Ketika orang sedang keranjingan suatu produk teknologi, ia akan berbicara laksana seorang pengkhotbah tentang kelebihan produk tersebut. Apakah produk itu sebuah program atau barang, selama benda itu memudahkan seseorang dalam kehidupannya, ia pasti akan menyebarkan pengetahuan itu kepada orang-orang di sekitarnya dengan gigih. Tergantung dari cara ia melakukannya, pengetahuan yang ia berikan akan mendapat sambutan baik atau mendapat sambutan sinis.
Belakangan ini, banyak orang yang keranjingan berbicara soal ponsel Android. Para newbie atau fanboy ini, biasanya orang muda, suka bicara tentang kelebihan Android dengan semangat berapi-api dan menjelek-jelekan iOS dan Blacberry OS. Segala kelebihan Android akan dijual seperti sistem operasi terbuka yang mudah dimodifikasi sesuai keinginan pengguna, harga yang murah, dll.
Sayangnya, para newbie/fanboy ini cuma mampu berbicara di area teknis saja. Kalau ditanya lebih lanjut tentang rincian omongan mereka, mereka pasti kebingungan untuk menjabarkannya lebih lanjut. Emangnya teknologi itu cuma soal teknis doang? Di masa kini, kemajuan teknologi tidak lagi sekedar pada tataran teknis tapi juga akan ditantang dalam penerapannya di kehidupan nyata.
Karena itulah, saya tergelitik melihat pengkinian status seorang teman di Facebook dimana dia mengumandangkan kelebihan Android di atas iOS (dia tulis Apple) (red: Padahal Apple adalah merek bukan sistem operasi). Membaca tulisannya, saya jadi teringat diri saya dulu ketika baru pertama kali menggunakan komputer Apple. Pada saat itu, saya menjadi sangat sombong dan merasa OS X sebagai yang terbaik sedang Windows adalah jelek. Tingkah laku menyebalkan ini berlangsung lama hingga seorang teman berhasil membuat saya tersadar dengan cara yang pahit. Akhrinya saya sadar bahwa kesombongan terhadap sebuah sistem operasi komputer tidak selamanya dapat diterima oleh orang-orang di sekitar saya, yang seandainya punya duit pasti akan beli Macintosh juga. Karena tergelitik oleh status FB-nya yang terdengar bombastis serta terlalu percaya diri, saya menyentaknya untuk mengingatkan dia agar kakinya tetap berpijak di atas bumi.
Satu bagian yang menggelitik dari status teman saya di FB adalah frase "jangan terjebak merek" dan "melek teknologi". Mereka yang sudah matang pengetahuan seputar teknologi pasti tergelitk, tersenyum (sinis atau tidak), saat membacanya. Ya, tipikal fanboy/newbie sekali. Padahal kalau didebat lebih lanjut, bukankah membeli ponsel Blackberry, Nokia Lumia atau iPhone adalah sikap melek teknologi? Dari status FB-nya pula terbaca kalau teman saya ini memang belum matang pengetahuan teknologi (mungkin karena usianya masih muda). Kalau dilihat dari website yang ia tautkan di FB juga terlihat sumber pengetahuannya yang masih terbatas (saya tidak akan heran jika tautan yang ia pakai kebanyakan adalah yang muncul di halaman 1 Google :D ). Tentunya, ini adalah sikap yang alamiah, toh saya juga pernah duduk di posisinya.
Karena itu, janganlah terlalu pede bicara soal teknologi jika belum memiliki bekal pengetahuan yang memadai. Bicara soal belajar, manusia haruslah menggunakan seluruh panca indera yang telah dianugerahkan Tuhan. Jadi, belajar jangan pakai telinga doang (dengerin omongan orang doang)! Pakailah juga mata, membaca! Bahaya kalau sumber informasi diperoleh dari omongan orang saja karena orang yang membagi pengetahuan memiliki kebebasan untuk menyaring informasi mana yang boleh didengar dan informasi mana yang tidak boleh diketahui. Jadi, dalam hal belajar, kita jangan hanya mendengarkan omongan orang tapi juga membaca dari sumber lain untuk membuktikan kebenaran omongan orang tersebut. Setelah mendapat informasi dari apa yang ditulis dan diucapkan orang lain, manusia harus menggunakan nalarnya untuk menganalisa informasi yang sudah ia dapatkan. Itu baru pelajar paripurna!
Bersama dengan artikel ini, saya sertakan pula transkrip dari diskusi kami di FB tentang kelebihan Android lawan iOS. Saya serahkan penilaian akhir kepada Anda. Oh ya, bicara soal pengetahuan seputar teknologi, saya berikan daftar website berbobot yang layak menjadi acuan tentang hal-hal seputar teknologi.
CNet (Gadget, Fotografi, Komputer, Games, Aplikasi, dll)
PC World (Gadget, Fotografi, dan komputer)
Gizmodo (khusus membahasa gadget serta aspek sosial dan teknologi)
Engadget (segala hal tentang barang eletronik terbaru ada di sini)
Daring Fireball (blog dari John Gruber, seorang pakar teknologi bidang TI)
All Things D (laman resmi dari Walt Mossberg: jurnalis terkemuka seputar teknologi. Tidak ada barang elektronik terbaru yang tidak pernah ia gunakan). Masih ada jurnalis lainnya di laman ini.
Ars Technica (kalau suka baca ulasan epik, inilah tempatnya)
Gelapkan seluruh apartemen dengan menutup semua jendela dan buat sebuah lubang. Hasilnya. seluru apartemen dihias oleh pemandangan dari luar apartemen.
Gelapkan seluruh apartemen dengan menutup semua jendela dan buat sebuah lubang. Hasilnya. seluru apartemen dihias oleh pemandangan dari luar apartemen.
Belakangan ini media massa sibuk memberitakan rencana pemerintah dalam hal menaikkan harga jual BBM dalam negeri. Orang-orang awam juga ikut memperbincangkannya dan mulai berbelanja BBM mumpung harga jual masih murah (tidak sedikit pula yang berusaha menimbunnya). Produsen barang-barang kebutuhan sudah mulai pasang kuda-kuda dengan menaikan harga jual di toko dan pasar secara perlahan. Semenjak pemilu dan pilpres terakhir, rumor naiknya harga BBM selalu santer terdengar setiap tahunnya, biasanya rumor ini selalu muncul di antara kwartal pertama dan kedua (Maret-April). Lucunya, selama 2 tahun gosip ini tidak pernah terwujud dan tidak bisa dipastikan apakah tahun 2012 kenaikan BBM akan terlaksana atau tidak. Setelah melakukan renungan pribadi, saya malah menyangka rencana kenaikan BBM adalah skema besar untuk meningkatkan keuntungan sekelompok usaha yang penjualannya lesu di awal tahun. :)
Dari sudut pandang pribadi, isu kenaikan harga BBM sengaja dihembuskan untuk mendongkrak penjualan Pertamina. Alasannya sederhana, dengan adanya isu kenaikan BBM dan gencarnya pemberitaan di media massa, rakyat biasa yang memilki kendaraan otomotif akan terpacu untuk membeli BBM lebih sering daripada biasannya. Seandainya, seorang pengendara sepeda motor biasanya mengisi bensin 3 kali sepekan, isu kenaikan BBM membuat ia, mungkin, mengisi bensin 5 kali sepekan (meskipun bensin yang dia beli cuma 1 liter doang). Tentunya, meningkatkan kebiasaan beli bensin adalah upaya antisipasi terhadap kenaikan harga BBM. Siapa yang bisa meramalkan apakah pengumuman kenaikan BBM disiarkan malam ini, besok malam, atau malam lusa? Bayangkan bila ada 1 juta pengendara seperti illustrasi tersebut yang melakukan hal yang sama (kalikan 4 minggu), Pertamina pasti untung besar sekali karena penjualan BBM dalam negeri meningkat tajam. Laporan keuangan kwartal 1 tahun 2012 memang belum keluar, namun berita tentang antrian panjang pembelian BBM di beberapa daerah sudah cukup memberikan gambaran seperti apa keuntungan finansial yang didulang oleh BUMN migas Indonesia dalam kurun waktu 2 bulan saja. Pun jikalau kenaikan harga BBM tidak jadi dilakukan, Pertamina tetap untung besar berkat rush yang telah terjadi. Kalau keuntungan meningkat, laporan keungan pun mengkilap, nilai saham naik, dan rakyat dapat apa ya?
Selain Pertamina, gonjang ganjing kenaikan harga BBM juga memberikan keuntungan bagi industri perdagangan. Sudah menjadi kelaziman bila kenaikan harga BBM akan diikuti oleh kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. Jadi, sebelum harga dinaikan, masyarakat berondong-bondong meningkatkan belanja mereka sebagai antisipasi kenaikan harga. Tak heranlah jika belakangan ini teman-teman kita membeli beras, gula pasir, minyak goreng, kecap, saus, rokok, kaus kaki, sabun, sampo, dll selagi harga belum naik. Jika biasanya sebuah keluarga membeli bahan kebutuhan pokok untuk jatah sebulan, berita kenaikan harga yang sedang digoreng hangat di media mendorang keluarga tersebut meningkatkan belanja bahan kebutuhan pokok untuk 3 bulan, padahal sebulan belum tentu semuanya habis. Yang untung jelas produsen beras, kecap, minyak goreng, saus, dan . . . tentu saja supermarket serta pasar. Tidak cukup beli bahan kebutuhan pokok, penjualan pakaian dalam pun meningkat. Mumpung harga kolor belum naik, belilah kolor sekarang juga (jangan tunggu karetnya melar dulu). Pengelola supermarket serta pasar jelas untung besar karena ada peningkatan penjualan dalam kurun waktu 2 bulan. Yang omzet pendapatannya juga meningkat di bulan Maret dan April ini adalah pengelola parkir/tukang parkir :D
Bisnis layanan jasa juga mengalami perolehan laba yang meningkat cukup baik berkat isu kenaikan BBM. Sebagai contoh, dokter-dokter mulai sering dikunjungi pasien untuk pemeriksaan medis, mumpung tarif konsultasi belum naik. Bengkel mobil dan motor juga mulai dikunjungi pemilik kendaraan yang servis rutin atau ganti suku cadang, selagi masih pakai tarif lama. Salon dan tukang pangkas rambut juga lebih sering dikunjungi konsumen. Ahli ramal juga dapat rezeki untuk konsultasi tentang masa depan sesudah kenaikan BBM. Bahkan panti pijat pun mencetak untung lebih besar dari biasanya.
Ya itulah uraian saya tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik kenaikan BBM. Tentu saja, uraian di atas adalah asumsi saya sendiri. Benar tidaknya, cuma Tuhan yang tahu. Apakah masyarakat rugi dengan memperbanyak anggaran belanja di bulan Maret ini? Tidak juga. Seandainya harga BBM naik, masyarakat yang sudah memperbanyak bahan kebutuhan pokok di rumah masih mendapatkan selisih keuntungan dari harga lama. Mengganti suku cadang kendaraan sebelum BBM juga memberikan faedah baik kepada pemilik kendaraan pribadi. Melakukan pemeriksaan kesehatan dengan tarif lama juga bermanfaat karena Anda tahu kondisi kesehatan Anda terkini. Seandainya ada gangguan, setidaknya Anda bisa beli obat dengan harga lama kan? :) Kalau ada pendapat lain, silahkan tulis di kolom komentar, :)
Siapa bilang cuma Facebook yang mengumpulkan data pribadi Anda. Tahukah bila Google melakukan hal yang sama: mengkoleksi jejak dijital Anda di internet. Tanpa Anda sadari, ada fitur di Google yang jika dibiarkan On akan merekam semua website yang Anda kunjungi. Potensi bahaya dari hal ini adalah adanya kemungkinan Google menggunakan rekaman alamat website untuk membuat profil tentang diri Anda.
1. Pendengar Anda nyaman dengan pembicara yang kecepatan bicaranya sama dengan dirinya sendiri.
2. ...
3. Semakin cepat Anda bicara, semakin kecil kendali Anda pada komentar orang. Jadi berbicaralah dengan menggunakan ritme ketukan serta ambilah jeda sesaat di tengah pidato untuk membiarkan pendengar menyerap pesan-pesan Anda.
1. Pendengar Anda nyaman dengan pembicara yang kecepatan bicaranya sama dengan dirinya sendiri.
2. ...
3. Semakin cepat Anda bicara, semakin kecil kendali Anda pada komentar orang. Jadi berbicaralah dengan menggunakan ritme ketukan serta ambilah jeda sesaat di tengah pidato untuk membiarkan pendengar menyerap pesan-pesan Anda.
Ternyata aplikasi ini hanya bagus untuk WIndows tetapi tidak dengan Macintsoh. Saya memakai app ini pertama kalinya pada Windows 7. Lewat beberapa usaha, saya berhasil mengkoversi banyak berkas video dan audio ke dalam berbagai bentuk--AVI ke MP4, FLV ke AVI, DAT ke 3GP, MP4 ke MP3, AIFF ke MP3, dll. Dari segi GUI, aplikasi ini sangat mudah digunakan dan handal.
Sayangnya, Any Video Converter malah tidak berhasil menunjuka kehebatannya ketika di pakai di OS X, Snow Leopard. Lewat beberapa usaha, saya selalu gagal mengkonversi video dan audio dalam format berbeda-beda. Apabila aplikasi ini berhasil mengkoversi berkas audio/video, berkas hasil konversi malah gagal saat diputar dengan pemutar media seperti Quicktime atau iTunes. Sayang sekali, padahal aplikasi ini memiliki kemudahan dan GUI yang menarik dibandingkan MPEGStreamclip.
Saran saya, pengguna Macintosh sebaiknya pakai MPEGStreamclip atau Visual Hub untuk konversi video dan audio. Sedang Any Video Converter cukup dipakai di Windows saja. Saya belum tahu dengan Smart Converter.