adalah Sunny, Epiphania yang cerewet, Desi, Edo, Budi, Yohan, dan Ryna.

Ini adalah sebuah kelas yang selalu saya nanti-nantikan setiap minggunya. Sayang saya harus berpisah karena sudah dua kali mengajarnya berturu-turut.

Comments (0)

Nov 14 / 3:54pm

Kelas Dalam Kenangan: Bagian 3

Elementary 2, Senin-Rabu malam, Term something (2006)
Kelas ini tadinya bukan kelas saya. Saya mendapatkan kesempatan mengajar di kelas ini lantaran ada sang guru kelas, rekan kerja saya, melepaskannya karena memiliki kesibukan kerja di tempat lain. Ketika dia menawarkannya pada saya, saya langsung menjawab ya tanpa memikirkan tipe murid yang akan saya hadapi nantinya.

Mengapa kelas ini istimewa? Karena di kelas ini terjadi reaksi kimiawi yang SEMPURNA antara murid-muridnya dan guru kelas mereka yang baru, saya sendiri. Murid-murid di kelas ini sekilas terlihat baik, ramah dan penurut. Tapi, jauh di dalamnya, mereka adalah pribadi-pribadi yang konyol dan gila-gilaan. Begitu mereka mendapat guru dengan kepribadian yang aneh seperti saya, terjadilah reaksi kimia berantai yang luar biasa. This is one hell of a class, :) Cara mengajar saya yang tidak orthodoks juga cocok sekali dengan karakter kelas ini. Jadi, biarpun saya mengajar kelas ini di malam hari, jam 7 hingga 9 malam, saya justru merasa segar bugar setiap kali selesai mengajar.

Tokoh utama di kelas ini terbagi dua, murid laki-laki yang pandai tapi konyol, seperti Bagus, serta murid perempuan yang biasa saja tapi bawel seperti Lucy dan Gokvina. Tak seorangpun di kelas ini yang mengecewakan saya pada saat itu lantaran mereka, biarpun ramai, adalah murid yang bersemangat dan mudah dikelola dengan baik. Hari terakhir bersama mereka, meskipun mengecewakan, masih bisa saya lalui dengan riang gembira bersama murid-murid di kelas ini.

Intermediate 2, Senin-Rabu, Term Something (2006).
Secara umum, kelas ini seperti kelas El-2 saya yang di atas tapi dengan beberapa keunikan. Inilah pertama kalinya saya mengajar kelas yang populasi murid pria lebih banyak dari murid wanita. Jika saya tidak salah ingat, murid wanita hanya ada lima orang. Sisanya, murid pria. Bedanya, kepandaian murid-muridnya di atas rata-rata, baik murid laki-laki dan perempuan. Uniknya, kepandaian dalam prestasi belajar tidak membuat murid-murid ini pendiam. Mereka sendiri juga memiliki kepribadian yang konyol juga rupanya. Dan, sekali lagi terjadi reaksi kimiawi berantai di antara kami yang memberikan sumbangan banyak bagi perkembangan kegiatan mengajar belajar selama durasi tiga bulan di tahun 2007. Mengajar di kelas ini tidak sulit karena murid-muridnya sendiri termasuk pandai. Menjalin hubungan akrab dengan mereka pun juga tidak susah karena kami sudah memiliki beberpa kesamaan sifat.

Di kelas yang satu ini, saya kembali lagi bersua dengan Adi dan Boogie. Sifat mereka di kelas ini masih sama dengan ketika kami pertama kali bertemu di El-3. Selain mereka berdua, saya masih ingat dengan Bagus, tidak ada hubungan dengan Bagus di El 2, yang merupakan murid paling rajin, tidak pernah bolos, dan paling pandai, nilainya selalu di atas 4. Ada pula Jiwo yang gemuk dan pandai serta Alfons, murid laki-laki paling nyentrik lantaran selalu datang ke kelas dengan mengenakan warna pakaian yang sama (kaus Pink dan celana hitam). Untuk murid perempuan, di sini juga saya berkenalan dengan Indah yang secara keturunan Batak tapi dari segi fisik malah terlihat nJowo. Nantinya, saya belajar kalau Indah memiliki adik yang juga ikut kursus di LIA-Depok. Ini adalah kelas yang terbaik

Comments (0)

Nov 14 / 3:52pm

Kelas Dalam Kenangan: Bagian 2

Elementary 2, Sabtu, Term Something (2005)
Tidak sedikit guru yang mengeluh pada saat mendapatkan kelas tingkatan ini. Biarpun begitu, kelas ini termasuk yang paling menyenangkan bagi saya. Keistimewaan kelas ini ada pada semangat murid-muridnya yang baik pada setiap pertemuannya. Dari segi prestasi belajar, semua murid adalah rata-rata. Akan tetapi, energi positif yang terpancar dari diri setiap murid membuat kegiatan mengajar belajar berjalan baik dan menyenangkan. Mengajar topik yang sulit sekalipun tidak menemui hambatan yang berarti di kelas ini.

Ada murid wanita yang cantik? Tidak ada. Ya, betul-betul tidak ada yang istimewa. Biarpun begitu, jalinan hubungan baik yang ada diantara saya dan para murid membuat saya tidak pernah malas untuk datang mengajar karena keceriaan dan keriangan yang bisa saya dapatkan dari mereka. Murid-murid di kelas ini mudah diajak bercanda, Bahkan, mereka sendiri sering bercanda dengan sesama mereka, tentunya dalam suasana yang sehat. Tokoh utama yang paling saya ingat di kelas ini adalah Joy dan Echa Gwen, keduanya dari SMU PSKD Depok. Mereka bisa disebut sebagai motor dinamo kelas ini. Tanpa kehadiran mereka berdua, kelas menjadi terasa sepi. Ada pula enam murid lainnya, saya lupa nama mereka, yang juga menyenangkan dalam melakukan interaksi di dalam kelas. Meski saya sempat kecewa ketika berpisah dengan mereka, saya kembali lagi mendapatkan kesempatan untuk mengajar di kelas yang sama pada tingkat Elementary 3.

FSC 5 dan 6, Selasa-Kamis, Term Something (2005)
Ini adalah kelas paling GILA. GILA karena murid-muridnya aktif dan konyol dan mereka mendapat guru yang juga tidak ortodoks dalam mengajar. Keselarasan pribadi dari murid dan guru menciptakan kelas yang dinamis dan tidak pernah sepi. Bisa dibilang bila saya dan murid-murid dapat berinteraksi bagus dalam setiap pertemuannya. Selain kegiatan belajar yang dianamis dan hidup, murid serta saya juga biasa bertukar ledekan dalam batasan yang sehat. Saya yakin bahwa murid-murid di kelas ini pasti kaget mengetahui keberadaan guru seperti saya.

Murid yang cantik yah cuma Charity. Ini pun kami baru bertemu di FSC 6. Dari segi prestasi belajar, murid-murid di kelas ini bisa dibilang rata-rata, hanya segelintir saja yang pandai. Tapi, saat terakhir saya di kelas ini kurang saya sukai karena tingkah laku seorang murid yang terlalu berlebihan dan tidak sopan. Bagusnya, itu baru terjadi di hari-hari terakhir saja.

Elementary 3, Senin-Rabu, Term Something (2006)
Ini juga kelas yang mudah untuk diajar dari hari pertama. Muridnya beragam, anak sekolah hingga pegawai kantor, dan mudah sekali bagi saya untuk melakukan interaksi dengan mereka. Mengapa mudah? Biarpun kinerja mereka di kelas termasuk biasa-biasa saja, saya tidak mengalami kesulitan dalam membangun komunikasi yang baik dengan setiap individu di dalam kelas ini. Berkat hubungan yang baik, jumlah murid yang banyak (20 orang lebih) tidak memberikan hambatan dalam pengalaman saya mengajar mereka.

Tokoh-tokoh utama yang masih saya ingat di kelas ini adalah Boogie dan Adi. Ada juga yang lainnya, tapi hanya dua nama di atas saja yang saya ingat, mungkin karena mereka pernah saya ajar dua kali. Mereka berdua adalah pribadi-pribadi yang ramah dan menyenangkan. Boogie membuat kelas hidup dengan pembawaannya yang gaul serta Adi bisa membangkitkan tawa temannya lewat celetukannya yang khas tanpa membuat siapapun tersinggung. Murid perempuan yang cantik juga ada beberapa. Sayangnya, selain kecantikan, mereka tidak memiliki keistimewaan yang lain seperti cerdas ataupun pandai. Karena itu, saya tidak terlalu mengingat mereka.

Comments (0)

Nov 14 / 3:51pm

Kelas Dalam Kenangan: Bagian 1

Untuk sebuah kurun waktu yang belum lama, saya telah mengajar di LIA-Depok. Selama periode tersebut, saya telah mengajar kelas dengan rentang tingkatan dari SD hingga karyawan. Dari sekian banyak kelas yang saya telah saya pegang, beberapa meninggalkan kenangan yang masih membekas dalam ingatan saya. Kelas seperti inilah yang membuat saya selalu datang ke kelas tanpa ingin mengambil kesempatan untuk bolos satu pertemuan sekalipun. Juga kelas yang sesudah saya ajar pada satu pekan membuat saya menantikan kesempatan untuk bertemu mereka lagi di pekan berikutnya. Tulisan ini saya maksudkan sebagai catatan tentang kelas-kelas yang murid-muridnya saya ingat hingga sekarang, mengapa kelas tersebut masih saya kenang hingga sekarang.

Basic 1, Senin-Rabu, Term 4 (2004)
Secara alamiah, kelas ini adalah kelas yang paling saya ingat karena inilah kelas pertama yang saya ajar di LIA-Depok. Nama murid-muridnya sudah tidak terlalu saya ingat, tapi akan saya coba. Ada Ririn Nababan yang bawel dan bersemangat. Ada juga Auri yang, terlepas dari namanya yang berwibawa, memiliki sifat feminim. Saya masih ingat Eka, Dini K.U., 2 murid yang bernama Mozart, serta seorang murid keturunan Cina yang saya lupa namanya. Mereka semua adalah murid yang penuh semangat dan dapat menghidupkan kelas.

Dari segi kemampuan, kelas ini tidak jauh berbeda dari kelas lainnya. Murid-muridnya termasuk rata-rata. Segelintir dari mereka adalah murid-murid yang cerdas. Betul-betul tidak jauh berbeda dari kelas lain pada umumnya. Yang saya suka dari kelas ini adalah kemampuan alamiah murid-murid ini dalam menjalin hubungan yang baik dengan sesama mereka di dalam kelas tanpa membuat guru kelas harus bekerja keras untuk menghidupkan suasana kelas, padahal mereka semua baru pertama kali bertemu di tingkat Basic 1. Selain hal tersebut, saya menyukai kelas ini karena dapat mengajar mereka dengan santai serta bisa bercanda dengan mereka dalam setiap pertemuan kami. Tapi, saya hanya punya satu kesempatan saja untuk mengajar mereka.

Basic 1, Jumat, Term 4 (2004)
Ini juga kelas pertama yang saya ajar pada tahun pertama di LIA-Depok. Dari tingkat pencapaian prestasi akademik, mereka lebih baik daripada murid Basic 1 hari S-R yang saya ajar. Dari segi keceriaan, mereka tidak sebaik murid saya di S-R. Mungkin ini dikarenakan populasi murid perempuan yang lebih banyak daripada murid laki-laki, yang termasuk jenis pendiam dan sayangnya tidak sepandai teman sekelas mereka dari kelompok lawan jenis.

Mengapa saya mengenangnya? Karena di kelas ini terdapat beberapa kecantikan asli Indonesia yang sudah langka ditemui pada saat itu. Ada Eka Wulandari dan Tutut. Tutut yang paling saya ingat karena dia tidak hanya cantik tapi juga pandai. Fisik-nya bisa dibilang sempurna: wajah oval, kulit coklat gelap yang eksotis, rambut hitam lurus nan panjang. Betul-betul keindahan wanita Indonesia. Eka? Mungkin karena senyum seringainya yang unik. Dan juga yang tidak bisa dilewatkan adalah Erni seksi dan berpipi tembam. Oh ya, ada juga Celly yang hitam manis, imut dan pintar. Sayang, dia tidak lama belajar di Depok karena berhenti semenjak mulai kuliah. Bukanlah satu hal yang menyenangkan ketika saya berpisah dengan kelas ini.

Basic 3, Selasa-Kamis, Term 2 (2005)
Kelas menyenangkan yang pernah saya ajar. Di sini pulalah saya bertemu untuk pertama kalinya dengan Febri dan seorang temannya dari Mardi Yuana. Murid-muridnya termasuk rata-rata tapi mereka memiliki semangat belajar yang tidak pernah redup. Betul-betul kelas yang bersemangat. Yang diperlukan hanyalah percikan api dari sang guru kelas dan kelas ini sudah siap untuk diajar dan belajar. Uniknya, latar belakang murid ini juga beragam dimulai dari mereka yang baru pertama kali masuk LIA, pelajar SMU, mahasiswa dan murid yang mengulang kelas kembali. Biarpun begitu, semua orang dalam kelas dapat berbaur dengan cepat dan langsung menciptakan reaksi kimiawi yang luar biasa. Febri, teman sekolahnya dan satu mahasiswa Perbanas berhasil menciptakan suasana yang baik di dalam kelas.

Adakah kecantikan di dalam kelas ini? Tentu saja. Ada dua orang yang layak disebut yaitu Cassie dan Juwita. Keduanya cantik dan cerdas, beauty and brain. Selain itu mereka juga berkepribadian baik serta ramah. Juwita dan saya ternyata juga berbagi kegemaran yang sama dengan kebudayaan Jepang. Dia pernah meminjamkan CD Soundtrack Samurai X yang masih saya simpan, entah kapan bisa saya kembalikan. Sayang, saya hanya memegang kelas ini sekali saja.

Comments (0)

Nov 8 / 2:41am

Sentilan Humor Kartun Strip KOMPAS Minggu 8/11/09

Kartun lucu di Surat Kabar KOMPAS, Minggu 8/11/09. Kali ini komik strip Timun dan Sukribo menyentil kasus KPK-Polisi dengan cara yang sangat lucu, penulis skenario dan binatang yang dilindungi. Have a good laugh, Wak kak kak kak kak.

Filed under  //  humor   komik strip   Kompas   KPK   lucu   Polisi   politik   sentilan   Sukribo   TIMUN  

Comments (1)

Nov 7 / 3:11pm

Peta jalan kuliner Pesona Kuliner Depok

Halo lagi,

Setelah belajar dan mencoba beberapa kali, saya sudah berhasil membuat peta jalan dari tempat-tempat makan enak di daerah Depok. Peta jalannya belum lengkap tetapi sudah cukup baiklah. Secara berkala saya akan menambahkan beberapa tempat baru lainnya ke peta buatan saya. Silahkan diklik tautan di bawah ini dan mulailah penjelajahan kalian. :)

http://is.gd/4PQO2

Dan jangan lupa untuk mengunjungi alamat di bawah ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang tempat makan yang sudah saya buat di Google Map.

http://pesonakulinerdepok.posterous.com/

Terima kasih untuk perhatiannya, salam kuliner. ;)

Filed under  //  Depok   Indonesia   Pesona Kuliner Depok   peta jalan kuliner  

Comments (0)

Oct 29 / 9:00am

Ulasan Band Indie Indonesia (Bagian Satu)

Di Facebook, saya tergabung dengan kelompok penggemar band SORE. Setiap kali band tersebut melakukan kegiatan terkini, saya selalu mendapat berita lewat Inbox. Sekitar sepekan lalu, saya mendapat sebuah kiriman berita dari kelompok SORE dengan tautan yang berujung pada sebuah blog untuk kelompok musik indie dari Indonesia.

Setelah mengikuti tautan yang diberikan, saya mendapati itu adalah alamat blog yang mempromosikan kelompok musik indie Indonesia yang berbakat, Annemarie, Hazel Gazel, The Saymour, Bello and His Belly, Sindetosca, dan kompilasi album soundtrack Janji Joni. Selain mempromosikan band lewat tulisan pendek, blog ini juga memberikan akses bagi pembacanya untuk mengunduh beberapa rekaman gratis dari band-band yang disebutkan sebelumnya. Setelah mengunduh dan mendengarkan rekaman lagu digital format mp3 dari band-band indie Indonesia ini, saya berpendapat bahwa blog ini terlalu sayang untuk dilewatkan karena semua band yang dipromosikan adalah band-band hebat dan memiliki potensi berkembang yang sangat cerah.

Bicara soal mutu lagu, secara umum, rekaman dari band-band ini digarap dengan sangat baik, seperti Hazel Gazel, Bello and His Belly, Cascade. Tidak semua nomor yang ditampilkan berbentuk lagu, ada juga yang dalam komposisi instrumental. Dari hasil penelusuran di internet, saya mendapati bila band-band yang dimuat dalam blog ini adalah kelompok musik yang sudah lama terbentuk sehingga kemampuan mereka dalam membuat lagu dan menghasilkan rekaman memang sudah tidak perlu diragukan lagi.

Hazel Gazel
Ini adalah sebuah proyek musik terbaru dari tiga orang anggota band SORE dengan musisi lain dari berbagai aliran musik. Ada tiga lagu yang dibagikan secara gratis dan semuanya sangat bermutu tinggi. Di iTunes saya, saya memberikan empat bintang bagi Midday Lantern dan I Wearyour Light.

Mutu rekamannya bagus lantaran Hazel Gazel diawaki oleh musisi yang jempolan dan mahir dalam bidang mereka. SORE gitu lokh, :) Vocak khas dari Ade Paloh yang lembut dan lincah dalam memainkan teknik falsetto sangat memikat hati. Kehebatan Mondo Gascaro dalam membuat komposisi rumit namun indah semakin tajam terasah, salut. Ketiga bakat dari Sore beserta David Tarigan serta Bonky Leboy berhasil membuat tiga komposisi yang mampu membuat orang awam mengiranya sebagai hasil karya band luar negeri.

Annemarie
Band yang satu ini mengusung musik yang sederhana dan ceria. Kalau Anda tahu Mocca, maka Annemarie memiliki warna musik yang hampir sama, sekali lagi, hampir sama. Jika Hazel Gazel terasa berat, makan Annemarie memiliki melodi musik yang bisa diterima oleh siapa saja.

Di iTunes saya, Bubble Gum dan The Living Model mendapatkan empat bintang. Satu lagi yang saya jagokan adalah Won’t Be Nice. Ketiganya adalah lagu favorit saya dari album band ini, ABC on TV. Lagu-lagu lainnya termasuk bagus dan masuk kategor sedang buat saya, tiga bintang.

Sayangnya, meski band ini sudah terbentuk lama, beberapa kekurangan dari band ini masih terasa. Pertama, mutu vokalnya terasa rendah. Dengan pengalaman selama ini, harusnya vokalis dari band ini bisa berlatih untuk mengasah kemampuan vokalnya sehingga tidak selalu bernyanyi dengan suara rendah. Kedua, mutu rekamannya masih terasa sedang-sedang. Memang sih, merekam lagu dengan mutu tinggi tidak gampang. Biarpun begitu, band ini mestinya bisa mencari produser atau musisi berpengalaman yang bisa diajak bekerja sama dalam pembuatan album berikutnya.

Bello And His Belly
Dari band yang satu ini hanya dua lagu gratis saja yang dibagikan. Warna musiknya seperti Adtiya Sofyan, cederung istrumentalis. Bedanya, komposisi musiknya sudah lebih kompleks. Mutu rekamannya juga baik, sepertinya band ini mendapatkan produser musik yang tidak kalah bagusnya pula. Hanya saja, saya merasa mutu rekaman vokal di kedua lagu ini terasa lebih rendah daripada rekaman instrumen musiknya. Padahal, lirik lagunya termasuk bagus.

Kemampuan musikalitas band ini termasuk sangat baik. Para anggotanya saya rasa adalah musisi kawakan dan kaya akan pengalaman. Biarpun band indie biasanya berada dalam pengaruh band tertentu dari luar negeri, saya berpendapat Bello and His Belly sudah memiliki identitas musik sendiri.

Biarpun cuma dua lagu, keduan-duanya termasuk bagus. Love in Blue Screen adalah yang paling saya sukai karena kehandalan vokalisnya dalam memain melodi suaranya. Sedang She Keeps Herself Invisible lebih menonjolkan komposisi musik. Ini benar-benar band yang bagus dan bermasa depan cerah.

Cascade
Ini bukan band kacangan. Google menunjukan bahwa band ini sudah masuk dalam kompetisi LA Indiefest. Menang atau tidak, saya tidak tahu. Satu hal yang pasti, band ini memiliki banyak bakat hebat dari gitaris hingga vokalis.Nomor Midnight Sun bisa menunjukan hal tersebut dengan baik. Nomor lainnya yang saya rekomendasikan adalah Pieces of The World. Sisnya saya anggap lumayan.

Kekurangan dari band ini berdasar lagu yang sudah saya dengar ada pada mutu rekaman yang sepertinya lebih menomor satukan suara instrumen daripada suara vokal. Saya terkadang mendengar vokal penyanyi seperti timbul tenggelam dalam alunan instrumen musik band. Bisa jadi, rekaman dari band ini dibuat oleh mereka sendiri tanpa menggunakan produser profesional. Terlepas dari itu semua, saya melihat kemampuan band ini untuk menjulang di ajang musik indie termasuk besar. Lanjutkan, :)

The Saymour
Nah, yang satu ini adalah band Rock dengan pengaruh musik Punk. Setelah mendengar beberapa lagu, saya dapat merasakan warna The Clash, Back Home, serta Sex Pistol, I Can’t Decide It. Vokalis dari band ini ada dua dimana salah seorang mengikuti warna vokal dari Johnny Rotten. Sedangkan suara gitarnya seperti mengikuti nuansa dari The Rolling Stones.

Mutu rekamannya terbilang baik meski saya merasa distorsi suara gitar terlalu dilebihkan sehingga lirik lagu yang dinyanyikan malah kurang terdengar. Padahal, orang tidak cuma mendengar melodi musi saja pada saat mendengar lagu. Warna musik dari band ini juga belum terlihat karena saya masih merasakan adanya pengaruh dari band-band luar negeri pada The Saymour. Saya harap, lewat perjalanan waktu band ini akan mampu menemukan jati dirinya sendir yang akan membuatnya berbeda dari tidak dianggap band amatiran.


Sindetosca
Wah, yang satu ini bisa disebut sebagai aliran eksperimentatif. Nomor-nomor yang dibagikan secara gratis ini termasuk berat buat penggemar pemula dari band indie. Buat yang sudah terbiasa dengan aliran musik progresif, makan album dari Sindetosca tidak akan memberikan kesulitanyang berarti.

Secara umum, komposisi dalam album ini lebih memperlihatkan kemampuan dari sang awak band dalam menjelajahi kemampuan musikalitasnya. Saya tidak merasakan adanya sensasi istimewa dari setiap trek yang ada di album Sindetosca kali ini. Tapi, jika sudah matang, band ini akan mampu menbuat sebuah album yang akan menjulang hebat.

Sekianlah ulasan saya dari band-band yang termuat dalam blog Halfgift ini. Saya bukan pemerhati musik profesional. Jadi, tulisan yang saya buat ini sepenuhnya didasarkan atas pendapat pribadi dari pengetahun dan pengalaman yang saya miliki. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut, silahkan mengunjunginya.

Filed under  //  Annemarie   Bello and His Belly   Cascade   Hazel Gazel   Indoenesia   musik indie   Sindetosca   The Saymour  

Comments (0)

Oct 25 / 2:22am

Evolusi Gaya Menari

Dalam sebuah acara perlombaan pelawak, seorang peserta membuat pertunjukan tentang evolusi gaya menari dari jaman ke jaman, mulai tahun 50-an hingga yang terakhir. Sungguh suatu hal yang luar biasa melihat si pelawak yang memiliki perwakan biasa mampu melakukan berbagai macam gaya tari dengan tingkat kelenturan yang menyamai penari profesional. Selamat menikmati perjalanan waktu ini dan tertawa lebar. :D

Filed under  //  evolusi   gaya menari   lawakan   luar biasa   lucu  

Comments (0)

Oct 17 / 8:10am

Bayi Selamat Dari Tabrakan Maut Kereta Listrik

Kembali lagi, terbukti pernyataan yang mengatakan bila bayi selalu dilindungi oleh Malaikat.

Seorang bayi tiga tahun selamat dari kecelakaan mengerikan ketika bayi yang berada di dalam kereta terjatuh ke tengah rel dan ditubruk oleh kereta yang baru ...masuk stasiun.

Ajaibnya, meski kereta yang ditumpangi bayi hancur berkeping-keping, bayi itu sendiri selamat.

Filed under  //  bayi   keajaiban   kecelakaan   kereta   teledor  

Comments (0)